By: Soraya Anari
Saat lempeng-lempeng tektonik bertemu tanpa permisi
Saat laut-laut meluap melampaui batas janji, atau
Saat gunung berkedut ngeri menahan perih
Kita terlonjak dari gemerlap dunia yang fana
Tersadar dengan penuh
Bahwa di depan duka dan lara
Kita semua sama
Bukan perihal siapa yang paling serius mengaminkan, dan
Bukan soal dari belahan bumi mana pula doa dipanjatkan
Di antara puing, debu, batu dan sisa lumpur pekat yang teronggok diam
Kita menemukan kembali
Apa makna manusia itu sendiri
Solidaritas
Bukanlah sekedar kata yang terukir di atas batu
Ia adalah tangan yang terulur tanpa perlu diperintah
Ia adalah peluk yang hangat tanpa mengenal pamrih
Ia adalah pundak yang tegar bagi sanubari yang patah
Dari daratan Sabang yang rindang
Terlambung sebuah doa yang tenang
Hingga Merauke di tanah seberangTerpatri asa yang menggumpal
Duka di Sumatera adalah lara di Pulau Jawa
Luka di Palu adalah perih di Nusantara
Tangis di Merapi adalah sesak kita di ulu hati.
Kita adalah buah anyaman dari benang-benang ketabahan.
Yang akan menguat ketika ditarik cobaan
Sebab, Indonesia bukan hanya secuil keindahan
Tetapi, senyata aliran darah dan detak jantung
Yang satu dalam suka maupun kesedihan
Mari senantiasa merawat nyala ini
Sebelum bencana datang kembali
Mengetuk pintu tanpa permisi
Karena sejatinya . . . .
Kekuatan terbesar ibu pertiwi
Adalah saat kita berdiri bersama
Bahu membahu
Membangun sang negeri
Penulis: Ana Rifqotul Mashfufah

Comment