Profil Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan

Home / Profil Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan

Lentera Ilmu dari Berjan yang Terus Menerangi Zaman.

Selamat datang di lembaran sejarah Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan. Sebuah institusi pendidikan Islam terkemuka yang telah mengukir jejak lebih dari satu setengah abad. Berlokasi di Dusun Berjan, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Purworejo, Jawa Tengah, An-Nawawi tidak hanya berdiri sebagai kompleks bangunan, melainkan sebagai manifestasi nyata dari semangat ketekunan, dedikasi pada ilmu agama dan komitmen tiada henti dalam mencetak generasi yang berintegritas dan berakhlak mulia.

Kisah perjalanannya adalah narasi inspiratif tentang visi seorang ulama, adaptasi di tengah dinamika zaman, dan warisan keilmuan yang terus menerangi. Dari cikal bakal yang sederhana, Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan telah tumbuh dan berkembang, menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dan spiritualitas yang tak lekang oleh waktu, senantiasa berkontribusi pada kemajuan umat, masyarakat dan bangsa Indonesia.

Periode K.H. Zarkasyi: Cikal Bakal dan Spirit Pendirian (1870 M)

Sejarah Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan tidak dapat dilepaskan dari sosok ulama kharismatik, Hadhratus Syaikh Zarkasyi (1830–1914). Pondok ini didirikan pada tahun 1870 Masehi oleh Syekh Zarkasyi di Dusun Berjan, Desa Gintungan, Gebang, Purworejo. Bermula dari sebuah surau bambu sederhana yang menjadi tempat ibadah sekaligus pusat dakwah Islam bagi masyarakat sekitar.

Surau itu dibangun beliau tidak lama setelah kepindahannya dari Baledono. Beliau merasa terpanggil untuk mendirikan tempat ibadah karena pada saat itu belum ada masjid atau langgar di wilayah Berjan. Di surau tersebut, beliau mengajarkan dasar-dasar tauhid dan ibadah praktis berdasarkan kitab Lathāif al-Thahārah karya Syekh Sholeh Darat Semarang, yang merupakan guru sekaligus sahabat seperjuangan beliau.

Syekh Zarkasyi juga dikenal sebagai penyebar Thariqat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah di wilayah Purworejo dan sekitarnya. Sanad keilmuan dan thariqah beliau berasal dari Syekh Abdul Karim Banten, Paman Syekh Nawawi Al-Bantani di Suq al-Lail, Makkah. Beliau membangun jejaring keilmuan dan spiritualitas Islam yang kelak berkembang lebih luas hingga lintas wilayah. Meski hanya sesekali tinggal di Berjan, pengaruh beliau begitu kuat. Beliau bahkan memberi nama pedukuhan itu sebagai “Berjan” yang berarti “sumbering kabejan” (sumber kemuliaan).

Periode K.H. Shiddieq: Fondasi Awal Pengembangan (1914–1947)

Tongkat estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh putra beliau, K.H. Shiddieq (1914–1947). K.H. Shiddieq dikenal sebagai mursyid Thariqat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, melanjutkan jejak spiritual dan keilmuan sang ayah. Di masa kepemimpinan beliau, sistem pendidikan mulai mengalami perubahan fundamental. Beberapa santri yang sebelumnya hanya datang saat pengajian mulai tinggal menetap di asrama sederhana. Kehidupan santri pun mulai terbagi menjadi dua golongan: santri mukim yang tinggal di pesantren, dan santri kalong yang datang dari luar.

Periode K.H. Nawawi: Lompatan Besar dan Modernisasi (1947–1982)

Lompatan besar dalam sejarah Pondok Pesantren An-Nawawi terjadi ketika K.H. Nawawi bin Shiddieq (1947–1982) memimpin. Beliau melakukan pembaruan menyeluruh tanpa meninggalkan akar tradisi salafiyah yang telah kokoh. Di bawah kepemimpinan beliau, pesantren mengalami transformasi signifikan:

  1. Nama pesantren diubah dari Miftahul Ulum menjadi Roudlotut Thullab (Taman Pelajar).
  2. Beliau menggagas dan mendirikan Pondok Pesantren Putri, sebuah langkah progresif untuk menyediakan pendidikan bagi santriwati.
  3. Sistem pembelajaran diintegrasikan dengan sistem klasikal atau madrasah, mendampingi metode tradisional bandongan dan sorogan.
  4. Pesantren mulai menerima lembaga pendidikan formal, seperti PGA (Pendidikan Guru Agama).
  5. Bahkan pada tahun 1977–1978, K.H. Nawawi menggagas pendirian fakultas syariah di lingkungan pesantren, menunjukkan visi jauh ke depan dalam pendidikan tinggi Islam.

Sejak saat itu, untuk mengenang dan menghormati jasa besar K.H. Nawawi dalam memodernisasi sistem pendidikan pondok tanpa kehilangan semangat spiritualnya, nama pesantren diabadikan menjadi An-Nawawi.

Kontribusi dan Warisan Abadi

Hingga kini, di bawah kepemimpinan pengasuh selanjutnya dan saat ini K.H. Achmad Chalwani (1982-sekarang), Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan terus berkembang dan beradaptasi. Sistem pendidikan beliau kini mengintegrasikan pendidikan formal (Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan Institut Agama Islam An-Nawawi Purworejo) dengan pendidikan Madrasah Diniyyah (Awwaliyah, Wustha, Ulya).

Setiap tanggal 16 Sya’ban, diselenggarakan Haul Muassis Pondok, mengenang kembali jasa-jasa mulia para pendiri dan pengasuh yang telah mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan pesantren. Pondok Pesantren An-Nawawi telah mencetak puluhan ribu alumni yang tersebar di berbagai bidang, dikenal dengan keilmuan, akhlak mulia, dan kontribusinya bagi masyarakat.

Penutup

Kisah Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan adalah arsip hidup tentang dedikasi, visi, dan adaptasi tanpa henti. Dari sebuah surau bambu sederhana yang didirikan oleh Syekh Zarkasyi pada tahun 1870 M, ia tumbuh menjadi sebuah mercusuar yang tak henti-hentinya memancarkan cahaya ilmu, membentuk karakter generasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan agama dan bangsa. An-Nawawi Berjan, sebuah lentera ilmu yang terus menyala, menerangi setiap langkah santrinya, dan setiap sudut zaman yang dilaluinya.