Tahun 2025 menjadi tahun yang istimewa bagi bangsa Indonesia, dan khususnya bagi kami kaum santri. Pemerintah melalui SK Presiden (Keppres) terbaru tahun 2025 telah menetapkan tokoh-tokoh besar sebagai Pahlawan Nasional, di antaranya adalah Syaikhona Kholil Bangkalan dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Kabar gembira ini seolah menyempurnakan “puzzle” sejarah perjuangan ulama di Nusantara. Mengapa? Karena jika kita tarik garis merahnya, kedua tokoh hebat yang baru saja dianugerahi gelar pahlawan tersebut bertemu pada satu titik sentral, yaitu Hadratussyekh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.
Sebagai santri, rasanya momen ini sangat tepat untuk kita kembali membuka lembaran sejarah (menilik profil) Sang Rais Akbar, KH. Hasyim Asy’ari. Bukan sekadar biografi, tapi melihat bagaimana beliau menjadi jembatan emas antara guru yang mulia (Syaikhona Kholil) dan generasi penerus yang visioner (Gus Dur).
Mata Rantai Emas: Guru, Murid, dan Cucu
Perlu kita ingat, KH. Hasyim Asy’ari sendiri sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak tahun 1964. Namun, SK Presiden tahun 2025 ini menjadi sangat emosional dan bermakna.
Di satu sisi, negara mengakui kepahlawanan Syaikhona Kholil Bangkalan, guru utama yang memberikan tongkat isyarat dan restu kepada Mbah Hasyim untuk mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Di sisi lain, negara juga mengakui Gus Dur, cucu kandung Mbah Hasyim yang meneruskan pemikiran humanisme Islam ke kancah dunia. Maka, berbicara tentang Mbah Hasyim hari ini bukan hanya bicara soal satu orang, melainkan bicara tentang keberkahan sanad ilmu dan perjuangan yang tidak terputus.
Masa Kecil dan Pengembaraan Ilmu
Lahir di Jombang pada 14 Februari 1871 (24 Dzulqa’dah 1287 H), KH. Hasyim Asy’ari tumbuh sebagai sosok yang haus ilmu. Beliau tidak hanya berdiam diri, tetapi melakukan rihlah (perjalanan) dari satu pesantren ke pesantren lain.
Salah satu fase terpenting adalah ketika beliau “nyantri” kepada Syaikhona Kholil di Bangkalan, Madura. Di sinilah karakter ketegasan dan spiritualitas beliau ditempa. Tak puas menimba ilmu di tanah air, beliau melanjutkan studi ke Mekkah dan berguru kepada ulama-ulama tersohor dunia seperti Syaikh Mahfudz at-Tarmasi dan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.
Tebuireng dan Nahdlatul Ulama
Sepulang dari Tanah Suci, Mbah Hasyim tidak memilih tempat yang nyaman untuk berdakwah. Beliau justru mendirikan Pesantren Tebuireng di lokasi yang saat itu dikenal sebagai sarang maksiat dan kriminalitas dekat pabrik gula. Dengan kesabaran luar biasa, beliau mengubah wajah Tebuireng menjadi pusat peradaban Islam.
Puncak dari perjuangan organisasi beliau terjadi pada 31 Januari 1926. Melihat perlunya wadah untuk menyatukan ulama dan menjaga kemurnian ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah gempuran ideologi baru global, beliau mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Hingga kini, beliau satu-satunya yang menyandang gelar Rais Akbar (Pemimpin Tertinggi) dalam sejarah NU.
Resolusi Jihad: Bukti Cinta Tanah Air
Bagi kita para santri, jargon Hubbul Wathon Minal Iman (Cinta Tanah Air sebagian dari Iman) bukan sekadar slogan, tapi darah daging perjuangan Mbah Hasyim.
Kontribusi terbesar beliau bagi tegaknya Republik Indonesia adalah fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini menegaskan bahwa membela tanah air dari penjajah hukumnya adalah Fardhu ‘Ain (wajib bagi setiap individu). Seruan inilah yang membakar semangat Arek-arek Suroboyo dan kaum santri untuk bertempur habis-habisan dalam pertempuran 10 November 1945.
Tanpa Resolusi Jihad Mbah Hasyim, mungkin sejarah kemerdekaan Indonesia akan bercerita lain.
Penutup: Teladan Bagi Santri Masa Kini
KH Hasyim Asy’ari wafat pada 25 Juli 1947, namun warisannya hidup abadi. Penganugerahan gelar pahlawan di tahun 2025 kepada guru dan cucu beliau semakin menegaskan bahwa jalan dakwah yang dirintis Mbah Hasyim adalah jalan yang benar, jalan yang membawa maslahat bagi agama dan bangsa.
Sebagai santri di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, sudah semestinya kita tidak hanya bangga, tetapi juga meneladani kegigihan beliau. Mari kita jadikan semangat Mbah Hasyim sebagai motivasi untuk terus mengaji, mengabdi, dan mencintai negeri ini tanpa tapi.
Lahumul Al-Fatihah.
Sumber Foto: wikipedia.org

Comment