Pesantren bukan hanya ruang pendidikan keilmuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter, adab, dan kemanusiaan. Di balik kuatnya tradisi pesantren, selalu ada figur-figur teladan yang bekerja dalam senyap, membangun peradaban dari balik dapur, serambi, dan ndalem. Salah satu figur penting tersebut adalah Nyai Saodah Nawawi, sosok pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo, yang keteladanannya terus hidup hingga hari ini.
Nyai Saodah Nawawi dikenal bukan hanya sebagai ibu dari KH. Achmad Chalwani Nawawi, tetapi juga sebagai figur sentral yang mewarnai perjalanan pesantren dengan nilai ketegasan, kesederhanaan, kepekaan sosial, dan kasih sayang yang tulus. Peran beliau melampaui batas formal sebagai pengasuh; beliau hadir sebagai ibu bagi santri, teladan bagi masyarakat, dan penjaga nilai-nilai luhur pesantren.
Kehadiran Nyai Saodah Nawawi memberikan fondasi kuat bagi pendidikan keagamaan yang tidak kering dari nilai-nilai kemanusiaan. Melalui laku hidup sehari-hari, beliau menanamkan ajaran Islam yang membumi, kontekstual, dan relevan dengan realitas sosial.
Kepekaan Sosial yang Tumbuh dari Kesadaran Spiritual
Salah satu ciri paling menonjol dari pribadi Nyai Saodah Nawawi adalah kepekaan sosialnya yang tinggi. Kepekaan ini bukan dibangun dari teori, melainkan lahir dari kesadaran spiritual dan empati yang mendalam terhadap sesama.
Dalam keseharian, beliau dikenal sangat memperhatikan kondisi ekonomi dan psikologis masyarakat sekitar. Sebuah kebiasaan kecil namun sarat makna yang hingga kini dikenang adalah saat beliau bertamu ke rumah orang lain. Nyai Saodah Nawawi selalu membawa buah tangan berupa gula dan teh. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin tampak sederhana, namun sesungguhnya mengandung pesan sosial yang dalam, agar tuan rumah tidak merasa terbebani secara ekonomi ketika menjamu tamu.
Tindakan tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak hanya diajarkan lewat lisan, tetapi juga melalui sikap dan empati. Dari kebiasaan kecil ini, santri dan masyarakat belajar tentang adab bertamu, kepedulian sosial, serta kehalusan budi yang menjadi ciri khas pesantren.
Kepekaan sosial Nyai Saodah Nawawi tidak hanya hadir dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjangkau wilayah pengabdian yang sunyi dan jarang disorot, yakni memandikan jenazah. Beliau dikenal sebagai sosok yang siap membantu masyarakat dalam urusan fardhu kifayah, khususnya memandikan jenazah perempuan.
Pengalaman beliau dalam memandikan jenazah sangat beragam. Berbagai kondisi jenazah pernah beliau tangani dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Namun demikian, Nyai Saodah Nawawi dikenal sebagai pribadi yang sangat menjaga adab; beliau enggan menceritakan detail-detail tersebut kepada orang lain. Bagi beliau, memandikan jenazah bukanlah kisah untuk dibanggakan, melainkan amanah yang harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab dan kerahasiaan.
Ketegasan yang Dibingkai Kasih Sayang dalam Pendidikan Al-Qur’an
Dalam dunia pendidikan, Nyai Saodah Nawawi dikenal sebagai sosok yang tegas dan disiplin. Namun, ketegasan tersebut tidak pernah lepas dari kasih sayang. Beliau mengajarkan Al-Qur’an secara langsung kepada anak-anak dan santri, termasuk cucu-cucu beliau, seperti Mbak Ashfa Khoirun Nisa, (Alm) Mas M. Khoirul Fata, dan Mbak Nikmah Masruroh.
Kegiatan mengaji dilakukan secara rutin, terutama selepas salat Maghrib. Dalam suasana sederhana namun khidmat, beliau membimbing bacaan Al-Qur’an dengan penuh kesabaran. Kesalahan dibenarkan, kelalaian ditegur, namun semuanya dilakukan dengan kelembutan seorang ibu.
Menariknya, seusai pengajian dengan cucu-cucu, Nyai Saodah Nawawi kerap memberikan uang saku sebagai bentuk apresiasi dan motivasi. Pada era 1990-an, uang sebesar lima ratus rupiah bukanlah jumlah besar, tetapi, hal tersebut menjadi kenangan yang membekas. Lebih dari sekadar nilai materi, uang saku tersebut menjadi simbol perhatian, penghargaan, dan cinta.

Doa sebagai Nafas Pengabdian Pesantren
Bagi para alumni Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, yang pada masa awal berdirinya dikenal dengan nama Roudhlotul Thulab, Nyai Saodah Nawawi dikenang sebagai sosok yang senantiasa mendoakan santri-santrinya. Doa-doa tersebut tidak hanya dipanjatkan dalam momen tertentu, tetapi menjadi bagian dari keseharian beliau.
Beliau berdoa agar para santri kelak tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan bermanfaat bagi masyarakat. Doa-doa itu mengalir dengan keikhlasan, tanpa pamrih, tanpa harapan pujian. Pengabdian beliau berlangsung jauh dari sorotan, namun justru meninggalkan pengaruh yang sangat mendalam dalam kehidupan para santri.
Tidak sedikit alumni yang meyakini bahwa keberkahan hidup yang mereka rasakan hari ini adalah buah dari doa-doa tulus Nyai Saodah Nawawi yang dipanjatkan dalam keheningan malam.
Memuliakan Tamu sebagai Pendidikan Adab
Nilai lain yang sangat dijaga oleh Nyai Saodah Nawawi adalah memuliakan tamu. Setiap tamu yang sowan ke pesantren disambut dengan penuh hormat, keramahan, dan perhatian. Bagi beliau, tamu bukan sekadar orang yang datang, tetapi bagian dari amanah yang harus dimuliakan.
Nilai ini kemudian diwariskan dan menjadi budaya yang terus hidup di Pesantren An-Nawawi Berjan hingga sekarang. Tradisi menjamu tamu dengan baik tidak hanya dipahami sebagai etika sosial, tetapi sebagai pendidikan adab yang nyata dan hidup.
Selain itu, sejak masa Nyai Saodah Nawawi, para pengurus pondok putra dan putri mendapatkan dawuh untuk membiasakan makan di nDalem. Tradisi ini tidak hanya membangun kedekatan emosional, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan rasa hormat dalam kehidupan pesantren.
Kreativitas, Estetika, dan Jiwa Seni Pesantren
Di balik peran besarnya dalam pendidikan dan sosial, Nyai Saodah Nawawi juga memiliki sisi kreatif yang menonjol. Beliau gemar melukis, baik pada tembok, yang kini dikenal dengan istilah mural, maupun pada kain seperti taplak meja. Aktivitas ini menunjukkan bahwa pesantren bukan ruang yang kaku dan tertutup terhadap seni.
Kreativitas beliau tumbuh secara alami, menyatu dengan keseharian. Sentuhan seni tersebut memperindah ruang pesantren dan menghadirkan suasana yang lebih hidup. Dari sini terlihat bahwa Islam yang diajarkan di pesantren adalah Islam yang ramah terhadap keindahan, estetika, dan ekspresi kreatif.
Selain gemar melukis dan menghias ruang, kreativitas Nyai Saodah Nawawi juga tampak dalam keterampilannya sebagai perias pengantin (MUA). Di kalangan masyarakat sekitar, beliau dikenal sebagai sosok yang multitalenta.
Pada masa itu, Nyai Saodah Nawawi memiliki koper khusus berisi perlengkapan rias. Dengan peralatan sederhana tersebut, beliau kerap merias pengantin di kampung-kampung sekitar pesantren, terutama membantu tetangga dan warga yang membutuhkan. Aktivitas merias pengantin ini tidak semata-mata bernilai estetika, tetapi juga mengandung dimensi sosial dan spiritual. Banyak warga yang meyakini bahwa dirias oleh Nyai Saodah Nawawi merupakan bentuk ngalap berkah, karena sentuhan beliau selalu disertai doa dan ketulusan.
Dari sini terlihat bahwa kreativitas Nyai Saodah Nawawi bukanlah kreativitas yang berjarak dengan masyarakat, melainkan keterampilan yang hadir untuk melayani, memperindah, dan menguatkan ikatan sosial di lingkungan pesantren dan sekitarnya.
Kemandirian yang Melahirkan Kerendahan Hati
Dalam aspek kehidupan pribadi, Nyai Saodah Nawawi dikenal sebagai sosok yang mandiri dan tercukupi, baik dalam ilmu maupun materi. Namun, kecukupan tersebut tidak menjadikan beliau berjarak dengan masyarakat. Justru sebaliknya, hal itu memperkuat sikap rendah hati dan kesederhanaan yang melekat dalam diri beliau.
Beliau hadir sebagai figur yang membumi, dekat dengan santri, akrab dengan masyarakat, dan peka terhadap realitas sosial di sekitarnya. Tidak ada sekat antara pengasuh dan yang diasuh, antara tokoh pesantren dan warga sekitar.
Aktif dalam Organisasi dan Gerakan Sosial Perempuan
Selain mengasuh santri di pesantren, Nyai Saodah Nawawi juga aktif dalam organisasi perempuan di bidang sosial kemasyarakatan. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa peran perempuan pesantren tidak terbatas di ruang domestik, tetapi juga berkontribusi nyata dalam kehidupan sosial.
Melalui aktivitas organisasi, beliau dikenal luas sebagai sosok pengasuh pesantren yang rendah hati, bijaksana, dan penuh kasih sayang, khususnya di lingkungan masyarakat sekitar pesantren dan masyarakat Purworejo secara umum.
Teladan Pesantren yang Relevan Sepanjang Zaman
Di tengah anggapan bahwa pesantren kerap dipandang tidak relevan dengan perkembangan zaman, sosok Nyai Saodah Nawawi justru menghadirkan bukti sebaliknya. Melalui keteladanan hidupnya, beliau menunjukkan bahwa pesantren mengajarkan lebih dari sekadar ilmu agama.
Pesantren adalah ruang pembentukan karakter, adab, kepekaan sosial, budaya, dan kemanusiaan. Nilai-nilai yang ditanamkan Nyai Saodah Nawawi tetap relevan dalam kehidupan modern yang kerap kehilangan sentuhan empati dan kesederhanaan.
Dengan perpaduan ketegasan, kasih sayang, kepekaan sosial, kreativitas, dan kemandirian, Nyai Saodah Nawawi tampil sebagai figur pengasuh pesantren yang humanis dan kontekstual. Keteladanan beliau tidak hanya hidup dalam ingatan para santri dan alumni, tetapi terus mengalir dalam budaya Pesantren An-Nawawi Berjan hingga hari ini.
Sumber Referensi:
- Cerita keluarga nDalem
- TIM PP “An-Nawawi”, Mengenal K.H. Nawawi Berjan, Cet. Ke-2, (Surabaya: Khalista, 2023)

Comment