Memaknai Seperempat Abad di Tanah Perantauan
Bagi seorang santri perantau, jarak ribuan kilometer dari kampung halaman bukanlah sebuah alasan untuk berhenti berkarya. Di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo, kerinduan pada tanah kelahiran justru dilebur menjadi energi pengabdian yang luar biasa.
Semangat itulah yang tergambar jelas dalam perayaan Hari Lahir (Harlah) ke-25 Himpunan Santri Andalas (HISANDA). Memasuki usia perak ini, HISANDA mengangkat tema besar: “Bersama An Nawawi, HISANDA Berkarya dan Mengabdi”.
Tema ini bukanlah sekadar susunan kata indah, melainkan sebuah penegasan identitas. Bahwa keberagaman budaya dari saudara-saudara kita asal Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, melebur dalam satu ikatan ukhuwah. Perbedaan bukanlah jurang pemisah, melainkan kekayaan luar biasa yang kita “abdikan” kembali untuk kebesaran almamater tercinta.
Semarak Pra-Harlah: Dari Tradisi, Kompetisi, hingga Sinergi
Rangkaian Harlah ke-25 ini tidak hanya dirayakan dalam satu malam, melainkan diisi dengan rentetan Pra-Harlah yang padat, meriah, dan sarat makna selama kurang lebih 11 hari terakhir.
Kemeriahan dimulai pada 6 April melalui Opening Ceremony yang dilanjutkan dengan perlombaan tradisional Ngadep Dampar, sebuah tradisi khas pesantren yang menguji ketangkasan dan adab santri. Keesokan harinya, 7 April, suasana berubah syahdu sekaligus membanggakan lewat Lomba Kesenian Luar Jawa. Momen ini sukses membangkitkan kerinduan sekaligus kebanggaan akan kampung halaman lewat ragam budaya yang ditampilkan.
Tak berhenti di situ, pada 10 April, tensi acara memanas di lapangan olahraga melalui Hisanda Futsal Cup. Pertandingan ini semakin seru dengan adanya laga persahabatan antara Steering Committee (SC) melawan Pengurus Harian, yang menjadi simbol kuatnya sportivitas dan keakraban struktural.
Sebagai puncaknya pada masa Pra-Harlah, tanggal 11 April digelar Musyawarah Kubro. Bekerja sama dengan FBIAN (Forum Bahtsul Ilmi Andalas) dan berbagai himpunan daerah lainnya, acara ini menjadi bukti nyata pendewasaan HISANDA dalam berdiplomasi dan memperkuat sinergi organisasi tingkat daerah di lingkungan pesantren.
Menjaga nyala semangat selama sepekan penuh tentu bukan tanpa rintangan. Panitia harus berjibaku membagi waktu antara padatnya jadwal kuliah, ketatnya kewajiban di pesantren, hingga tanggung jawab teknis acara di tengah cuaca yang sedang panas-panasnya. Namun, rasa lelah itu terbayar lunas oleh antusiasme anggota.
Malam Puncak: Tangis Haru, Tawa, dan Teladan Khidmah
Klimaks dari seluruh rangkaian acara pecah pada Puncak Harlah yang dilaksanakan pada hari Jumat, 17 April 2026 di Gedung Auditorium IAI An-Nawawi Purworejo. Suasana emosional langsung terasa saat panitia menayangkan video profil perjalanan 25 tahun HISANDA. Penayangan ini seolah menjadi jembatan waktu yang menghubungkan sejarah panjang organisasi dengan visi para penerusnya hari ini. Turut ditayangkan pula kompilasi video juara perlombaan yang diraih anggota HISANDA beberapa bulan terakhir -baik di tingkat akidah maupun pesantren- sebagai bentuk apresiasi nyata atas prestasi mereka.
Menariknya, Acara puncak ini tidak hanya berisi momen haru. Sebuah persembahan drama dari anggota yang dikemas dengan unsur komedi sukses mencairkan suasana dan mengundang tawa lepas seluruh hadirin.
Keistimewaan Acara puncak semakin lengkap dengan hadirnya tokoh-tokoh penting, di antaranya Bapak Ato Ibnu Ribah selaku Kepala Pondok Pesantren Putra, serta jajaran alumni yang tetap setia mendampingi adik-adiknya.
Namun, sorotan utama sore itu tertuju pada kehadiran Dr. Imam Turmudzi sebagai narasumber. Beliau adalah sosok teladan pengabdian yang paripurna. Di tengah kesibukan luar biasanya sebagai Komisioner KPU Purworejo, beliau tetap memprioritaskan waktunya untuk mengabdi di An-Nawawi sebagai dosen setiap akhir pekan. Kehadiran beliau menampar kita dengan sebuah kenyataan indah: sesibuk apa pun kita di dunia luar, jalan pengabdian kepada pondok dan kiai harus selalu menjadi prioritas utama.
Harapan di Usia Perak
Melihat seluruh rangkaian dari Pra hingga Puncak Harlah, ada satu benang merah yang bisa ditarik: HISANDA telah berhasil menjadi “rumah kedua” yang produktif bagi santri luar Jawa.
Harlah ke-25 ini adalah kemenangan bersama. Mulai dari mereka yang berkeringat di lapangan futsal, unjuk gigi di panggung seni, hingga panitia yang kurang tidur di balik layar.
Semoga di usia perak ini, HISANDA terus konsisten mencetak kader-kader yang tidak hanya unggul secara akademis dan cekatan dalam berorganisasi, tetapi juga memiliki mentalitas khidmah (pengabdian) tanpa pamrih, sebagaimana yang dicontohkan para alumni dan asatidz kita.
Mari terus membawa semangat “Berkarya dan Mengabdi”, demi kebanggaan daerah asal, dan demi keberkahan abadi di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan.
Selamat Harlah ke-25, HISANDA. Jayalah selalu di tanah rantau!

Comment
Tetap semangat teman teman semua
Saya terharu dan bangga