Home / Kajian Masyayikh / Mengapa Dzulqo’dah Begitu Istimewa? Bulan Haram yang Diam-Diam Menggandakan Segalanya
Kajian Kajian Masyayikh

Mengapa Dzulqo’dah Begitu Istimewa? Bulan Haram yang Diam-Diam Menggandakan Segalanya

Dzulqo’dah merupakan bulan ke-11 dalam kalender Hijriyyah yang memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam. Nama “Dzulqo’dah” berasal dari kata قَعَدَ yang berarti duduk atau berhenti. Makna ini merefleksikan kebiasaan masyarakat arab pra-Islam yang menghentikan berbagai aktivitas, khususnya peperangan, pada bulan ini.

Pada masa itu, bangsa Arab tidak bepergian, tidak mencari pakan ternak, dan tidak melakukan peperangan. Jazirah Arab menjadi lebih tenang sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan ini. Sebagian pendapat juga menyebutkan bahwa berhentinya aktivitas tersebut bertujuan untuk mempersiapkan diri dalam menyambut ibadah haji.

Termasuk Empat Bulan yang dimuliakan

Dzulqo’dah termasuk satu dari empat bulan haram (bulan yang dimuliakan) dalam Islam. Tiga bulan lainnya adalah Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Kemuliaan ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتَابِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah Swt. ialah dua belas bulan, sebagaimana dalam ketetapan Allah Swt. pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang diagungkan (Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab).”(QS. At-Taubah: 36)

Asrama Khotib Sambas Semarakkan Penghujung Semester dengan ASKHOS STARS

Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk lebih menjaga diri dari perbuatan maksiat dan memperbanyak amal kebaikan, karena nilainya dilipatgandakan di sisi Allah Swt.

Bagian dari Bulan Haji

Dzulqo’dah juga merupakan bagian dari bulan-bulan haji, bersama Syawwal dan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Pada masa ini, seseorang diperbolehkan untuk mulai berihram sebagai bagian dari rangkaian ibadah haji.

Tidak hanya itu, bulan Dzulqo’dah juga memiliki keutamaan dalam pelaksanaan ibadah umrah. Rasulullah Saw. diketahui sering melaksanakan umrah pada bulan ini. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

اعْتَمَرَ رَسُولُ اللّٰهِ صلى الله عليه وسلم أَرْبَعَ عُمَرٍ، كُلَّهُنَّ فِيْ ذِي الْقَعْدَةِ، إِلَّا الَّتِيْ كَانَتْ مَعَ حَجَّتِهِ، عُمْرَةً مِنَ الْحُدَيْبِيَةِ فِيْ ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فِيْ ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الْجِعْرَانَةِ، حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِيْ ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ

“Rasulullah Saw. melaksanakan empat kali umrah, semuanya pada bulan Dzulqo’dah kecuali umrah yang dilakukan bersama haji beliau, yaitu umrah dari Hudaibiyah, umrah pada tahun berikutnya, umrah dari Ji’ranah ketika membagikan rampasan perang Hunain, dan umrah bersama haji.” (HR. Al-Bukhari)

S2 Tak Lagi Jalan Panjang, IAI An-Nawawi Buka Skema Lulus Setahun Tanpa Tesis

Hadis ini menunjukkan bahwa bulan Dzulqo’dah memiliki nilai istimewa sebagai waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, khususnya umrah.

Kaitan dengan Kisah Nabi Musa a.s.

Keutamaan bulan Dzulqo’dah juga dapat dilihat dari isyarat Al-Qur’an dalam kisah Nabi Musa a.s. Allah Swt. berfirman:

وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيْقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً، وَقَالَ مُوسَى لِأَخِيهِ هَارُوْنَ اخْلُفْنِيْ فِيْ قَوْمِيْ وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِيْنَ

“Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa untuk memberikan kepadanya kitab Taurat setelah berlalu tiga puluh malam (bulan Dzulqo’dah), dan Kami sempurnakan dengan sepuluh malam lagi (sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya menjadi empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya, Harun, ‘Gantikanlah aku dalam memimpin kaumku, perbaikilah mereka, dan janganlah mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.’”
(QS. Al-A’raf: 142)

Ayat ini menunjukkan bahwa tiga puluh malam yang dijalani Nabi Musa a.s. diyakini terjadi pada bulan Dzulqo’dah, kemudian disempurnakan dengan sepuluh hari awal Dzulhijjah. Hal ini semakin menegaskan kemuliaan bulan tersebut dalam perjalanan spiritual para nabi.

Memaknai Hardiknas dari Jejak Ki Hajar Dewantara hingga Semangat Pesantren ala Douwes Dekker

Momentum Memperbanyak Amal

Dengan berbagai keutamaan yang dimiliki, bulan Dzulqo’dah menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memperbaiki diri. Pada bulan ini, kebaikan dilipatgandakan, demikian pula keburukan. Oleh karena itu, setiap muslim dianjurkan untuk:

  • Menjaga diri dari perbuatan maksiat
  • Memperbanyak ibadah
  • Meningkatkan amal sosial seperti sedekah dan wakaf.

Amalan seperti wakaf menjadi salah satu bentuk investasi akhirat yang manfaatnya luas dan berkelanjutan, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi masyarakat.

Dzulqo’dah adalah bulan yang mengajarkan ketenangan, pengendalian diri, dan persiapan menuju ibadah yang lebih besar. Ia bukan sekadar jeda dalam kalender Hijriyyah, tetapi ruang spiritual untuk memperbanyak amal dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Semoga kita mampu memanfaatkan kemuliaan bulan ini dengan sebaik-baiknya, mengisinya dengan kebaikan, serta menjadikannya sebagai bekal menuju kehidupan yang lebih berkah di dunia dan akhirat.

Artikel ini disarikan dari materi ceramah KH. Achmad Chalwani

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *