Home / Artikel / Mengenal Lebih Dekat Sang Ulama Purworejo yang Jarang Diketahui serta Perannya dalam Menyebarkan Ajaran Islam
Artikel

Mengenal Lebih Dekat Sang Ulama Purworejo yang Jarang Diketahui serta Perannya dalam Menyebarkan Ajaran Islam

Biografi Singkat Sunan Geseng

Sunan Geseng dikenal sebagai salah satu tokoh penyebar Islam di tanah Jawa bagian tengah, terutama di wilayah Kabupaten Purworejo dan sekitarnya. Dalam sejumlah sumber lokal, nama asli beliau disebut Raden Cokrojoyo atau Raden Mas Cakrajaya, yang berasal dari daerah Kotesan, Bagelen, Purworejo.

Menurut cerita rakyat dan sumber lisan, beliau merupakan murid langsung dari Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang terkenal dengan metode dakwahnya yang menggunakan pendekatan budaya Jawa.

Dalam kisah yang diriwayatkan oleh KH. Achmad Chalwani Nawawi (Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo), diceritakan bahwa Sunan Geseng pada awalnya hanyalah seorang penyadap nira. Saat sedang bekerja, ia ditemui oleh Sunan Kalijaga dan diajari berdzikir sambil bekerja. KH. Achmad Chalwani menceritakan:

Sunan Geseng, kalau nderes (menyadap) kelapa supaya tidak capek, sambil melagukan bahasa Jawa: thung klonthang klanthung, wong nderes buntute bumbung.

Kemudian Sunan Kalijaga yang waktu itu sedang berdakwah di pesisir selatan Laut Jawa bertemu dan sempat mendengarkan tembangan Sunan Geseng tersebut. Akhirnya beliau menghampiri Sunan Geseng dan memberikan saran kepadanya bahwa tembangan tersebut perlu penambahan nilai-nilai keislaman, karena saat itu Sunan Geseng belum memeluk Islam.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Kemudian Sunan Kalijaga berkata lagi, nanti kalau mau berangkat nderes jangan lupa membaca Bismillahirrahmanirrahim.

Setelah itu, Sunan Geseng mengamalkan apa yang disarankan oleh Sunan Kalijaga. Alhasil, isi dari kelapa yang disadap Sunan Geseng berubah menjadi keping-keping emas saat beliau bangun dari tidurnya. Dari sini kita bisa mengetahui karamah dari Sunan Kalijaga yang mana karamah ini dahulu pernah beliau alami sewaktu berguru kepada Sunan Bonang.

إِنْكَارُ كَرَامَاتِ الْأَوْلِيَاءِ يُؤَدِّي إِلَى إِنْكَارِ مُعْجِزَاتِ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنْكَارُ مُعْجِزَاتِ الْأَنْبِيَاءِ مُفْسِدٌ لِلْإِيمَانِ.

“Ingkar terhadap keramatnya para wali dapat menyebabkan seseorang ingkar terhadap mukjizat para nabi. Jika sudah ingkar terhadap mukjizat para nabi, maka rusaklah imannya.” (KH. Achmad Chalwani).

Kisah tersebut menggambarkan bahwa dakwah Sunan Kalijaga dan Sunan Geseng menyatu dengan budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Dari sinilah muncul ciri khas dakwah mereka, agama tidak bertentangan dengan kerja dan kesederhanaan.1

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Peran Dakwah dan Hubungannya dengan Sunan Kalijaga

Sunan Geseng memiliki peran besar dalam meneruskan dakwah gurunya, Sunan Kalijaga, khususnya di wilayah pedalaman Jawa bagian selatan seperti Bagelen, Loano, Kebumen, dan Banyumas.

Menurut Direktorat Pelindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sunan Geseng tidak hanya dikenal sebagai “murid yang gosong badannya”, tetapi juga sebagai penyambung dakwah Sunan Kalijaga di daerah pedesaan.

Beliau menyebarkan Islam dengan cara yang halus, melalui kidung Jawa, tembang, dan perilaku sehari-hari. Dakwahnya mudah diterima masyarakat karena tidak menentang adat, melainkan menyesuaikan dengan budaya yang ada.

KH. Achmad Chalwani juga pernah menyinggung bahwa Sunan Geseng dikenal sangat ikhlas dan rendah hati. Dalam salah satu ceramahnya, beliau mengisahkan bahwa Sunan Geseng bahkan pernah menjadi panitia bagian konsumsi dalam sebuah acara keagamaan, yaitu nyadran, menunjukkan sifat pengabdian yang tidak membeda-bedakan jabatan dan kedudukan.

Sunan Geseng itu andap asor. Waktu ada acara pengajian besar, beliau ikut mengurusi bagian konsumsi, padahal beliau seorang wali. Ini contoh pengabdian tanpa pamrih. (KH. Achmad Chalwani, Berjan, Purworejo, 2023)

Pesan tersebut menunjukkan bahwa pengabdian dan kerendahan hati adalah ciri utama yang diwariskan Sunan Geseng kepada masyarakat dan santri-santri di wilayah Purworejo.

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Peninggalan dan Petilasan Sunan Geseng di Kabupaten Purworejo

Masjid Sunan Geseng (Bagelen)

Masjid ini terletak di Dusun Kauman Barat, Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo.

Masjid ini dibangun pada masa penyebaran Islam abad ke-15 dan kini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional berdasarkan SK Menteri Kebudayaan PM.57/PW.007/MKP/2010.2

Ciri khasnya adalah empat tiang utama dari kayu jati, atap limasan bertingkat, dan mustaka (mahkota atap) dari tanah liat. Di sekelilingnya terdapat petilasan tempat beliau bertapa dan berdzikir.3

Masjid Loano (Jami’ Al-Iman Loano)

Masjid Loano merupakan peninggalan lain yang kuat dikaitkan dengan Sunan Geseng. Masjid ini terletak di Desa Loano, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo.

Menurut sumber sejarah lokal, masjid ini dibangun sekitar tahun 1443 M / 847 H dan menjadi salah satu titik pusat dakwah beliau.4

Masjid ini dikenal dengan keaslian arsitektur kayunya serta ukiran lawas yang masih dipertahankan. Banyak peziarah dan jamaah datang untuk berdoa dan mengenang perjuangan Sunan Geseng.5

Selain dua masjid utama tersebut, di beberapa desa sekitar Bagelen dan Loano juga terdapat petilasan dan sumur tua yang diyakini sebagai peninggalan Sunan Geseng. Hal ini menjadi bagian penting dari wisata religi dan budaya Purworejo.

Tradisi dan Pengaruh Sosial

Masyarakat Purworejo hingga kini masih menjaga tradisi ziarah dan nyadran di petilasan Sunan Geseng setiap bulan Suro. Acara ini biasanya disertai doa bersama, tahlilan, dan sedekah makanan.6

Selain itu, pengaruh sosial beliau masih terasa pada kehidupan masyarakat yang meneladani kesederhanaan, kerja keras, dan keikhlasan. Banyak tokoh agama Purworejo yang menganggap Sunan Geseng sebagai simbol dakwah yang membumi dan merakyat.

Kesimpulan

Sunan Geseng adalah sosok penyebar Islam yang sederhana namun berpengaruh besar di wilayah Purworejo. Ia merupakan murid Sunan Kalijaga yang melanjutkan dakwah melalui pendekatan budaya dan kesederhanaan hidup.

Peninggalannya berupa masjid, petilasan, serta tradisi keagamaan membuktikan bahwa dakwah beliau tidak hanya meninggalkan bangunan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kerendahan hati, kerja keras, dan pengabdian.

Sebagaimana pesan KH. Achmad Chalwani:

Yang diukur bukan jabatan, tapi pengabdian. Sunan Geseng itu wali, tapi mau jadi panitia konsumsi. Itulah bukti bahwa kemuliaan bukan karena kedudukan, tapi karena pengabdian.

Pesan ini menjadi warisan berharga bagi masyarakat Purworejo untuk terus menjaga nilai-nilai luhur dakwah Sunan Geseng, sederhana, ikhlas, dan menyatu dengan kehidupan rakyat.

Sumber Referensi:

  1. Jurnal Parikesit, Universitas Gadjah Mada ↩︎
  2. referensi.data.kemdikbud.go.id ↩︎
  3. DetikNews ↩︎
  4. eprints.walisongo.ac.id ↩︎
  5. krjogja.com ↩︎
  6. pituruhnews.com ↩︎

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *