Home / Kajian Masyayikh / Sejarah Bulan Muharram: Kemuliaan Tanggal 10 Muharram
Artikel Kajian Kajian Masyayikh

Sejarah Bulan Muharram: Kemuliaan Tanggal 10 Muharram

Istilah Suro

Bahasa arab dari angka 10 adalah “ʿĀsyūrāʾ” (عَاشُورَاء). Mulai tanggal satu hingga 30 Muharram -khususnya ditanggal 10- umat Islam berbondong-bondong ingin mendapatkan keberkahan di bulan mulia itu, terutama pada tanggal 10 tersebut.

Orang Jawa dahulu menyebut nama “ʿĀsyūrāʾ” (عَاشُورَاء) dengan sebutan “Suro” karena kesulitan dalam mengucapkannya secara lengkap. Akhirnya, mereka mengambil bagian tengah dari kata tersebut, yaitu “Suro”, sebagai bentuk penyebutan yang lebih mudah.

Pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa

Sebuah referensi kitab menyebutkan bahwa Allah Swt mempertemukan Nabi Adam dan Siti Hawa di bumi pada tanggal 10 Muharram. Ketika keduanya memakan buah khuldi di surga, Allah Swt menurunkan keduanya ke bumi. Nabi Adam diturunkan di wilayah Sri Lanka (India), sementara Siti Hawa diturunkan di Kota Jeddah, Mekah. Keduanya terpisah di bumi selama lebih dari 100 tahun. Selama waktu itu, Nabi Adam berjalan kaki mencari Siti Hawa, sambil terus berdoa kepada Allah Swt.

Doa yang dipanjatkan Nabi Adam ini bisa diamalkan juga ketika kita sedang berpisah dengan pasangan. Doa tersebut terabadikan dalam Al-Qur’an, yakni dalam Surah Al-A’raf

رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Doa ini dipanjatkan oleh Nabi Adam selama 100 tahun lamanya, agar bisa bertemu kembali dengan istrinya, yaitu Siti Hawa. Akhirnya, keduanya dipertemukan oleh Allah Swt di sebuah bukit kecil bernama Jabal Rahmah yang terletak di kota Mekah. Kata “Jabal” berarti gunung, sedangkan “rahmah” berarti kasih sayang. Bukit ini dinamakan demikian karena di tempat itulah Allah Swt mempertemukan kembali Nabi Adam dan Siti Hawa setelah sekian lama berpisah.

Pada saat berada di bawah Jabal Rahmah, Nabi Adam melihat Siti Hawa di puncak bukit tersebut. Kemudian Nabi Adam memanggilnya, lalu Siti Hawa dari atas mendengar panggilan tersebut dan membalas panggilannya. Nabi Adam berkata lagi “turunlah kemari,” Siti Hawa menjawabnya dengan berucap ”engkau saja yang naik.”

Makna dari percakapan diatas menunjukkan bahwa sebaiknya laki-laki yang lebih dulu mengajukan pinangan kepada perempuan, bukan sebaliknya. Itu sudah menjadi kebiasaan dan adab yang berlaku dalam masyarakat.

Awal Mula Puasa Ayyamul Bidh

Saat Nabi Adam dan Siti Hawa bertemu pada tanggal 10 Muharram, kondisi keduanya sudah tidak elok seperti di surga. Kondisi keduanya selama berpisah 100 tahun, seperti halnya ketika seseorang pergi ke hutan tanpa membawa bekal dan memiliki tempat singgah. Saat itu, Nabi Adam pun terkejut ketika melihat kembali Siti Hawa yang kehilangan kecantikannya, begitu pun sama dengan Siti Hawa saat melihat Nabi Adam.

Ziarah Kubur: Sunnah yang Pernah Dilarang, Kemudian Dianjurkan

Malaikat Jibril kemudian turun ke bumi dan menawarkan kepada Nabi Adam dan Siti Hawa, cara untuk mengembalikan kembali kulit dan wajah mereka seperti sediakala. Malaikat Jibril menyampaikan firman Allah Swt yang memerintahkan agar keduanya melaksanakan puasa selama tiga hari di setiap pertengahan bulan, yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15 pada bulan Hijriah.

Puasa ini dilakukan saat bulan sedang purnama -ketika malamnya terang oleh cahaya bulan, maka keesokan paginya mereka berpuasa. Dalam bahasa Arab, puasa ini dikenal dengan istilah صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ . Dalam tradisi Jawa, puasa ini dikenal juga dengan sebutan “puasa padang wulan” atau puasa bulan purnama.

Setelah itu, Nabi Adam dan Siti Hawa mengamalkan puasa tersebut dan akhirnya kulit dan wajah mereka kembali seperti sediakala.

Dari kisah diatas, maka kita disunahkan untuk mengamalkan puasa tersebut. Salah satu khasiatnya adalah untuk membersihkan kulit dan menghilangkan bercak sisik pada kulit.

Diterimanya Taubat Nabi Adam dan Siti Hawa

فَإِنَّهُ الْيَوْمُ الَّذِي تَابَ اللهُ فِيهِ عَلَى آدَمَ فَأَصْبَحَ صَفِيًّا

Ketika Ulama Mulai Ditinggalkan, 3 Petaka Ini Diam-Diam Mengintai Umat

“Sesungguhnya hari ini adalah hari di mana Allah menerima taubat Adam, maka Adam menjadi suci.”

Setelah Nabi Adam dan Siti Hawa bertemu kembali dan mengamalkan puasa bulan purnama, Allah Swt mengampuni dosa keduanya.

Nabi Idris Diangkat ke Langit

وَرَفَعَ فِيهِ إِدْرِيسَ مَكَانًا عَلِيًّا

“Dan Dia (Allah) mengangkat Idris ke tempat yang tinggi.” Q.S Maryam: 56-57

Dahulu, Nabi Idris pernah memohon kepada Malaikat Izrail agar mencabut nyawanya untuk sementara waktu dan kemudian mengembalikannya. Setelah itu, Nabi Idris diajak berkeliling ke dalam neraka dan surga. Ketika berada di surga, Nabi Idris enggan keluar kembali. Akhirnya, Malaikat Izrail mengadukan hal tersebut kepada Allah Swt, sehingga Nabi Idris diizinkan untuk tetap berada di surga, namun bukan di dalamnya, melainkan di bagian serambi surga.

Dengan demikian, terdapat empat nabi yang masih hidup hingga saat ini, yaitu Nabi Idris, Nabi Ilyas, Nabi Khidir, dan Nabi Isa. Keempat nabi ini semuanya memeluk agama Islam dan terkadang melaksanakan salat berjamaah bersama di Mekah.

Surutnya Bah Nabi Nuh

Selain itu, terdapat pula seorang nabi yang memperoleh mukjizat bertepatan dengan tanggal 10 Muharram, yaitu Nabi Nuh. Pada saat terjadi peristiwa banjir besar yang mengharuskan Nabi Nuh membangun kapal, tepat pada tanggal 10 Muharram air bah mulai surut. Nabi Nuh kemudian turun dari kapal dan memerintahkan kaumnya untuk memasak seluruh bahan makanan yang tersisa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Swt atas keselamatan dan kasih sayang-Nya.

Karena peristiwa itu terjadi pada tanggal 10 Muharram, maka tradisi “selametan Suro” yang kita kenal dan diamalkan sampai sekarang, memiliki akar sejarah dari kisah Nabi Nuh.

K.H. Achmad Chalwani pernah mendapatkan ijazah dari K.H. Ahmad Abdul Haq Watucongol terkait selametan Suro beserta jenis makanan yang disunnahkan untuk disajikan dalam tradisi tersebut, yaitu:

  • Jenang abang-putih, dengan jenang merah (abang) yang lebih banyak dan diletakkan di bagian bawah, lalu diberi jenang putih sedikit di atasnya, tepat di tengah-tengah.
  • Peyek kedelai hitam.
  • Kluban dengan telur ayam kampung -bukan telur ayam lehor atau ayam pedaging.
  • Sayur kluwih, dengan harapan mendapatkan kelebihan (kelewihan) dari Allah Swt.
  • Sayur lodeh dengan tujuh macam warna (lodeh werno pitu).
  • Ikan sungai seperti ikan kating dan sejenisnya.

Setelah dimasak jangan langsung dimakan tapi di beri doa terlebih dahulu salah satu doanya yaitu doa qunut nazilah.

Nabi Ibrahim Tak Terbakar Api

وَنَجَّىٰ إِبْرَاهِيمَ مِنَ النَّارِ

“Dan Dia (Allah) menyelamatkan Ibrahim dari api.”

Nabi Ibrahim ketika hendak dibakar oleh raja Namrud didalam api unggun besar, tepat pada tanggal 10 muharram, api yang membakar Nabi Ibrahim padam dan berhenti membakar, doanya diabadikan dalam Al-Qur’an yaitu:

يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

Artinya: “Hai api, jadilah kamu dingin dan keselamatan bagi Ibrahim!” Q.S. Al-Anbiya’: 69.

K.H. Achmad Chalwani berpesan, ketika sewaktu-waktu kita merasakan hawa yang panas atau menderita penyakit demam, dianjurkan untuk membaca doa tersebut.

Nabi Musa Menerima Kitab Taurat

وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ عَلَى مُوسَى فِيهِ

“Dan Kami menurunkan Taurat kepada Musa pada hari itu.”

Pada saat Allah Swt pertama kali menurunkan Kitab Taurat kepada Nabi Musa, peristiwa itu bertepatan dengan tanggal 10 Muharram. Masa itu, memang belum ada sistem penanggalan seperti sekarang, namun jika dihitung menurut kalender Hijriyah, waktu tersebut memang jatuh pada tanggal 10 Muharram.

Oleh karena itu, pada tanggal 10 Muharram, jangan lupa untuk membaca doanya Nabi Musa, yaitu:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” QS. Thaha: 25-28.

Dikutip dalam Pengajian rutin Ahad, Thoriqoh Qodiriyyah Wa Naqsabandiyyah An Nawawi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *