Home / HISANDA / Sultan Thaha Syaifuddin Sang Harimau Jambi yang Menolak Menyerahkan Harga Diri
Artikel Himpunan Daerah HISANDA

Sultan Thaha Syaifuddin Sang Harimau Jambi yang Menolak Menyerahkan Harga Diri

Di tanah “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah”, sejarah mencatat dengan tinta emas nama seorang kesatria yang sumpah setianya kepada tanah air tak pernah luntur hingga tetes darah terakhir. Ia adalah Sultan Thaha Syaifuddin, raja terakhir Kesultanan Jambi yang memilih hidup di hutan belantara demi mempertahankan kedaulatan daripada hidup nyaman di istana namun menjadi boneka penjajah.

Beliau bukan sekadar raja; beliau adalah simbol perlawanan, Izzah (harga diri) Melayu, dan spirit jihad fi sabilillah di tanah Sumatera.

Menolak Tunduk Sejak Muda

Lahir pada pertengahan tahun 1816 di Keraton Tanah Pilih, Jambi, Thaha Syaifuddin tumbuh sebagai bangsawan yang cerdas dan taat beragama. Darah kepemimpinan mengalir deras dari ayahnya, Sultan Muhammad Fachruddin.

Sikap kerasnya terhadap Belanda sudah terlihat saat beliau naik tahta pada tahun 1855. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda menyodorkan perjanjian (traktat) yang isinya sangat merugikan dan merendahkan martabat Kesultanan Jambi. Belanda meminta Jambi tunduk sepenuhnya di bawah kekuasaan Ratu Belanda.

Dengan tegas, Sultan Thaha merobek kertas perjanjian itu. Bagi beliau, kedaulatan negeri tidak bisa ditawar dengan harta atau jabatan.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai.

Mungkin itulah semangat yang beliau pegang teguh.

Perang Gerilya Semesta

Menyadari bahwa penolakannya akan memicu perang, Sultan Thaha tidak menunggu diserang. Beliau membatalkan semua perjanjian dengan Belanda yang dibuat oleh pendahulunya dan mempersiapkan rakyat untuk berjihad.

Ketika Belanda menyerang Istana Tanah Pilih pada 1858, Sultan Thaha memilih strategi cerdik. Beliau tidak bertahan mati konyol di istana, melainkan menyingkir ke pedalaman (hinterland) untuk menyusun kekuatan gerilya. Sementara itu, Belanda melantik saudara beliau sebagai Sultan boneka, namun rakyat Jambi tak pernah mengakui sultan buatan Belanda itu. Bagi rakyat, rajanya tetap satu: Sultan Thaha yang berada di hutan.

Selama puluhan tahun, Sultan Thaha memimpin perlawanan dari Muara Tembesi hingga ke pelosok-pelosok Jambi. Beliau membangun benteng-benteng pertahanan, melatih pasukan, dan memutus jalur perdagangan Belanda di Sungai Batanghari. Perlawanan ini begitu merepotkan hingga membuat Belanda frustrasi selama hampir setengah abad.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Pertempuran Terakhir di Betung Bedarah

Tahun berganti tahun, rambut Sultan Thaha mulai memutih, namun api perjuangannya tak pernah padam. Hingga akhirnya pada tahun 1904, Belanda yang dipimpin oleh G.C.E. van Daalen mengerahkan pasukan besar-besaran (Marsose) untuk memburu Sultan tua itu.

Pada tanggal 26 April 1904, di sebuah dusun bernama Betung Bedarah, pertempuran penghabisan itu terjadi. Meski usianya sudah senja (88 tahun), Sultan Thaha tetap memimpin pasukannya di garis depan. Desingan peluru Belanda akhirnya menembus tubuh sang Sultan.

Sultan Thaha Syaifuddin gugur sebagai syuhada. Beliau wafat tanpa pernah sekalipun menandatangani surat penyerahan kedaulatan kepada Belanda. Jasadnya dimakamkan di Muara Tebo, membawa serta kehormatan Kesultanan Jambi yang tak pernah tergadaikan.

Warisan Sang Pahlawan

Atas jasa-jasa beliau yang luar biasa gigih mempertahankan tanah air, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Sultan Thaha Syaifuddin sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Presiden RI No. 079/TK/Tahun 1977.

Kisah Sultan Thaha mengajarkan kita, para santri dan generasi muda, tentang arti konsistensi (istiqamah). Bahwa jabatan dan kemewahan tidak ada artinya jika harus dibayar dengan hilangnya harga diri. Namanya kini abadi, tersemat megah di Bandara kebanggaan masyarakat Jambi, dan lebih dari itu, terukir abadi di hati rakyat Indonesia.

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Sumber Referensi:

  1. Keputusan Presiden RI No. 079/TK/Tahun 1977: Tentang Penetapan Sultan Thaha Syaifuddin sebagai Pahlawan Nasional.
  2. Buku Sejarah: Locher-Scholten, Elsbeth. (2004). Sumatran Sultanate and Colonial State: Jambi and the Rise of Dutch Imperialism, 1830-1907. Cornell University Press. (Buku rujukan akademis utama tentang sejarah kolonial di Jambi).
  3. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI): Catatan mengenai Perang Jambi dan Laporan Kolonial Hindia Belanda (Verslag).
  4. Buku: Sagimun M.D. (1985). Sultan Thaha Syaifuddin. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  5. Artikel Sejarah: Laman resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi tentang Sejarah Perjuangan Sultan Thaha.

Sumber Foto: wikipedia.org

Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *