Perjalanan hidup para ulama besar selalu meninggalkan jejak yang abadi bagi generasi setelahnya. Salah satunya adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, seorang tokoh sufi sekaligus ulama terkemuka yang dikenal luas. Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, ulama besar yang menjadi pendiri Tarekat Qadiriyyah, memiliki kisah hidup yang teladan sejak kelahirannya. Kiai Chalwani menuturkan orang yang menyebut nama orang soleh dan dibacakan sejarahnya, akan turun kasih sayang Allah Swt kepadanya.
إِذَا ذُكِرَ الصَّالِحُ نَزَلَتْ الرَّحْمَةُ
Yen ono wong soleh disebut asmane lan diwoco sejarahe, temurun gematine Gusti Allah. (Jika seorang yang saleh disebut namanya dan dibaca sejarahnya, maka rahmat Allah turun).
Selanjutnya, Kiai Chalwani menjelaskan bahwa syekh Abdul Qadir Al-Jilani lahir pada malam satu Ramadan, di dusun Jilan, Iran. Ayahnya bernama Sayyid Abu Shalih Janki Dausat, seorang yang dikenal taat beribadah, sementara ibunya adalah syarifah Fatimah yang memiliki julukan Yanah.
Menurut riwayat, sebelum kelahiran syekh Abdul Qadir, ayahnya bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ. dalam mimpi itu, Nabi ﷺ membawa kabar gembira bahwa anak yang sedang dikandung syarifah Fatimah, akan lahir sebagai seorang laki-laki dengan masa depan yang mulia. Lebih lanjut Kiai Chalwani menerangkan mengutip dari sabda Rasulullah ﷺ :
يَاوَلَدِيْ أَبَ الصَّالِح أَعْطَاكَ اللّٰهُ اِبْنًا وَهُوَ وَلَدِيْ وَمَحْبُوْبِيْ وَمَحْبُوْبُ اللهِ شَأْنُهُ مِنَ اْلأَوْلِيَاءِ وَالْأَقْطَابِ كَشَأْنِي بَيْنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالرُّسُلِ
Abu Shalih, anakmu kang bakal lahir kui, yo anakku dewe lan kekasihku (Allah Swt.) derajat anakmu dibanding poro wali podo koyo derajatku (Rasulullah ﷺ) dibanding poro nabi. (Abu Shalih, anakmu yang akan lahir itu sama seperti anakku sendiri dan kekasih-Nya. Derajat anakmu dibandingkan dengan para wali, sama seperti derajatnya Rasulullah ﷺ dibanding para nabi).
Lebih lanjut Kiai Chalwani menjelaskan bahwa syekh Abdul Qadir sejak bayi sudah menampakkan tanda-tanda keberkahan. Ia tidak pernah menyusu pada waktu sebelum Subuh hingga terbenamnya matahari, seolah sudah berpuasa sejak masih dalam buaian.
Masa kecil syekh Abdul Qadir dihabiskan sebagaimana anak-anak lain di desanya, yaitu menggembala kambing. Pada usia sebelas tahun, peristiwa luar biasa terjadi. Saat sedang menggembala, ia merasa mendapat nasihat dari seekor kambing yang menyuruhnya berhenti dari pekerjaannya itu. Syekh Abdul Qadir kecil pun malu karena seakan-akan diingatkan oleh hewan ternaknya sendiri. Tidak mengerti maksudnya, ia pulang dan menanyakan hal tersebut kepada ibunya.
Syarifah Fatimah, sang ibu, menjawab dengan bijak bahwa sudah tiba waktunya Abdul Qadir untuk menuntut ilmu. Mendengar nasihat itu, syekh Abdul Qadir pun memantapkan hati berangkat menuju Baghdad, pusat ilmu pengetahuan Islam kala itu. Dengan bekal delapan puluh (80 dinar) yang diberikan ibunya, ia memulai perjalanan panjang. Namun, di tengah perjalanan bersama rombongan kafilah, mereka dicegat oleh para perompak yang berjumlah empat puluh (40 orang). Syekh Abdul Qadir diintrogasi dan ia menjawab dengan jujur semua pertanyaan dari perompak bahwa ia membawa delapan puluh (80 dinar) uang yang menjadi bekalnya untuk menuntut ilmu.
Dari kejadian itu, ketua perompak berubah pikiran karena melihat kejujuran syekh Abdul Qadir dan ketua perompak menginstruksikan kepada anggotanya untuk ikut mengantarkan Syekh Abdul Qadir sampai ke baghdad.
Peristiwa ini menjadi salah satu ujian dalam perjalanan hidup sang ulama besar, sekaligus pembuka kisah panjang perjuangan beliau menuntut ilmu hingga kelak dikenal sebagai wali agung dunia Islam.

Comment