Home / Kajian Masyayikh / Meneladani Jalan Sunyi Mbah Mad Watucongol: Dari Kerendahan Hati, Hingga Sandaran Spiritual Pemimpin Bangsa
Artikel Kajian Kajian Masyayikh

Meneladani Jalan Sunyi Mbah Mad Watucongol: Dari Kerendahan Hati, Hingga Sandaran Spiritual Pemimpin Bangsa

KH. Ahmad Abdul Haq, atau yang lebih akrab disapa Mbah Mad, merupakan sosok ulama kharismatik yang menjadi pilar spiritual di Jawa Tengah. Beliau merupakan pengasuh generasi keempat Pondok Pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang, sebuah lembaga pendidikan Islam yang didirikan oleh kakek buyutnya, Kiai Abdurrauf Bin Hasan Tuqa. Sebagai putra dari ulama besar KH. Dalhar bin Abdurrahman, Mbah Mad tidak hanya mewarisi kepemimpinan pesantren, tetapi juga mewarisi kedalaman ilmu agama dan karisma spiritual yang luar biasa. Kehadirannya di Watucongol menjadikan desa kecil tersebut sebagai mata air bagi para pencari ketenangan batin, mulai dari masyarakat biasa hingga para pemimpin bangsa.1

Latar Belakang dan Keluarga

Mbah Mad lahir sekitar tahun 1928 di lingkungan Pondok Pesantren Watucongol di Desa Gunungpring, Muntilan, Magelang. Beliau adalah putra dari Kiai Dalhar Watucongol (1870-1959), seorang ulama karismatik yang juga dikenal sebagai mursyid Thariqah Syadziliyah dan waliyullah (orang yang dekat dengan Allah Swt.). Nasab keluarga Kiai Dalhar tersambung hingga trah Raja Mataram Amangkurat III dan bahkan memiliki hubungan dengan Pangeran Diponegoro melalui garis keturunan Kiai Abdurrauf.2

Mbah Mad memiliki tiga istri, yakni Ny. Hj. Jamilah, Ny. Hj. Istianah, dan Ny. Hj. Khafshah, dan dikaruniai 9 anak, 32 cucu, serta 10 cicit.3

Perjalanan Keilmuan

Sejak kecil, Mbah Mad telah menunjukkan kecerdasan dan kedalaman spiritual yang melebihi kebanyakan ulama pada zamannya. Menurut riwayat dari putranya, KH. Ali Qoishor, Mbah Mad memiliki kemampuan untuk mengenali dan menunjukkan makam para wali yang belum dikenal oleh masyarakat setempat. Suatu kemampuan yang kemudian dipandang sebagai warisan spiritual dari ayahnya, Mbah Dalhar.4

Mbah Mad juga diyakini memiliki ilmu laduni (ilmu pemberian langsung dari Allah), karena beliau tidak pernah mondok secara formal. Meski sempat bermurid di Pesantren Al-Wahdah Lasem yang diasuh KH. Baidlowi, beliau hanya bertahan kurang dari seminggu dan lebih banyak belajar langsung dari ayahnya sendiri.5

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Kiprah dalam Berdakwah

Sebagai pengasuh keempat Pondok Pesantren Darussalam Watucongol, Mbah Mad dikenal tidak hanya sebagai guru formal, tetapi sebagai pendidik spiritual yang membimbing santri dalam aspek dzikir, riyadhah, dan pembinaan akhlak. Beliau sangat menekankan pentingnya olah jiwa seperti melek malam dan ziarah ke makam para ulama dan wali sebagai bagian dari latihan spiritual yang rutin dijalankan.6

Dalam menjalankan dakwahnya, Mbah Mad dikenal sebagai Mursyid Thoriqoh Syadziliyah. Beliau melanjutkan sanad keilmuan dan tarekat yang diterima dari ayahnya, Simbah Dalhar. Meskipun memiliki kedudukan spiritual yang tinggi, Mbah Mad sangat dikenal karena sifatnya yang tawadhu (rendah hati) dan irit bicara. Beliau lebih banyak mendidik melalui hal (perbuatan) dan keteladanan daripada kata-kata. Hal ini selaras dengan ajaran tasawuf yang beliau anut, di mana ketenangan batin dan kedekatan dengan Sang Pencipta lebih diutamakan daripada hiruk-pikuk duniawi.7

Sepanjang hidupnya, Mbah Mad menggunakan waktu untuk menyampaikan pesan-pesan agama kepada umat tanpa mengenal tempat, waktu, situasi, dan kondisi, bahkan rela berjalan kaki ke tempat-tempat yang sulit dijangkau kendaraan. Beliau dikenal sebagai penasihat hampir semua kiai pengasuh pondok pesantren di Indonesia, termasuk KH. Abuya Dimyathi dari Pandeglang, Banten, dan KH. Zainuddin Djazuli dari Ploso, Kediri.8

Kisah Kerendahan Hati yang Meneduhkan Si Tukang Judi

Mbah Mad dikenal sebagai sosok ulama yang memegang teguh prinsip welas asih (kasih sayang) dan rendeh hati dalam berdakwah. Disarikan dari penuturan putra menantu Mbah Mad, yakni KH. Achmad Chalwani9, suatu ketika, Mbah Mad didatangi seseorang yang sangat kaya namun masih gemar berjudi dan sama sekali belum mau menjalankan shalat. Bukannya merasa tidak layak, orang ini justru terpanggil untuk menunaikan ibadah haji. Alih-alih menghakimi atau menjauhinya, Mbah Mad justru mendekatinya dengan cara yang sangat halus dan tidak menggurui.

