Kegelisahan Memasuki Dunia Kerja
Masa pencarian kerja bisa menjadi masa yang cukup melelahkan. Membuka satu lowongan, lalu berpindah ke lowongan lain, sering kali berarti berhadapan dengan deretan kualifikasi yang berbeda-beda. Kemampuan bahasa asing, penguasaan Microsoft Office, keterampilan digital, pengalaman kerja, hingga kompetensi teknis tertentu muncul sebagai persyaratan yang harus dipenuhi.
Di tengah proses itu, sebuah pertanyaan sederhana mulai muncul: sebenarnya, aku bisa apa?
Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu mudah ditemukan. Keterampilan apa yang sudah cukup matang untuk ditawarkan kepada dunia kerja? Pekerjaan seperti apa yang dapat dilakukan dengan kemampuan yang dimiliki? Dan bagi seseorang yang telah bertahun-tahun menempuh pendidikan formal sekaligus menjalani kehidupan sebagai santri, mungkin muncul pertanyaan lain: selama ini, bekal apa yang sebenarnya telah dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan setelah pendidikan selesai?
Kegelisahan seperti ini tentu tidak hanya dialami oleh alumni pesantren. Memasuki dunia kerja memang menjadi fase transisi yang tidak selalu mudah bagi banyak anak muda. Karena itu, kesulitan seseorang dalam memasuki dunia profesional tidak dapat serta-merta dijadikan alasan untuk menyimpulkan bahwa latar belakang pendidikannya gagal memberikan bekal.
Pesantren sebagai Ruang Pembentukan Bekal
Begitu pula dengan pesantren.
Pesantren memang tidak pernah hanya bertugas mempersiapkan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan. Selama bertahun-tahun, kehidupan di dalamnya membentuk banyak hal yang tidak selalu dapat dicantumkan dalam CV atau dibuktikan dengan sertifikat. Kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, kemampuan hidup bersama orang lain, hingga kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan merupakan sebagian dari bekal yang tumbuh melalui kehidupan sehari-hari seorang santri.
Kehidupan pesantren juga sebenarnya tidak miskin pengalaman yang dapat membentuk keterampilan. Menjadi bagian dari organisasi, mengurus administrasi, menyusun kegiatan, menjalankan kepanitiaan, memegang amanah, bermusyawarah, atau berbicara di depan umum merupakan bagian dari pengalaman yang dijalani banyak santri selama bertahun-tahun.
Sebuah penelitian pada 2024 dengan studi kasus di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo menemukan bahwa pengembangan soft skill dan hard skill telah dilakukan melalui berbagai kegiatan, mulai dari pendidikan formal dan nonformal, muhadharah, musyawarah, organisasi, pelatihan, hingga keterlibatan santri dalam unit usaha pondok.
Artinya, pengalaman seorang santri tidak sesederhana anggapan bahwa kehidupan di pesantren hanya membentuk kemampuan keagamaan. Banyak kemampuan lain yang sebenarnya tumbuh di dalam prosesnya.
Kompetensi yang Sering Tidak Disadari
Seorang santri yang pernah menjadi sekretaris organisasi, misalnya, mungkin telah terbiasa mengurus surat-menyurat dan administrasi. Seseorang yang aktif dalam kepanitiaan belajar membagi tugas, berkoordinasi, dan menyelesaikan persoalan. Muhadharah melatih keberanian berbicara di depan umum, sementara kehidupan bersama di pesantren melatih seseorang untuk hidup dan menyesuaikan diri dengan banyak karakter yang berbeda. Namun, ada satu persoalan yang mungkin jarang disadari.
Kemampuan-kemampuan tersebut tidak selalu dikenali sebagai sebuah kompetensi.
Seseorang bisa saja bertahun-tahun menjalankan berbagai tanggung jawab di pesantren, tetapi baru menyadari nilai dari pengalaman tersebut ketika memasuki dunia profesional dan diminta menjelaskan: apa yang pernah dikerjakan, kemampuan apa yang dimiliki, dan apa yang dapat ditawarkan.
Mengenal Dunia yang Belum Dikenal
Di titik inilah muncul pertanyaan yang menurut penulis penting untuk direnungkan: apakah para santri telah memiliki cukup kesempatan untuk mengenali kemampuan yang sedang mereka bangun sekaligus mengenal dunia yang mungkin akan mereka hadapi setelah keluar dari pesantren?
Pertanyaan ini bukan berarti pesantren harus berubah menjadi tempat pelatihan kerja. Tidak pula berarti setiap santri harus memiliki keterampilan yang sama atau diarahkan menuju profesi tertentu. Namun, mengenal berbagai kemungkinan kehidupan setelah pesantren dapat membantu seseorang mempersiapkan dirinya dengan lebih sadar.
