Sosok dan Nasab
Syekh Kholil Bangkalan memiliki nama lengkap Muhammad Kholil. Beliau lahir di Kemayoran, Bangkalan, sekitar tahun 1835 M/9 Safar 1252 H. Ulama besar ini lebih dikenal dengan sebutan Syekh Kholil al-Bangkalani. Dari jalur ibu, nasab beliau bersambung kepada Sunan Gunung Jati, sedangkan dari jalur ayah terhubung dengan Sunan Kudus. Jika ditelusuri lebih jauh, garis keturunannya sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ . Syekh Kholil wafat pada tahun 1925 M/29 Ramadan 1343 H di Martajasah, Bangkalan.
Keistimewaan Keilmuan
Sejak kecil, Syekh Kholil telah menunjukkan semangat luar biasa dalam menuntut ilmu. Beliau menguasai ilmu nahwu dan fikih, bahkan sudah menghafal Alfiyah Ibnu Malik yang berjumlah 1002 bait. Keistimewaannya, beliau mampu menghafalnya secara terbalik (nyungsang). Selain itu, beliau juga seorang hafiz Al-Qur’an dengan penguasaan qira’at sab‘ah. Semua ini tak lepas dari didikan ketat ayahandanya, K.H. Abdul Latif.
Perjalanan Menuntut Ilmu di Nusantara
Sejak sekitar tahun 1850 M, Syekh Kholil menempuh pengembaraan ilmu di berbagai pesantren. Beliau nyantri di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, berguru kepada K.H. Muhammad Nur. Kemudian pindah ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, dan melanjutkan ke Pesantren Keboncandi. Selama di Keboncandi, beliau juga rutin belajar kepada Kiai Nur Hasan di Pesantren Sidogiri. Setiap kali menempuh perjalanan Keboncandi–Sidogiri yang berjarak sekitar tujuh kilometer, beliau selalu membaca Surah Yasin. Walaupun berasal dari keluarga cukup berada, Syekh Kholil tetap hidup mandiri dengan bekerja sebagai buruh batik dan juga memasak untuk sesama santri.
Pengembaraan Ilmu ke Tanah Suci
Pada usia 24 tahun, Syekh Kholil menikah dengan Nyai Raden Ayu Assek binti Ludrapati. Lima belas tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1859 M, beliau berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menimba ilmu. Biaya keberangkatannya diperoleh dari hasil menabung selama nyantri di Banyuwangi. Di Makkah, beliau berguru kepada ulama besar seperti :
- Syekh Nawawi al-Bantani
- Syekh Utsman bin Hasan ad-Dimyati
- Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan
- Syekh Mustafa bin Muhammad al-Afifi al-Makki dan
- Syekh Abdul Hamid bin Mahmud asy-Syarwani.
Selain itu, untuk mencukupi kebutuhan hidup, beliau bekerja sebagai penyalin kitab.
Kiprah Dakwah dan Pesantren
Sekembalinya dari Makkah, Syekh Kholil mendirikan pesantren setelah putrinya, Siti Khatimah, menikah dengan Kiai Muntaha, di Desa Cengkebuan, sekitar satu kilometer dari kampung halamannya. pesantren itu beliau serahkan kepada menantunya. Kemudian, beliau mendirikan pesantren baru di Kademangan, hanya sekitar 200 meter dari alun-alun Bangkalan.
Murid-Murid Besar
Dari pesantren yang beliau dirikan, lahirlah banyak ulama besar yang menjadi penerus perjuangannya. Di antaranya adalah
- K.H. Hasyim Asy‘ari (pendiri NU),
- K.H. Wahab Hasbullah,
- K.H. Ahmad Dahlan Termas,
- K.H. Bisri Mustofa,
- K.H. Munawwir,
- K.H. Manaf Abdul Karim,
- K.H. Ma‘sum Lasem,
- K.H. Mohammad Hasan Genggong, dan
- K.R. Alwi.
Karya-Karya
Syekh Kholil meninggalkan banyak karya tulis yang hingga kini masih dapat dipelajari, antara lain:
- Risālah fī Fiqh al-‘Ibādāt (13 Ramadan 1308 H)
- Risālah Isti‘dād al-Maut (3 Zulqaidah 1309 H)
- Taqrīrāt Alfiyah Ibnu Malik (Zulqaidah 1311 H)
- Taqrīrāt Nadzam Nuzhatut Thullāb fī Qawā‘id al-I‘rāb (1315 H)
- Nadzam Jawharat al-‘Iyan li Ahl al-‘Irfān (1315 H)
- Nadzam Maqsud fī ash-Sharf (5 Muharam 1316 H)
- Risālah Khutbah (19 Ramadan 1323 H)
- Karya lainnya, termasuk syarah kitab, makna kitab, hingga terjemah Al-Qur’an dalam bahasa Jawa.
Dimensi Tasawuf
Selain menguasai ilmu zahir, Syekh Kholil juga dikenal sebagai seorang sufi. Beliau berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Sambas dan mengikuti Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dengan demikian, beliau alim dalam ilmu lahir sekaligus mendalam dalam ilmu batin.
Meskipun telah wafat hampir satu abad lalu, keilmuan dan pengaruh Syekh Kholil tetap hidup. Seperti pepatah dalam syair Kitab ‘Alala :
أَخُو الْعِلْمِ حَيُّ خَالِدٌ بَعْدَ مَوْتِهِ # وَأَوْصَـالُهُ تَحْتَ التُّرَابِ رَمِيْـــــمُ
“Orang yang berilmu akan tetap hidup setelah matinya, walaupun tulang-tulangnya telah hancur di bawah bumi.”

Comment