Dalam lorong-lorong sunyi pesantren, di mana aroma kertas tua bertemu dengan kekhusyukan doa, kita sering mendapati pemandangan yang serupa: ribuan santri menunduk di atas kitab gundul, menggoreskan makna dengan tinta yang rapat. Mungkin terlintas sebuah tanya, “Mengapa harus serumit itu? Mengapa tidak menggunakan buku terjemahan saja yang lebih praktis?”
Jawabannya bukan sekadar soal tradisi, melainkan sebuah filosofi mendalam tentang menjaga kemurnian cahaya ilmu.
Keterbatasan Jangkauan Terjemahan
Dunia literatur Islam klasik -atau yang aku dan kamu kenal sebagai Kitab Kuning- adalah samudera yang nyaris tak bertepi. Kenyataannya, hanya sebagian kecil dari khazanah tersebut yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia.
Jika santri hanya bergantung pada buku terjemahan, mereka akan terkurung dalam “penjara” referensi yang sangat sempit. Mereka hanya akan membaca apa yang dipilihkan oleh penerbit, bukan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh jiwa dan zaman. Di pesantren, kita diajarkan untuk membuka semua pintu, bukan hanya pintu yang sudah diberi kunci oleh orang lain.
Risiko Reduksi Makna
Bahasa Arab adalah bahasa yang penuh dengan isyrāq (pancaran cahaya) dan kedalaman rasa. Satu kata bisa memiliki sepuluh padanan makna yang berbeda tergantung konteksnya. Terjemahan, bagaimanapun indahnya, adalah sebuah upaya penyederhanaan.
Ada kekhawatiran bahwa tidak semua terjemahan bisa dijadikan pegangan mutlak sebagai tuntunan hukum. Tanpa memahami teks aslinya, seorang penuntut ilmu berisiko kehilangan nuansa, rincian, dan ruh yang tertanam dalam struktur kalimat aslinya.
Dari Penikmat Menjadi Pencetak: Sebuah Mentalitas
Inilah poin yang paling dalam. Pesantren tidak hanya sedang mencetak konsumen ilmu, melainkan produsen pemikiran.
- Bukan Penikmat Terjemahan: Seorang penikmat hanya menerima apa yang sudah jadi. Ia pasif, bergantung pada interpretasi orang lain, dan rentan terhadap kesalahan penyalinan makna.
- Menjadi Pencetak Terjemahan: Dengan mempelajari alat-alatnya (Nahwu, Shorof, Balaghah), seorang santri sedang ditempa menjadi sosok yang mampu membedah teks secara mandiri. Mereka adalah para “pencetak” makna baru bagi masyarakatnya.
“Di pesantren, kita tidak hanya diajarkan untuk meminum air yang sudah disaring orang lain. Kita diajarkan bagaimana cara menggali sumurnya sendiri agar mata air itu tak pernah kering.”
Harapan bagi Masa Depan
Pilihan untuk tetap menggunakan kitab asli adalah sebuah bentuk optimisme. Ini adalah janji bahwa ilmu tidak akan mati dalam sekadar teks yang kaku, melainkan akan terus hidup dan segar melalui tangan para santri yang mampu membacanya langsung dari sumbernya.
Meski jalannya gelap dan terjal -seperti alien di tengah dunia yang serba instan- perjuangan ini adalah demi menjaga agar tuntunan hidup kita tetap murni, dalam, dan berdampak bagi kemaslahatan umat.
Penulis: Alfan Shidqi
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment