Home / Artikel / Purworejo Kota Pejuang: Kisah Inspiratif Pahlawan dari Tanah Bagelen
Artikel

Purworejo Kota Pejuang: Kisah Inspiratif Pahlawan dari Tanah Bagelen

Purworejo merupakan sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang dahulu, pada masa Kesultanan Mataram, tepatnya sebelum abad ke-19 masih dikenal dengan nama Bagelen. Saat ini, Bagelen hanya menjadi nama salah satu kecamatan di Kabupaten Purworejo.1 Wilayah ini tidak hanya kaya akan budaya dan tradisi keagamaan, tetapi juga melahirkan tokoh-tokoh besar yang memberikan kontribusi penting bagi perjalanan bangsa Indonesia.

Dari pahlawan revolusi Jenderal Ahmad Yani,2 pencipta lagu kebangsaan W. R. Soepratman,3 hingga ulama besar sekaligus pendiri Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdiyyah (JATMAN) K. H. Muhammad Nawawi Berjan.4 Purworejo layak disebut sebagai Kota Pejuang. Julukan ini bukan sekadar ungkapan kebanggaan lokal, tetapi berakar dari rekam jejak nyata perjuangan rakyat Purworejo dalam mempertahankan kedaulatan bangsa serta memperkuat karakter kebudayaan Indonesia.

Jejak Perjuangan Jenderal Ahmad Yani

Jenderal Ahmad Yani lahir di Jenar, Purworejo, pada 19 Juni 1922 M. Pada masa kecilnya, ia dikenal tekun, santun, dan disiplin. Pendidikan awalnya ditempuh di HIS dan MULO sebelum kemudian mengikuti pendidikan militer topografi di Malang.

Masuknya Jepang ke Indonesia membuat pendidikan militernya berubah arah dan ia kemudian bergabung dalam Pasukan Pembela Tanah Air (PETA), yang menjadi cikal bakal munculnya tokoh-tokoh militer nasional pada masa awal kemerdekaan.5

Setelah Proklamasi, Ahmad Yani turut membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) di wilayah Kedu dan memimpin Batalion III untuk menghadapi agresi Belanda. Ia tampil sebagai komandan pasukan yang tidak hanya memiliki kemampuan taktik, tetapi juga kepekaan sosial terhadap rakyat yang dilindunginya.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Dalam Agresi Militer I dan II, Ahmad Yani memimpin pertahanan Purwokerto dan daerah sekitarnya melalui strategi gerilya yang efektif sehingga menjadikannya salah satu figur penting dalam konsolidasi militer Republik Indonesia.6

Pada tahun 1962, Ahmad Yani diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dan menjadi salah satu tokoh yang tegas mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Sikapnya yang menolak gerakan politik-komunis membuatnya menjadi sasaran dalam peristiwa G30S/PKI. Beliau gugur pada malam tragis 1 Oktober 1965.

Atas jasa dan pengorbanannya, pemerintah menganugerahkan gelar Jenderal Anumerta dan menetapkannya sebagai Pahlawan Revolusi melalui Keputusan Presiden Nomor 111/KOTI/1965.7

Rumah masa kecilnya di Purworejo kini difungsikan sebagai museum dan tempat edukasi sejarah bagi pelajar serta masyarakat. Tempat tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak hanya milik masa lalu, tetapi juga harus diwariskan kepada generasi berikutnya. Hingga kini, Ahmad Yani dikenang sebagai simbol keberanian, integritas, dan kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.8

W. R. Soepratman: Nada yang Menjadi Jiwa Persatuan Bangsa

Selama ini, sejarah mencatat bahwa W. R. Supratman lahir pada 9 Maret 1903 di Jatinegara, Jakarta. Namun, berdasarkan penelitian para pakar sejarah di Kabupaten Purworejo, diketahui bahwa W. R. Supratman lahir pada Kamis Wage, 19 Maret 1903 di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.9

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Lingkungan pegunungan yang teduh serta masyarakat yang religius membentuk kepekaan jiwanya terhadap nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Sejak kecil, ia telah mencintai musik dan mempelajari biola, yang kelak menjadi bahasa perjuangan yang ia pilih.

Soepratman memahami bahwa rakyat Indonesia tidak hanya memerlukan perjuangan fisik untuk merdeka, tetapi juga kesadaran sebagai bangsa yang satu dalam identitas dan tujuan.10

Karya monumentalnya, “Indonesia Raya,” pertama kali diperdengarkan pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Lagu tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi merupakan manifestasi persatuan nasional.

Lagu itu menjadi simbol bahwa Indonesia adalah satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa. Sejak saat itu pula lagu “Indonesia Raya” menjadi sumber inspirasi dalam perjuangan kemerdekaan. Namun, pemerintah kolonial segera menganggap lagu tersebut sebagai ancaman politik. Versi vokalnya dilarang karena dianggap dapat membangkitkan semangat persatuan dan perlawanan rakyat.11

Selain itu, lagu-lagu seperti “Di Timur Matahari,” “Ibu Kita Kartini,” dan “Raihlah Kemerdekaan” turut menanamkan semangat kebangsaan serta kecintaan kepada tanah air melalui medium seni yang halus namun menggugah.12

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Larangan terhadap lagu “Indonesia Raya” menunjukkan bahwa musik dapat menjadi kekuatan yang ditakuti penjajah karena mampu membangkitkan kesadaran dan keberanian rakyat untuk bersatu. Oleh karena itu, W. R. Soepratman dikenang sebagai seniman pejuang yang memilih melodi sebagai jalan perjuangan.

Warisan perjuangannya hidup setiap kali lagu “Indonesia Raya” dikumandangkan sebagai bukti bahwa kemerdekaan lahir bukan hanya dari senjata, tetapi juga dari kekuatan jiwa dan budaya bangsa.

Perjuangan Spiritual dan Keilmuan KH. Muhammad Nawawi bin Muhammad Shiddieq

Selain melahirkan pahlawan militer, Purworejo juga dikenal sebagai tanah kelahiran para ulama besar yang membawa cahaya ilmu dan spiritualitas. Salah satunya adalah KH. Muhammad Nawawi, yang lahir di Berjan, Purworejo, pada hari Selasa Kliwon tanggal 10 Januari 1916 M./1334 H, dari keluarga terpandang yang memiliki garis nasab hingga Sultan Agung Mataram melalui jalur ayahnya.13

KH. Nawawi dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, sebuah lembaga yang hingga kini menjadi pusat pendidikan Islam dan dakwah.14 Selain mendidik ratusan santri, beliau juga berperan dalam penyebaran Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah yang menekankan keseimbangan antara zikir, ilmu, dan pengabdian sosial.15

Warisan keilmuan dan spiritual KH. Nawawi kini diteruskan oleh para penerus dan dzurriyahnya melalui lembaga-lembaga pendidikan yang terus berkembang, termasuk IAI An-Nawawi Purworejo. Lembaga ini menjadi salah satu institusi pendidikan tinggi Islam di Purworejo yang berorientasi pada penguatan tradisi pesantren dan pengembangan intelektual generasi muda.16

Dengan demikian, KH. Muhammad Nawawi bukan hanya pendiri pesantren, tetapi juga arsitek pembinaan moral masyarakat. Ajaran dan teladan beliau telah menjadi fondasi penting bagi perkembangan Islam moderat di Jawa Tengah serta mempertegas pesan bahwa ilmu dan spiritualitas merupakan dua pilar yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan umat.

Sumber Referensi:

  1. Asal-usul Nama dan Sejarah Purworejo. Kompas.com. 10 Februari 2022, https://www.kompas.com/stori/read/2022/02/10/110000679/asal-usul-nama-dan-sejarah-purworejo. ↩︎
  2. Biografi Jenderal Ahmad Yani, Perjalanan Pahlawan Revolusi Nasional. iNews.id. https://www.inews.id/news/nasional/biografi-jenderal-ahmad-yani-perjalanan-pahlawan-revolusi-nasional. ↩︎
  3. Biografi W.R. Supratman. Gramedia Literasi https://www.gramedia.com/literasi/biografi-wr-supratman. ↩︎
  4. Sejarah dan Nama-nama Pendiri JATMAN (Thoriqoh Mutabaroh NU). VartaDIY https://www.vartadiy.com/varta/pr-4405151660/sejarah-dan-nama-nama-pendiri-jatman-thoriqoh-mutabaroh-nu?page=2. ↩︎
  5. Andi Purwanto, Subaryana, & Y.B. Jurahman. Jendral Ahmad Yani dan Peranannya dalam Mempertahankan RI. RINONTE: Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah. Vol. 1, No. 1. April 2020. Hlm. 49. ↩︎
  6. Ibid. Hlm. 51. ↩︎
  7. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 111/KOTI/1965 Tentang Penetapan Pahlawan Revolusi. ↩︎
  8. Dinas Pariwisata Purworejo. Museum Ahmad Yani. ↩︎
  9. W.R. Supratman Lahir di Kaligesing. Kompas.com. 30 Desember 2008. https://nasional.kompas.com/read/2008/12/30/1846191/wr.supratman.lahir.di.kaligesing. ↩︎
  10. Puspita Dwi Lestari. Lagu-lagu Karya W.R. Soepratman dalam Menumbuhkan Wawasan Kebangsaan Tahun 1926–1938. AVATARA: e-Journal Pendidikan Sejarah. Vol. 2, No. 3. Oktober 2014. Hlm. 5. ↩︎
  11. Kisah W.R. Supratman Ciptakan Indonesia Raya, Berawal dari Sayembara Jadi Lagu Ancaman. Detik.com. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7478422/kisah-wr-supratman-ciptakan-indonesia-raya-berawal-dari-sayembara-jadi-lagu-ancaman. ↩︎
  12. Sumpah Pemuda, Indonesia Raya, dan Nyali W.R. Supratman. Kompas.com. 28 Oktober 2022. https://nasional.kompas.com/read/2022/10/28/06300091/sumpah-pemuda-indonesia-raya-dan-nyali-wr-supratman?page=all. ↩︎
  13. KH Nawawi Berjan, Ulama di Balik Berdirinya Organisasi Thariqah. NU Online. https://www.nu.or.id/tokoh/kh-nawawi-berjan-ulama-di-balik-berdirinya-organisasi-thariqah-wQ9Ku. ↩︎
  14. Mengenal Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan. Pecintaulama.id. 11 November 2019. https://www.pecintaulama.id/2019/11/mengenal-pondok-pesantren-an-nawawi-berjan.html. ↩︎
  15. KH Nawawi Berjan dan Perkembangan Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah di Purworejo. E-Journal UIN Suska Riau. 2020. ↩︎
  16. IAI An-Nawawi Purworejo Serius Garap Integrasi Agama dan Ilmu Pengetahuan, Ketua BAZNAS RI: Ada Potensi Jadi Universitas. NU Online Jateng. https://jateng.nu.or.id/pendidikan-islam/iai-an-nawawi-purworejo-serius-garap-integrasi-agama-dan-ilmu-pengetahuan-ketua-baznas-ri-ada-potensi-jadi-universitas-xKM5Y. ↩︎

Sumber Foto:

  1. Arsip Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan
  2. wikipedia.org

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *