Wahai nona manis,
Ada sebuah rahasia yang disimpan bulan April.
Tentang seorang putri yang tak lagi kecil.
Yang mekar bak bunga tulip di taman kastil.
Kala itu,
Matahari bersinar lebih lembut.
Menghapus sisa embun yang luruh.
Di ujung kelopak tulip yang sedang kuncup.
Bulan seolah berbisik,
Menyampaikan kabar gembira kepada angin
Bahwa tepat di tanggal dua puluh ini
Disaat bumi sedang berotasi musim, dan
Di antara celah-celah rintik yang dingin.
Membawa aroma tanah basah yang makin lama kian mengering.
Engkau terlahir,
Dari banyaknya helai-helai do’a yang dirajut mimpi.
Dari segenap harapan yang tumbuh, mengakar, dan melangit.
Engkau adalah anugerah terindah.
Dari sepanjang masa ke masa yang melejit.
Hari ini adalah jeda yang manis,
Dimana sang cakrawala menemani baskara hingga habis.
Sebagaimana langkah kecilmu yang dulu masih pesimis.
Di hari esok,
Langkahmu akan melampaui batas yang telah digaris.
Seperti halnya bunga tulip yang mekar perlahan.
Menolak untuk layu sebelum sempat memberi kemegahan.
Wahai nona manis.
Semesta tidak pernah terburu-buru,
Begitupun hidupmu yang sedang bersinar teduh.
Selamat menjemput usia baru.
Tempat segala warna sempurna dan utuh.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Penulis: Ana Rifqotul Mashfufah

Comment