Siapakah Gus Dur Itu?
Gus Dur, panggilan akrab dari Abdurrahman Wahid, lahir di Jombang pada 7 September 1940 (4 Sya’ban 1359 H). Ia merupakan putra dari Menteri Agama pertama, KH. Wahid Hasyim, sekaligus cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Lika-liku kehidupan dan latar belakangnya menjadikan ia tumbuh sebagai seseorang dengan keilmuan dan nasionalisme yang tinggi.
Perjalanan Intelektual
Gus Dur melalui berbagai perjalanan yang membentuk karakter dan pengetahuannya, antara lain:
Pada awalnya menempuh pendidikan sekolah dasar dengan pantauan dari ayahandanya.
Dilanjutkan ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama yang ia jalani di Yogyakarta. Ia tinggal di rumah Kiai Junaidi, seorang tokoh besar Muhammadiyah. Selain menempuh pendidikan formal, ia juga ngalong (istilah untuk santri yang tidak menetap di pondok pesantren) di Pondok Pesantren Krapyak di bawah pengasuhan KH. Munawwir. Ia lulus pada tahun 1957.
Setelah itu, Gus Dur melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Tegalrejo hingga 1959 di bawah pengasuhan Kiai Khudori.
Kemudian ia melanjutkan ke Pesantren Denanyar, Jombang.
Pada tahun 1959–1963, Gus Dur belajar di Pesantren Tambak Beras di bawah asuhan Kiai Wahab Chasbullah.
Pada tahun 1963, ia melanjutkan pendidikannya ke Mekah, di Universitas Al-Azhar.
Pendidikan terakhirnya ia tempuh di Universitas Al-Baghdad.
Latar belakang keluarga pesantren dan nasionalis membuat Gus Dur tumbuh dengan pandangan yang luas dan cinta tanah air yang mendalam.
Kiprah Sosial dan Politik
Gus Dur mulai dikenal luas ketika menjadi Ketua Umum PBNU pada tahun 1984. Ia menggagas konsep “Kembali ke Khittah 1926.” Pada titik itulah karier politiknya dimulai.
Ia mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada tahun 1998.
Pada Oktober 1999, ia terpilih sebagai Presiden RI ke-4 melalui Sidang Umum MPR tahun 1999.
Selain terkenal dengan jenakanya, ia juga dikenal melalui visinya:
Menghapus diskriminasi terhadap etnis Tionghoa dengan mencabut Instruksi Presiden No. 14/1967 dan menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional.
Mengakui Konghucu sebagai agama resmi negara.
Membuka ruang dialog bagi konflik di Aceh dan Papua dengan pendekatan kemanusiaan, bukan militer.
Membatasi campur tangan militer dalam politik, sebuah langkah besar menuju demokrasi yang sehat.
Mengapa Gus Dur Disebut Pahlawan Nasional
Gus Dur bukan sekadar pemimpin politik, tetapi penjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ia memperjuangkan:
Demokratisasi, dengan membuka ruang partisipasi rakyat pasca-Orde Baru.
Pluralisme, dengan membela minoritas agama, etnis, dan gender.
Nasionalisme, dengan menjaga keutuhan NKRI tanpa kekerasan.
Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22/TK/Tahun 2010, tertanggal 7 November 2010, tepat menjelang Hari Pahlawan. Pengakuan ini bukan hanya karena jabatan politiknya, tetapi juga karena nilai perjuangan moral, kemanusiaan, dan demokrasi yang diwariskannya.
Warisan Pemikiran
Gus Dur meninggalkan banyak karya tulis penting, seperti:
Islamku, Islam Anda, Islam Kita
Prisma Pemikiran Gus Dur
Tuhan Tidak Perlu Dibela
Membangun Demokrasi
Perjuangan Gus Dur menegaskan bahwa pahlawan tidak selalu harus mengangkat senjata, melainkan juga mereka yang berani melindungi hak semua manusia bahkan yang berbeda keyakinan dan pandangan.
Sumber Referensi:
- K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Sebagai Political Man, karya Moh. Ishamuddin (UIN Sunan Kalijaga, 2010).
- The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid Karya Greg Barton.
Sumber Foto: wikipedia.org

Comment