Salah satu hal yang mungkin perlu mendapat perhatian adalah kesempatan untuk mengenal berbagai kemungkinan tersebut. Tidak semua orang tumbuh dengan gambaran yang luas mengenai dunia profesional. Berbagai profesi, bidang pekerjaan, jalur karier, bahkan keterampilan tertentu kadang baru benar-benar dikenal setelah seseorang keluar dari lingkungan pendidikan dan mulai mencarinya sendiri.
Padahal, sulit meminta seseorang mempersiapkan diri untuk sebuah dunia yang bahkan belum pernah diperkenalkan kepadanya. Bagaimana seseorang dapat mengetahui kemampuan apa yang perlu dikembangkan apabila ia belum mengetahui bidang apa saja yang mungkin dapat ia tekuni? Bagaimana seseorang dapat mulai belajar keterampilan tertentu apabila ia belum mengetahui bahwa keterampilan tersebut mungkin dibutuhkan dalam bidang yang menarik baginya?
Tidak Harus Menentukan Masa Depan Sejak Awal
Tidak semua santri harus mengetahui sejak awal akan menjadi apa di masa depan. Bahkan, tidak semua orang dewasa memiliki jawaban pasti tentang hal itu. Namun, setidaknya seorang santri dapat memiliki kesempatan untuk mengetahui bahwa pilihan-pilihan itu ada.
Seorang santri yang tertarik pada administrasi, misalnya, dapat mulai mengenal perangkat dan keterampilan perkantoran. Mereka yang tertarik pada teknologi dapat mencari tahu bidang dan kemampuan yang dibutuhkan. Mereka yang memiliki minat pada penelitian dapat mulai mengenal dunia akademik dan riset. Begitu pula dengan bidang pendidikan, industri kreatif, pemerintahan, bisnis, dan berbagai kemungkinan lainnya.
Karakter dan Keterampilan Tidak Perlu Dipertentangkan
Hal ini menjadi semakin relevan karena dunia kerja terus mengalami perubahan. The Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum memperkirakan bahwa 39 persen keterampilan inti pekerja akan mengalami perubahan hingga tahun 2030. Perkembangan teknologi mendorong meningkatnya kebutuhan terhadap keterampilan seperti AI dan big data, jaringan dan keamanan siber, serta literasi teknologi.
Di sisi lain, kemampuan seperti kreativitas, ketahanan, fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar juga diperkirakan semakin penting.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa karakter dan keterampilan tidak harus dipertentangkan.
Dunia kerja tidak hanya membutuhkan seseorang yang menguasai kemampuan teknis, tetapi juga seseorang yang mampu belajar, menyesuaikan diri, bekerja bersama orang lain, dan menghadapi perubahan. Dalam hal ini, beberapa nilai yang dibentuk melalui kehidupan pesantren justru memiliki relevansi yang kuat. Namun, fondasi tetap membutuhkan pengembangan.
Kemampuan beradaptasi perlu berjalan bersama kemampuan menghadapi teknologi baru. Kemampuan komunikasi perlu terus diasah sesuai dengan konteks yang lebih luas. Kedisiplinan dan tanggung jawab perlu berjalan bersama kompetensi profesional. Nilai dan karakter yang telah dibangun tidak perlu ditinggalkan, tetapi dapat menjadi dasar untuk mempelajari hal-hal baru.
Memelihara yang Baik, Menerima yang Lebih Baik
Pemikiran tersebut sebenarnya selaras dengan prinsip yang selama ini dikenal di lingkungan pesantren: al-muhafazhatu ‘ala al-qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah— Berpijak pada kebaikan lama dan bijak dalam merespon kekinian.
Berpijak pada nilai lama tidak harus berarti berhenti mengenal dunia baru.
Seorang santri dapat tetap membawa nilai, karakter, dan identitas yang dibentuk selama bertahun-tahun, sambil mempelajari bahasa asing, mengenal teknologi, memahami perkembangan dunia profesional, dan mengembangkan keterampilan sesuai dengan bidang yang ingin ditekuni.
Memperluas Cara Membayangkan Masa Depan
Keterbukaan terhadap berbagai kemungkinan juga dapat memperluas cara seorang santri membayangkan masa depannya. Sering kali, seseorang hanya mampu membayangkan jalan yang pernah dilihatnya. Ketika contoh yang tersedia terbatas, kemungkinan yang dapat dibayangkan pun ikut terbatas.
Di sinilah peran alumni menjadi penting.
Penelitian mengenai pengembangan soft skill dan hard skill di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan menunjukkan bahwa alumni telah berkiprah di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, politik, bisnis, dunia kreatif, akademik, hingga dakwah. Artinya, sebenarnya telah ada banyak jejak yang menunjukkan bahwa kehidupan setelah pesantren memiliki kemungkinan yang beragam.
Pertanyaannya kemudian bukan semata-mata apakah alumni tersebut ada.
Melainkan, apakah perjalanan mereka sudah cukup terlihat oleh santri yang masih berada di dalam pondok?
Alumni sebagai Jembatan
Seorang alumni yang bekerja di bidang tertentu dapat menjadi jembatan. Bukan sekadar untuk menceritakan keberhasilannya, tetapi juga untuk menunjukkan proses yang pernah dilaluinya. Santri dapat mengetahui seperti apa sebuah bidang pekerjaan, kemampuan apa yang dibutuhkan, bagaimana seseorang sampai di sana, dan apa yang mungkin dapat mulai dipersiapkan.
Kehadiran mereka bukan untuk membuat seluruh santri berlomba-lomba masuk ke perusahaan besar atau mengejar profesi tertentu. Nama tempat bekerja juga bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Namun, seorang santri seharusnya memiliki kebebasan untuk membayangkan masa depannya seluas mungkin.
Seorang alumni pesantren dapat memilih menjadi pendidik, pendakwah, akademisi, atau pengusaha. Namun, mereka juga dapat bekerja di pemerintahan, perusahaan nasional maupun internasional, lembaga penelitian, industri kreatif, bidang teknologi, dan berbagai ruang profesional lainnya.
Latar belakang pesantren tidak seharusnya membatasi kemungkinan tersebut.
Nilai Pesantren di Dunia yang Lebih Luas
Nilai yang dibawa dari pesantren tidak hanya dapat hadir di ruang-ruang keagamaan. Nilai tersebut juga dapat dibawa ke ruang rapat, kantor, sekolah, laboratorium, lembaga pemerintahan, dan berbagai tempat lain melalui cara seseorang bekerja, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, serta memberikan manfaat melalui bidang yang ditekuni. Dakwah tidak selalu harus dilakukan dari atas mimbar.
Tanggung Jawab Bersama
Mempersiapkan santri untuk menghadapi kehidupan setelah pesantren tentu tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Pesantren dapat terus membuka ruang bagi santri untuk mengenal perkembangan dunia dan berbagai kemungkinan masa depan. Alumni dapat menjadi jembatan dengan berbagi pengalaman dan memperlihatkan jalan-jalan yang mungkin belum pernah diketahui oleh generasi setelahnya.
Di sisi lain, santri sendiri juga perlu menyadari bahwa proses belajar tidak berhenti pada apa yang tersedia di lingkungan tempat mereka menempuh pendidikan. Mengenali minat, mencari informasi, belajar keterampilan baru, dan membuka diri terhadap perkembangan dapat dilakukan sedikit demi sedikit.
Tidak Harus Memiliki Semua Jawaban
Tidak semua orang harus keluar dari pesantren dengan seluruh jawaban tentang masa depannya. Tidak semua keterampilan juga harus dikuasai sebelum melangkah ke dunia luar. Ada banyak hal yang memang baru dapat dipelajari ketika seseorang benar-benar menjalani kehidupan setelah pendidikan.
Namun, setidaknya seseorang tidak harus memulai semuanya dari nol.
Akan lebih baik jika sebelum melangkah keluar, seorang santri telah memiliki kesempatan untuk mengenali sebagian dari bekal yang dimilikinya, melihat berbagai kemungkinan yang tersedia, dan mulai memikirkan kemampuan apa yang ingin dikembangkan.
Penutup: Membangun Jembatan
Dengan begitu, ketika waktunya tiba untuk meninggalkan pesantren dan pertanyaan “aku bisa apa?” muncul, pertanyaan tersebut tidak lagi menjadi awal dari kepanikan.
Melainkan awal dari sebuah proses untuk mengenali diri, mengembangkan kemampuan, dan menemukan tempat untuk mengambil peran di dunia yang lebih luas.
Karena mungkin, pesantren telah memberikan fondasi yang tidak kecil. Tantangan berikutnya bukan mengganti fondasi tersebut, melainkan membangun lebih banyak jembatan di atasnya.
Jembatan antara nilai dan kompetensi.
Antara karakter dan profesionalisme. Antara pengalaman selama di pesantren dan dunia yang menunggu setelahnya. Sebab, menjaga hal-hal baik dari masa lalu tidak berarti takut menghadapi masa depan.
Penulis : Affia Nuraihanum
Editor : Tim Jurnalistik An-Nawawi
Referensi :
1. Mukromin, Muhammad. (2024). Peran Pondok Pesantren dalam Meningkatkan Soft Skill dan Hard Skill bagi Santri untuk Menyongsong Era Indonesia Emas 2045 (Studi Kasus Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo). Universitas Islam Indonesia.
2. World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025.

Comment