Pengajian Ahad Thariqah Qadiriyyah Wan Naqsyabandiyah kali ini menyampaikan pesan-pesan spiritual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama tentang kewajiban bekerja, pentingnya doa, serta keutamaan berdzikir. Pesan-pesan tersebut didasarkan pada dalil-dalil al-qur’an, hadis, ijma’, qiyas dan keteladanan para ulama serta Rasulullah Saw.
Kewajiban Bekerja sebagai Bentuk Pengabdian kepada Allah
Dalam kajian tersebut disampaikan sebuah hadis
حَرِّكْ يَدَكَ أُنْزِلْ عَلَيْكَ الرِّزْقَ
“Gerakkan tanganmu untuk bekerja, maka Aku turunkan rezeki kepadamu.”
Ungkapan ini mengandung makna bahwa bekerja merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mampu. Dalam masyarakat Jawa dikenal pepatah “Toto lahir wajib nyambut gawe” yang menegaskan bahwa setiap manusia memiliki kewajiban bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa bekerja adalah perintah agama. Meski demikian, ketika seseorang telah memasuki usia lanjut dan tidak lagi mampu bekerja, maka Allah Swt. memberikan keringanan dan memaafkannya.
Teladan mengenai semangat bekerja juga ditunjukkan oleh Pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari dari Tebuireng, Jombang. Walaupun beliau memiliki lebih dari seribu santri, KH. Hasyim Asy’ari tetap bekerja dan berdagang tembakau pada hari Wage di Pasar Cukir, Jombang. Sikap ini mengajarkan bahwa kerja adalah bentuk kemandirian sekaligus ibadah.
Contoh lain berasal dari Rasulullah Saw. Pada usia 10 tahun, beliau telah bekerja sebagai penggembala domba. Memasuki usia 15 tahun, beliau berdagang peralatan rumah tangga. Pada usia 20 tahun, Rasulullah telah menjadi pedagang yang sukses dan memiliki kemandirian ekonomi. Beliau menunjukkan bahwa kerja keras dan kejujuran merupakan kunci keberkahan.
Doa sebagai Kekuatan Batin
Dalam kajian juga disampaikan pentingnya memperkuat batin melalui doa, sebagaimana disebutkan dalam hadis:
مَنْ لَمْ يَدْعُنِيْ أَغْضَبُ عَلَيْهِ
“Barang siapa yang tidak pernah berdoa kepada-Ku, maka Aku marah kepadanya.”
Doa adalah wujud kebutuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Karena itu, jangan sampai kita membuat Allah marah dengan cara meninggalkan doa. Berdoalah sesuai kemampuan dan dengan hati yang bersungguh-sungguh.
Ada pula doa yang disunahkan bagi petani atau siapa saja yang memasuki kebun, sawah, atau taman, yaitu:
بِسْمِ اللّٰهِ مَا شَاءَ اللّٰهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ
“Dengan nama Allah, apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Doa ini menjadi bentuk tawakal sekaligus permohonan perlindungan dan keberkahan dalam pekerjaan.
Keutamaan Dzikir sebagai Jalan Mendekat kepada Allah
Selain doa, dzikir juga menjadi tema utama. Disebutkan dalam sebuah hadis qudsi:
مَنْ شَغَلَهُ ذِكْرِيْ عَنْ مَسْأَلَتِيْ، أَعْطَيْتُهُ قَبْلَ أَنْ يَسْأَلَنِي
“Barang siapa yang menyibukkan mengingat-Ku sehingga ia tidak sempat meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya bahkan sebelum ia meminta.”
Hadis ini menunjukkan bahwa dzikir memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Dzikir dapat berfungsi sebagai pengganti doa. Ketika seseorang lupa berdoa tetapi tetap tekun berdzikir, maka hal itu dianggap sama dengan berdoa. Agar amalan dzikir dapat dilakukan secara konsisten, diperlukan bimbingan dari guru mursyid melalui thariqah.
Dalam Kitab Mafza‘ul Kholaik dijelaskan bahwa dzikir terbagi menjadi dua:
- Dzikir hasanat, yaitu dzikir yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat.
- Dzikir darojat, yaitu dzikir yang mengangkat derajat spiritual seorang hamba.
Janji Tauhid dan Perantara Guru Mursyid
Allah Swt. berfirman:
لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمٰنِ عَهْدًا
“Mereka tidak berhak mendapat syafaat kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian dengan Tuhan Yang Maha Pemurah.” (QS. Maryam: 87)
Yang dimaksud dengan “janji kepada Allah” adalah kalimat tauhid:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
yang diucapkan oleh seseorang melalui bimbingan guru mursyid yang hidup, memiliki kesempurnaan spiritual, dan tersambung sanadnya hingga Rasulullah Saw.
Tarekat memberikan jalan agar dzikir dapat diamalkan secara benar, terarah, serta memiliki sambungan rohani yang jelas.
Pengajian Ahad Thariqah Qadiriyyah Wan Naqsyabandiyah memberikan tiga pesan utama:
- Bekerja adalah kewajiban yang membawa keberkahan.
- Doa merupakan sarana terpenting untuk memperoleh ridha Allah.
- Dzikir adalah amalan yang menguatkan spiritualitas dan menjadi perjanjian antara hamba dan Allah.
Melalui teladan Rasulullah dan para ulama, kita diajarkan untuk hidup seimbang antara usaha lahir dan penguatan batin. Semoga kita termasuk hamba yang tekun bekerja, istiqamah berdoa, dan senantiasa berdzikir kepada Allah Swt. Amin.

Comment