Purworejo, annawawiberjan.id (17/04/2026) Memasuki usia ke-66, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kembali menegaskan perannya sebagai organisasi kader yang tidak hanya kuat dalam wacana, tetapi juga hadir dalam aksi nyata. Tema “Aksi Nyata PMII untuk Indonesia” menjadi momentum refleksi sekaligus pijakan untuk mempertegas arah gerakan di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Ketua PB PMII, Sahabat M. Shofiyulloh Cokro, menegaskan bahwa di usia ini PMII dituntut untuk keluar dari zona nyaman intelektual dan benar-benar hadir sebagai solusi bagi masyarakat.
Ujian aksi nyata menuntut PMII untuk melampaui ‘menara gading’. Kita tidak boleh hanya menjadi pengamat masalah, tetapi harus menjadi penyedia solusi. Ujarnya kepada NU Online.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa PMII tidak boleh terjebak dalam diskursus tanpa implementasi. Di era sekarang, kader PMII dituntut mampu mengintegrasikan gagasan dengan tindakan nyata yang berdampak langsung di tengah masyarakat.
Semangat gerakan ini juga diperkuat oleh peran pembina organisasi. KH Achmad Chalwani, selaku MABINCAB PMII Purworejo dan MABINDA PMII Jawa Tengah, menegaskan pentingnya kesinambungan kaderisasi dalam tubuh Nahdlatul Ulama.
Santri-santri An-Nawawi, baik yang masih nyantri maupun yang sudah boyong, harus tetap berada dalam barisan Nahdlatul Ulama. Yang masih di tingkat MTs dan MA aktif di IPNU, yang mahasiswa tetap berproses di PMII, dan yang sudah boyong melanjutkan perjuangan di Ansor, Fatayat, maupun Muslimat.
Selain itu, dalam kontribusinya terhadap penguatan struktur kaderisasi di tingkat komisariat, beliau juga berperan dalam merumuskan penamaan rayon di PMII Komisariat An-Nawawi pada tahun 2021. Dua rayon tersebut yakni Rayon KH. Raden Damanhuri untuk Fakultas FTIK dan Dakwah, serta Rayon KH. Ahmad Maisur Sindi untuk Fakultas Syariah dan FEBI. Penamaan ini menjadi bagian dari penguatan identitas historis dan arah kaderisasi di lingkungan PMII.
Di tingkat cabang, arah gerakan PC PMII Purworejo di usia ke-66 ini difokuskan pada penguatan fondasi kader sekaligus perluasan peran sosial.
Ketua PC PMII Purworejo, Sahabat Fatkhu Rohman, merangkum strategi gerakan tersebut dalam tiga pilar utama.
Kami meneguhkan arah gerakan melalui tiga pilar: kaderisasi ideologis berbasis nilai Aswaja, penguatan kapasitas intelektual agar kader kritis dan solutif, serta pengabdian sosial sebagai bukti kehadiran PMII di tengah masyarakat.
Ia juga menegaskan bahwa kekuatan PMII Purworejo terletak pada karakter kadernya yang berbasis kultur santri serta tradisi intelektual yang kuat.
Dengan basis kultur santri dan tradisi literasi serta kajian sejarah, PMII Purworejo membangun gerakan yang tenang namun kritis, reflektif, dan tetap terarah dalam menjawab tantangan zaman.
Karakter tersebut menjadikan PMII Purworejo tidak hanya reaktif terhadap isu, tetapi mampu menghadirkan gagasan yang matang dan berlandaskan nilai. Sebagai organisasi mahasiswa terbesar di Kabupaten Purworejo, PMII juga memiliki peran strategis dalam melahirkan kader yang berkiprah di berbagai sektor, baik sosial, politik, intelektual, maupun ekonomi.
Momentum harlah ke-66 ini juga dimaknai sebagai ruang refleksi spiritual dan gerakan oleh Ketua PMII Komisariat An-Nawawi, Sahabat Akhmad Khalwani. Ia menegaskan pentingnya kembali pada nilai dasar gerakan PMII.
Harlah PMII tahun ini adalah momentum untuk meneguhkan kembali pada nilai-nilai dzikir, fikir, dan amal sholeh.
Ia juga mengingatkan bahwa kader PMII harus tetap menjadi pelita di tengah derasnya perubahan zaman.
Di tengah derasnya perubahan zaman yang semakin kencang, kader PMII harus tetap menjadi pelita, menjadi agen social of change, social of control, dan iron stock.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh kader untuk menjadikan momentum harlah sebagai ruang konsolidasi bersama.
Melalui harlah ini mari kita jadikan momentum untuk satu angkatan, satu jiwa, satu barisan, dan satu cita. Semoga sahabat-sahabat dapat memanfaatkan momentum ini dengan sebaik mungkin.
Pada akhirnya, harlah ke-66 PMII bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi menjadi penegasan arah gerakan. Bahwa PMII harus terus bergerak, mengakar pada nilai, kuat dalam gagasan, dan nyata dalam aksi.
PMII bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang bertumbuh dan mengabdi untuk Indonesia.

Comment