Home / Artikel / Dari Lurah Pondok hingga Sahabat Sukarno: Kiprah Besar K.H. Abdul Wahab Hasbullah
Artikel

Dari Lurah Pondok hingga Sahabat Sukarno: Kiprah Besar K.H. Abdul Wahab Hasbullah

Pesantren sejak dulu sudah dikenal merupakan lembaga pendidikan yang memiliki semangat Nasionalisme. Tentu hal ini terdapat akar sejarah di dalamnya. Dimana banyak sekali tokoh-tokoh Kyai yang berjasa dalam perjuangan baik pra maupun pasca kemerdekaan. Salah satunya K.H. Abdul Wahab Hasbullah.

K.H. Abdul Wahab Hasbullah menempuh pendidikan agama di bawah asuhan K.H. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng. Selama empat tahun di pesantren tersebut, beliau menonjol dalam keilmuan dan kepemimpinan hingga dipercaya menjadi lurah pondok. Jabatan ini mencerminkan kepercayaan besar sang pendiri Tebuireng terhadap kemampuan dan integritasnya.1

Sepanjang hidupnya, Mbah Wahab senantiasa memikirkan kemaslahatan umat, kelangsungan pesantren, dan perkembangan Nahdlatul Ulama. Beliau mampu menjadikan NU tetap relevan di kancah politik tanpa kehilangan pijakan prinsip dasarnya. Sikapnya yang lentur namun tegas ini menjadi teladan bagaimana sebuah organisasi keagamaan dapat berperan aktif dalam kehidupan berbangsa tanpa terjebak dalam fanatisme politik.2

Kiai Wahab memiliki pandangan luas yang mencakup berbagai bidang, mulai dari agama, sosial, ekonomi, hingga urusan politik dan diplomasi. Ia merumuskan banyak pedoman untuk menghadapi persoalan umat, baik di tingkat lokal maupun internasional. Gagasannya menunjukkan kecerdasan dan visi jauh ke depan yang jarang dimiliki tokoh pada zamannya.3

Pada 1966, setelah peristiwa G30S/PKI, K.H. Abdul Wahab Hasbullah menuju Jakarta untuk menyampaikan aspirasi pembubaran PKI langsung kepada Presiden Sukarno. Sebelum pertemuan penting itu, beliau melakukan tirakat berupa wirid semalam penuh tanpa tidur sebagai persiapan batin. Hubungan beliau dengan Sukarno semakin erat sejak NU keluar dari Masyumi dan menanggapi gagasan “Nasakom”. Keduanya kerap berdiskusi secara serius tentang arah bangsa dan peran agama di dalamnya.4

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Kiprah K.H. Abdul Wahab Hasbullah mengajarkan bahwa kecerdasan berpikir harus berjalan beriringan dengan kekuatan spiritual dan keteguhan prinsip. Dari pesantren hingga panggung nasional, beliau menunjukkan bahwa seorang ulama tidak hanya bertugas mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menjaga arah bangsa dan memperjuangkan kebenaran dengan cara yang santun, strategis, dan penuh kebijaksanaan. Keteladanan beliau memberi pesan bahwa perjuangan harus dilakukan dengan hati yang ikhlas, pikiran yang jernih, dan langkah yang bijak—sebuah warisan nilai yang relevan bagi siapa pun yang ingin berkontribusi bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

  1. www.tebuireng.co ↩︎
  2. nursyamcentre.com ↩︎
  3. nursyamcentre.com ↩︎
  4. nu.or.id ↩︎

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *