Home / Berita / Muthala’ah Jadi Kunci Kesiapan Pendidik di Ruang Kelas
Berita

Muthala’ah Jadi Kunci Kesiapan Pendidik di Ruang Kelas

Purworejo, annawawiberjan.id (09/01/2026) — Dalam ekosistem pondok pesantren, pendidik‒dalam hal ini guru, ustadz maupun ustadzah‒memegang peranan utama dalam mengantarkan anak didik kepada tujuan pendidikan. Tujuan ini bukan sebatas mengetahui dan memahami, namun juga membuka dan menuntun anak didik kepada kodrat sejati manusia. Manusia yang anfa’uhum linnas. Manusia yang memanusiakan manusia. Oleh karena itu, para pendidik perlu mempersiapkan diri sebelum mentransmisikan ilmu di ruang kelas.

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi, Berjan, Purworejo, KH. Achmad Chalwani menyoroti pentingnya persiapan pendidik ini dalam Rapat Asatidz II Madrasah Diniyyah An-Nawawi Berjan Purworejo yang dilaksanakan pada Jumat di Gedung Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah An-Nawawi Berjan, Banjaran, Gebang, Purworejo.

Dalam maui’dhotul hasanahnya, KH. Achmad Chalwani mengajak seluruh jajaran asatidz dan asatidzah yang hadir untuk senantiasa mengamalkan pesan Sayyid Sagaf bin Ahmad Al-Jufri, Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Purworejo tempo dulu, tentang kunci kesiapan seorang pendidik.

Agar ilmu mudah diterima dan masuk ke hati, pertama, pendidik harus ikhlas, dan kedua, pendidik harus muthala’ah. Jelas Kiai Chalwani.

Ikhlas di sini mengindikasikan tentang persiapan batiniah. Pendidik perlu menata kemurnian dan ketulusan niat dalam menyampaikan ilmu, apalagi ilmu agama. Bahkan sesederhana untuk tidak malu bertanya kepada orang yang lebih ‘alim. Kiai Chalwani melanjutkan bahwa pendidik tidak perlu malu bertanya.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Tidak usah malu untuk bertanya kepada orang lain. Saya dulu di Lirboyo tidak malu bertanya ke Pak Kiai Azhari Magelang ketika ada yang belum faham. Kenang Kiai Chalwani.

Sembari mempersiapkan batiniah, pendidik juga perlu menunjang lahiriah. Kiai Chalwani menambahkan pentingnya muthala’ah sebelum mengajar.

Kalau ngajar nggak muthala’ah, yang jadi korban adalah anak didik. Maka dulu Mbah Kiai Dimyati Termas adalah sosok yang ‘alim ‘allamah. Menjadi gurunya Mbah Nawawi Berjan. Menjadi gurunya Mbah Ali Maksum Kapyak. Pernah suatu ketika, Mbah Dimyati membaca kitab Taqrib. Ketika belum muthala’ah, apa yang beliau katakan? “Cah, ngajine prei sek yo. Aku durung muthala’ah.” Maka muthala’ah itu penting. Sekali lagi, jangan sampai tidak muthala’ah, karena yang menjadi korban adalah anak didik. Pesan Kiai Chalwani.

Dari penjelasan KH. Achmad Chalwani di atas, dapat ditarik benang merah bahwa kedua persiapan batiniah dan lahiriah ini merupakan bentuk ikhtiar pendidik yang tidak boleh ditinggalkan agar ilmu mudah diterima dan masuk ke dalam hati anak didik.

Lebih lanjut, Ketua Yayasan An-Nawawi Berjan Purworejo, KH. R. Muhammad Maulana Alwi menekankan pentingnya menyatukan visi antara dewan asatidz maupun asatidzah dengan visi pengasuh.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Kami, bahkan Bapak (pengasuh), sering menyampaikan di forum pengarahan santri kelas sembilan dan kelas dua belas untuk tetap melanjutkan studi di sini. Kami menyampaikan, ‘sudah, kamu lanjut di sini saja. Di sini sudah serba baik dan mendukung.’ Namun demikian, ketika masih ada kelas atau pengajian yang kosong, siapa yang akan menanggung anak-anak? Masa iya, mereka ‘ditinggal pas lagi sayang-sayangnya’. Oleh Karena itu, mari kita satukan visi dengan beliau dengan mempertahankan kehadiran dan keaktifan. Agar kita semua diakui sebagai santrinya Bapak. Ungkap putra menantu Kiai Chalwani.

Kiai Maulana kemudian menegaskan bahwa posisi asatidz maupun asatidzah merupakan posisi yang didambakan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i R.A.

Al-Imam Asy-Syafi’i pernah dawuh, ‘وُدِدْتُ أَنَّ النَّاسَ انْتَفَعُوْا لِهَذَا الْعِلْمِ وَ مَا نُسِبَ إِلَيَّ شَيْئٌ مِنْهُ’ yang artinya ‘aku sangat menginginkan orang-orang mengambil manfaat dari ilmu yang diajarkan ini, tanpa ada sesuatu apapun dari ilmu tersebut yang dinisbatkan kepadaku.’ Katakanlah, aku ingin orang-orang mendapatkan ilmu, tanpa menganggap bahwa aku yang mengajarkannya. Terang Kiai Maulana di hadapan 227 pendidik.

Menurut Kiai Maulana, dengan posisi demikian, peluang pendidik untuk tidak riya’ itu lebih besar.

Bayangkan jika banyak anak didik yang pintar, bukan karena ustadz dan ustadzah, melainkan karena sebagai santrinya Kiai Chalwani. Kemungkinan peluang kita untuk tidak riya’ itu jadi lebih besar. Jelas Kiai Maulana.

Oleh karenanya, Kiai Maulana mengajak segenap asatidz dan asatidzah untuk sama-sama berbenah dalam berkhidmah.

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Maka dari itu, marilah kita sama-sama berbenah dalam berkhidmah. Sembari meringankan bidang pendidikan dan pengajaran. Ajak Kiai Maulana.

Kiai Maulana juga berpesan ketika terdapat pendidik yang berhalangan agar senantiasa menghubungi pihak yang bersangkutan.

Sekali lagi, jika berhalangan, tolong menghubungi bagian Dikjar. Ini sering terjadi di kalangan bapak-bapak dan mas-mas asatidz. Jangan berpegang pada standar ‘laki-laki tidak bercerita’! Justru ‘laki-laki tidak bercerita’ itu ketika pekerjaannya telah selesai. Pungkas Kiai Maulana ramah dan diiringi tawa santun peserta.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *