Home / Artikel / Kubah Dandang: Simbol Keberkahan di Masjid Shiddieq Zarkasyi, Purworejo
Artikel

Kubah Dandang: Simbol Keberkahan di Masjid Shiddieq Zarkasyi, Purworejo

“Menghidupkan Tradisi untuk Masa Depan: Refleksi Pondok An-Nawawi Purworejo”

Pondok Pesantren An-Nawawi Purworejo didirikan oleh KH. Zarkasyi pada tahun 1870 di Berjan, Purworejo. Pesantren ini mengikuti manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah dan telah mengalami empat generasi kepemimpinan. Dari K.H. Zarkasyi, kepemimpinan diteruskan ke K.H. Shiddiq, lalu K.H. Nawawi, dan kini dipegang oleh K.H. Achmad Chalwani.

Di bawah kepemimpinan terakhir, pesantren ini berkembang pesat dan semakin dikenal luas, dengan tetap menjaga nilai-nilai salafiyah yang diwariskan para pendahulunya.

Sebagai pondok salaf, An-Nawawi Purworejo menjadikan penguatan ilmu-ilmu agama sebagai inti pendidikannya. Pembelajaran berpusat pada kajian kitab-kitab kuning berbahasa Arab, yang disampaikan melalui metode sorogan dan bandongan. Materi yang diajarkan meliputi fiqh, tafsir, hadits, tasawuf dan sebagainya.

Seiring perkembangan zaman, Pondok Pesantren An-Nawawi Purworejo juga menyelenggarakan pendidikan formal. Lembaga yang dinaungi meliputi MTs, MA, dan Institut Agama Islam An-Nawawi, yang terakreditasi dan mengikuti kurikulum merdeka. Pendidikan ini menjadi pelengkap bagi pengajaran salafiyah, agar santri siap menghadapi tantangan masa kini tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Salah satu ikon khas di lingkungan pondok ini adalah Masjid Shiddieq Zarkasyi. Masjid ini tidak hanya sebagai tempat ibadah bagi para santri, tetapi juga terbuka bagi masyarakat sekitar sebagai wujud kebersamaan. Keunikan masjid ini terletak pada kubahnya yang menyerupai dandang (alat masak tradisional Jawa) sehingga menarik perhatian secara visual dan budaya.

Bentuk kubah tersebut bukan hanya unik dari sisi arsitektur, tetapi juga sarat makna simbolis. Menurut cerita yang berkembang, K.H. Zarkasyi pendiri pondok dan masjid membangun masjid ini dengan niat tulus agar siapa pun yang datang ke Berjan merasakan wareg kabeh (kenyang semua), baik secara lahir maupun batin.

Kubah berbentuk dandang ini menjadi simbol kuat bahwa masjid tidak hanya sebagai tempat beribadah, tetapi juga sebagai pusat keberkahan, keramahan, dan kepedulian terhadap sesama.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *