Mengapa tanggal 25 November diperingati Hari Guru?
PGRI, kata itulah yang membawahi lahirnya Hari Guru. Hari Guru di Indonesia diperingati pada tanggal 25 November setiap tahun. Pada mulanya, di bulan November, bulan ketiga setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, terbentuklah Persatuan Guru Republik Indonesia, tepatnya pada tanggal 25 November 1945. Sebelum terbentuknya PGRI, terdapat beberapa persatuan guru pada masa Belanda dan Jepang, yaitu Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) dan Persatuan Guru Indonesia (PGI). Persatuan ini tidak semata-mata dibangun oleh sebuah ego belaka, akan tetapi merupakan perjuangan terhadap bentuk pendidikan dan penolakan terhadap diskriminasi yang terjadi pada guru pribumi di masa penjajahan. Oleh karena itu, lahirlah peringatan Hari Guru pada tanggal 25 November.
Bagaimana nilai guru dalam pandangan Sayyidina Ali?
Sayyidina Ali merupakan orang yang dikenal dengan sebutan Bābul ‘Ilm. Dalam hadis Nabi disebutkan:
أَنَا بَابُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ مِفْتَاحُهُ
“Aku adalah pintunya ilmu, dan Ali adalah kuncinya.”
Julukan tersebut tidak diberikan tanpa alasan; memang benar adanya keutamaan yang beliau miliki. Akan tetapi, di balik keutamaan tersebut, ada hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu sikap beliau terhadap guru. Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallāhu wajhah dalam kitab Ihyā’ ‘Ulūmiddīn berkata:
أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِيْ وَلَوْ حَرْفًا وَاحِدًا
“Aku adalah hamba sahaya bagi orang yang telah mengajariku satu huruf.”
Begitu besar pemuliaan Sayyidina Ali terhadap guru.
Implementasi terhadap Hari Guru
Sebenarnya tidak ada hari khusus sebagai syarat untuk menghormati guru, karena guru termasuk orang tua yang telah membimbing ruh, dan kewajiban dalam menghormatinya pun tidak perlu diragukan lagi. Menurut Imam Ahmad bin Hambal, terdapat tiga orang tua yang harus dihormati, yaitu orang tua yang melahirkan, orang tua yang menikahkan, dan orang tua yang mengajari. Dan yang paling utama adalah orang tua yang mengajari.
Dalam Pengajian Akhirussanah Pondok Pesantren An-Nawawi, KH. Abdul Mu’id, pengasuh As-Salamah Lirboyo, mengatakan bahwa 70% dari 100% ilmu yang didapatkan seorang murid berasal dari hubungan baik murid kepada guru. Salah satu cara untuk senantiasa menjaga hubungan baik kepada guru adalah dengan selalu mendoakan guru.
70% ilmu santri itu berasal dari hubungan baik santri dengan gurunya.
Bagaimana adab santri terhadap guru?
Diterangkan dalam kitab Ādābu al-‘Ālim wa al-Muta‘allim, terdapat 12 adab santri terhadap guru. Adapun beberapa adabnya sebagai berikut:
- Mempertimbangkan kepada siapa ia berguru. Diriwayatkan dari sebagian ulama’ salaf: “Ilmu ini adalah (bagian dari) agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil atau belajar agama kalian”,
- Kesungguhan dalam mencari pengajar. Perlu diperhatikan dari siapa guru mendapatkan ilmunya, atau dalam pesantren dikenal dengan sanad. Seperti yang dikatakan KH. Achmad Chalwani, bahwa santri harus memperhatikan tiga hal supaya mendapatkan ilmu, salah satunya yaitu guru yang dapat membukakan hati seorang murid.
لَابُدَّ لِطَالِبِ الْعِلْمِ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ شَيْخٌ فَتَّاحٌ وَعَقْلٌ رَجَّاحٌ وَكُتُبُ صِحَّةٌ
“Santri itu wajib memperhatikan tiga hal, yang pertama syaikhun fattāḥ yang artinya Guru yang membukakan hati santrinya, salah satu caranya yaitu mencari guru yang jelas sanadnya, yang kedua wa ʿaqlun rajjāḥ, yaitu ketinggian akal seperti senantiasa berusaha, dan yang ketiga wa kutubun ṣiḥḥah, yang artinya kitab yang sehat seperti jurumiyah.”
- Patuh terhadap gurunya dalam segala hal dan tidak keluar dari nasehat-nasehat dan aturan-aturannya.
- Memandang guru dengan pandangan sosok yang sempurna, seperti mengagungkan panggilan terhadap guru.
- Tidak melupakan jasa, keagungan serta kemuliaan guru, seperti senantiasa mendoakan guru.
- Meminta izin ketika ingin bertemu.
- tidak membuat marah guru.
- selalu bersikap tawadhu terhadap guru.
- berkata baik terhadap guru.
Seperti yang dikatakan oleh KH. Abdul Mu’id, bahwa jika ingin ilmunya bermanfaat, maka berupayalah untuk mendapatkan ridho guru
Ketika ilmu kepingin tumancep ya diulang-ulang, ketika ilmu ingin berkah ya mengabdi, kalo kepingin ilmu yang bermanfaat maka berupayalah untuk mendapatkan ridho guru.
Sumber Referensi:
- Kitab Ādābu al-‘Ālim wa al-Muta‘allim
- NU Online
- Wikipedia

Comment