Mendengar keinginan tersebut, banyak pihak mungkin akan mencibir, namun Mbah Mad dengan kerendahhatiannya justru memberikan izin dan restu kepada orang tersebut untuk berangkat ke Tanah Suci. Mbah Mad memegang prinsip bahwa pintu rahmat dan hidayah Allah Swt. tidak boleh ditutup oleh manusia. Beliau memahami bahwa perjalanan haji adalah undangan Allah Swt. yang bisa menjadi jalan hidayah yang tak terduga.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Benar saja, saat menjalani ibadah haji, tepatnya saat berada di Madinah, hati si penjudi ini mulai tersentuh. Keagungan suasana di sana dan kerinduan pada kebenaran yang selama ini tertutup oleh judi akhirnya runtuh. Di tengah prosesi ibadah itulah ia benar-benar bertobat dan memutuskan untuk mulai menjalankan shalat. Ia menyadari bahwa harta melimpahnya tidak ada artinya tanpa sujud kepada Sang Pencipta.

Sepulangnya dari haji, perubahan besar terjadi. Ia tidak lagi menyentuh perjudian dan menjadi ahli shalat yang istiqamah. Sebagai wujud syukur atas hidayah yang ia jemput melalui restu Mbah Mad, ia kemudian menjadi donatur utama dalam pembangunan masjid. Ia bahkan menawarkan diri untuk membiayai sebagian besar pembangunan tersebut, mengubah harta yang dulunya mungkin digunakan untuk hal yang sia-sia menjadi amal jariyah yang bermanfaat bagi umat.

Kisah sederhana ini cukup menegaskan bahwa dalam menghadapi masyarakat, kasih sayang, rendah hati dan menghargai orang lain lebih diutamakan daripada menghadapinya langsung dengan ilmu. Bila dicermati lagi, metode dakwah Mbah Mad ini sejalan dengan metode Wali Songo ketika membumikan Islam di Tanah Jawa. Menurut KH. Said Aqil Siraj dalam KH. Agus Sunyoto, kunci keberhasilan dakwah Wali Songo ini terletak dalam dua strategi. Pertama, bit tadrij yang artinya bertahap. Tidak ada ajaran yang diberlakukan secara mendadak dan semua melalui proses penyesuaian. Kedua, ‘adamul haraj yang artinya tidak menyakiti. Para wali membawa Islam tidak dengan mengusik tradisi masyarakat, bahkan tidak mengusik agama dan kepercayaan mereka, namun memperkuatnya dengan cara yang Islami.10

Pesan Mendalam Mbah Mad: Wirid Sebagai Penyempurna Shalat

Dalam berbagai momen, KH. Achmad Chalwani sering menyampaikan pesan mendalam dari Mbah Mad Watucongol mengenai pentingnya wirid sebagai penyempurna ibadah shalat.

Mbah Mad berkata, ‘shalat tanpa wiridan sama seperti kapal tanpa penumpang. Meskipun kapalnya besar, tapi kosong tidak ada penumpangnya. Di tengah lautan diterpa ombak terombang-ambing, dinaiki tidak akan tenang. Maka orang yang shalat kok tidak pernah wiridan akan kesusahan untuk khusyuk.

Wiridan dipandang sebagai sarana krusial untuk membantu seseorang mencapai kekhusyukan. Sebuah kondisi spiritual yang sangat sulit dicapai tanpa adanya prosesi dzikir dan ketenangan setelah melakukan ibadah wajib.

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Sandaran Spiritual Pemimpin Bangsa

Mbah Mad menjadi tokoh spiritual yang sangat disegani lintas golongan maupun lintas agama, dari masyarakat biasa hingga para ulama dan pemimpin bangsa. Beliau memiliki sekurang-kurangnya tiga ribu jamaah yang tersebar di berbagai daerah, terutama di wilayah eks-Karesidenan Kedu (Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, dan Kebumen).11 Oleh karenanya, Mbah Mad pernah dipercaya menjadi Ketua Paguyuban Umat Beragama Kabupaten Magelang, yang anggotanya terdiri dari pemuka-pemuka lintas agama.12

Salah satu sisi menarik dari kehidupan Mbah Mad adalah hubungan dekatnya dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden keempat Republik Indonesia dari kalangan santri. Watucongol seringkali menjadi persinggahan wajib bagi Gus Dur, terutama saat beliau menghadapi situasi politik yang pelik atau ketika akan mengambil keputusan besar bagi bangsa. Mbah Mad dipandang sebagai “pemberi arah” spiritual yang mampu melihat persoalan dengan mata batin yang tajam. Kedekatan ini menunjukkan bahwa peran Mbah Mad melampaui batas-batas pesantren, yakni menjadi penasihat spiritual bagi tokoh-tokoh kunci di Indonesia.13

Pulang ke Rahmatullah

Mbah Mad menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 82 tahun di Rumah Sakit Harapan Kota Magelang, pada Kamis pagi, 8 Juli 2010, sekitar pukul 05.50 WIB. Jenazah beliau dikebumikan di kompleks pemakaman Santren di Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Jawa Tengah, berdekatan dengan makam Pesantren Darussalam Watucongol yang menjadi pusatnya mengajar.14

Kewafatan Mbah Mad menjadi kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Ribuan pelayat dari berbagai penjuru tanah air memadati kawasan Muntilan untuk memberikan penghormatan terakhir. Beliau dimakamkan di komplek pemakaman keluarga di Gunungpring, sebuah bukit suci yang juga menjadi tempat peristirahatan para leluhur dan ulama besar Magelang. Hingga kini, makam beliau tidak pernah sepi dari peziarah yang datang untuk mengambil berkah dan mengenang jasa-jasa beliau dalam menjaga moralitas serta spiritualitas umat.15

Warisan dan Pesan untuk Generasi Santri

Warisan Mbah Mad bukan hanya berupa tradisi pesantren yang ia teruskan dari keluarganya, tetapi juga jalan sunyi berupa teladan hidup yang mengajarkan kesederhanaan, keikhlasan dan kebajikan spiritual. Keteladanan beliau tetap relevan untuk generasi muda santri dan umat, khususnya dalam menghadapi tantangan moral masa kini.

Meski telah wafat lebih dari satu dekade lalu, kehadiran beliau tetap dikenang oleh ribuan jamaah. Acara haul tahunan di Pondok Pesantren Darussalam Watucongol selalu dipadati oleh jamaah dari berbagai wilayah, bahkan dari luar Pulau Jawa. Pada haul ke-14 saja, tercatat partisipasi lebih dari 20.000 jamaah yang tetap hadir meskipun hujan deras mengguyur acara tersebut. Peringatan ini tidak hanya sekadar ritual tahlilan, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingat kembali pesan moral, etika, dan religiusitas yang beliau ajarkan selama hidup.16

Dengan memahami perjalanan hidup Mbah Mad, generasi muda saat ini diharapkan mampu memetik pelajaran bahwa keilmuan tanpa akhlak tidaklah sempurna, dan bahwa seorang ulama sejati adalah mereka yang hidupnya mencerminkan ajaran yang beliau sampaikan kepada orang lain.

Sumber Referensi:

  1. https://jateng.nu.or.id/tokoh/kh-ahmad-abdul-haq-dalhar-watucongol-magelang-ulama-lintas-golongan-MRU6g ↩︎
  2. https://altsaqafah.id/rasa/kisah/perjuangan-kiai-dalhar-watucongol-mengawal-kemerdekaan-dan-amalannya/ ↩︎
  3. https://jateng.nu.or.id/tokoh/kh-ahmad-abdul-haq-dalhar-watucongol-magelang-ulama-lintas-golongan-MRU6g ↩︎
  4. Ibid. ↩︎
  5. Ibid. ↩︎
  6. Ibid. ↩︎
  7. https://www.laduni.id/post/read/500/kh-ahmad-abdul-haq-mbah-mad.html ↩︎
  8. https://borobudurnews.com/karomah-mbah-mad-watucongol-kiai-nasionalis-dan-karismatik-asal-magelang/ ↩︎
  9. https://youtu.be/0iIyCJrcU-E ↩︎
  10. Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo sebagai Fakta Sejarah (Depok: Pustaka Iiman, 2017), xi. ↩︎
  11. https://borobudurnews.com/karomah-mbah-mad-watucongol-kiai-nasionalis-dan-karismatik-asal-magelang/ ↩︎
  12. https://jateng.nu.or.id/tokoh/kh-ahmad-abdul-haq-dalhar-watucongol-magelang-ulama-lintas-golongan-MRU6g ↩︎
  13. https://gusdur.net/mbah-mad-watucongol-dan-gus-dur/ ↩︎
  14. https://republikjatim.com/news-10593-sosok-kh-ahmad-abdul-haq-putra-mbah-dalhar-watucongol-magelang-sejak-usia-dini-tahu-makam-para-waliyullah-yang-belum-dikenali-warga ↩︎
  15. https://news.detik.com/berita/d-1374026/ribuan-pelayat-antar-pemakaman-kh-ahmad-abdul-haq ↩︎
  16. https://borobudurnews.com/meski-hujan-deras-20-ribu-jamaah-hadiri-haul-mbah-mad-watucongol-muntilan/ ↩︎

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *