Home / Refleksi / Hakikat Kemerdekaan: Syukur, Agama, dan Cinta Tanah Air
Artikel Refleksi

Hakikat Kemerdekaan: Syukur, Agama, dan Cinta Tanah Air

Rotasi waktu sudah menunjukan bulan ke delapan, Agustus namanya. Selayaknya insan yang lahir dibulan Agustus, Negara Kesatuan Republik Indonesia juga akan bertambah usianya.

Bagi bangsa Indonesia bulan ini menjadi bulan yang penuh makna. Tepat 81 tahun yang lalu, Indonesia berhasil melepaskan diri dari belenggu kolonialisme belanda. Sebagai bangsa yang merdeka, kita patut berbahagia dan merayakan kemerdekaan ini sebagai ungkapan syukur atas anugerah kemerdekaan yang diberikan oleh Allah Swt.

Peringatan kemerdekaan bukan hanya menjadi wujud rasa syukur atas anugerah kebebasan, tetapi juga mencerminkan kecintaan terhadap tanah air sebagai bentuk nasionalisme. Nasionalisme sendiri merupakan sikap mencintai bangsa dan negara yang diwujudkan melalui komitmen untuk menjaga jati diri, keutuhan, serta mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Cinta tanah air adalah sikap alami yang muncul dari dalam diri manusia. Sikap ini tidak dilarang dalam Islam selama tidak bertentangan dengan ajaran atau nilai-nilai Islam. Kita sering mendengarkan pengajian K.H. Achmad Chalwani tentang hakikat kemerdekaan.

Rais ‘Ali Jatman menyampaikan hakekat kemerdekaan mengutip dari sayyidina Umar Bin Khattab.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

  • لَا حُرِّيَّةَ إِلَّا بِالدِّيْنِ
    Ora aran merdeko yen ora nglakoni agomo;
    (Tidak ada kemerdekaan, kecuali melakukan agama)
  • لَا دِيْنَ إِلَّا بِالْجَمَاعَةِ
    Ora aran nglakoni agomo kang sampurno yen ora tau kumpul-kumpul;
    (Tidak ada agama yang sempurna, kecuali dengan perkumpulan/organisasi)
  • لَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِالْإِمَارَةِ
    Ora aran kumpulan kang sampurna yen ora ono pemimpin;
    (Tidak ada perkumpulan yang sempurna, kecuali ada pemimpin)
  • لَا إِمَارَةَ إِلَّا بِالطَّاعَةِ
    Ora aran pemimpin kang sampurno yen ora dithoati;
    (Tidak ada pemimpin yang sempurna, kecuali yang dita’ati)
  • لَا طَاعَةَ إِلَّا بِالْعِلْمِ
    Ora aran thoat kang sampurno yen ora nganggo ilmu;
    (Tidak ada keta’atan yang sempurna, kecuali tanpa ilmu)

Perlu kita ketahui bersama, inti dari rangkaian kalimat tersebut diambil dari khutbah atau ucapan terkenal Umar bin Khattab yang diriwayatkan oleh Imam Ad-Darimi dalam kitab Sunan Ad-Darimi nomor 257. Adapun teks asli dari Sayyidina Umar berbunyi:

إِنَّهُ لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ ، وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ

“Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjamaah, tidak ada jamaah kecuali dengan kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan.”

Kemudian banyak ulama nusantara menambahkan bagian awal teks yang Anda sebutkan (لَا حُرِّيَّةَ إِلَّا بِالدِّيْنِ – Tidak ada kemerdekaan tanpa agama) serta bagian akhir (لَا طَاعَةَ إِلَّا بِالْعِلْمِ – Tidak ada ketaatan tanpa ilmu) merupakan kontekstualisasi dan gubahan yang sering digaungkan oleh para ulama Pesantren di Jawa.

Selain itu, penulis mencoba mengajak pembaca untuk merenungkan sejenak atas perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia:

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

1. Kemerdekaan Indonesia merupakan rahmat Allah SWT

Seperti yang abadikan secara eksplisit oleh para pendiri bangsa, dan hal ini termaktub dalam pembukaan Undang-undang dasar 1945 alenia ketiga, secara tegas mengatakan bahwa “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

2. Mengenang jasa pejuang kemerdekaan(syuhada) dan pahlawan kusuma bangsa

Sebagai generasi penerus, kita wajib bersyukur atas jasa para pejuang kemerdekaan. Tanpa perjuangan para pendahulu, mungkin hari ini kita kurang leluasa dalam menghirup udara di bumi pertiwi ini.

Maka, dari itu sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu mengenang dengan penuh syukur akan jasa dan perjuangan mereka.

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

3. Wujudnya mencintai tanah air

Dalam pandangan Islam, sebagaiamana dinyatakan oleh Prof. Dr. Quraish Shihab, bahwa mencintai tanah air kedudukannya dengan membela agama, hal ini diisyaratkan dalam Al-Quran surat Al Mumtahanah, ayat 8:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Selain daripada itu, dalam faham Ahlussunnah waljamaah, hubungan agama dan negara haruslah bersifat simbiosisme mutualisme atau kebersalingan untuk menjaga, menopang dan memperkuat kedudukan satu dengan yang lain. Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghozali menyatakan:

اَلدِّيْنُ والْمُلْكُ تَوْأَمَانِ، فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ، فَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

“Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar. Agama adalah fondasi dan penguasa adalah penjaga. Sesuatu yang tidak ada fondasinya pasti mudah roboh dan sesuatu yang tidak ada penjaganya pasti cepat sirna”.

Agama akan tumbuh bersemai di wilayah negara yang damai sebagaimana negara akan eksis dan diliputi keberkahan jika ditopang oleh spiritualitas dan ajaran agama yang kuat.

Untuk itu, marilah kita ingatkan kembali kepada diri kita dan segenap tumpah darah indonesia agar menjadikan momentum peringatan kemedekaan Republik Indonesia dengan terus bersyukur melalui upaya kita semua merawat NKRI, menghargai keragaman dan kemajmukan warga bangsa serta terus memberikan doa kebaikan dan keberkahan bagi negeri Indonesia dan para pemimpinnya, kiranya Allah Swt. senantiasa melindungi, memberkahi dan menjauhkan dari segala bencana, persetruan dan perpecahan. Amin.

Penulis: Muhammad Mukromim

Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *