Hai, namaku Danish. Aku adalah siswa SMP kelas VIII yang saat ini usiaku sudah 14 tahun. Hari ini aku mendapatkan tugas menulis cerita rakyat di Indonesia. Aku mencoba mencari berbagai referensi cerita yang menurutku cocok untukku. Hingga ku menbuka lembaran berikutnya,
“ah iya…”, aku menyeringai.
“mungkin ‘asal muasak candi Prambanan’.. cukup menarik”, gumamku. Akhirnya, aku membaca cerita tersebut hingga selesai.
“keren sih ini..”, mataku berbinar. Terlintaslah pertanyaan dibenakku yang membuatku penasaran.
“gimana ya, kok bisa candi itu cepat selesai satu malam? Rasanya pengen lihat secara langsung”, heranku.
“AKU TAU!!!”, tiba-tiba saja Robert mengagetkanku begitu saja.
“ah kamu ini.. bikin kaget aja!”, gerutuku.
Robert 101 adalah robotku. Aku sudah menganggapnya ‘teman’. Memang, di tahun 2100 ini serba canggih. Sebagian pendduk memiliki robot di rumah mereka. Robert-lah yang memberikanku wawasan luas. Disaatku penasaran, ia bisa memecahkan masalahnya untukku.
“mau apa kau kesini?”, tanyaku.
“ingin menjawab pertanyaanmu. Kamu bilang, kamu mau lihat reliefnya langsung kan?”, jawabnya. Sontak ku mengangguk mantap.
“mau kuajak??”, Robert menyikutku.
“hah.. pergi ke zaman itu?!”, kataku tak menyangka.
“iya.. tetapi tenang saja ini hanyalah ‘simulasi’”, jawabnya.
“wah.. aku mau dong!! Ayo kesana sekarang!!”, aku mengotot seraya menarik tangan besi Robert.
“baiklah!”, Robert setuju.
Ia terbang hingga diatas kepalaku. Sebuah layar diwajahnya terbentang hingga ke seluruh kamarku. Cahaya hologram membuatku refleks menutup mataku.
“Akhh… udah belum?”, aku masih memejamkan mataku.
“coba buka matamu sendiri”, Robert menyuruhku.
Perlahan..kubuka.. “Hah?!Sore!”, heranku.
Hutan nan rindang, semak belukan, dan sebuah gapura tak jauh mata memandang. Suasananya begitu berbeda dibandingkan dengan kehidupan sekarang. Disana lebih sejuk dan nyaman karena banyak pepohonan. Tak jarang angin bertiup membuatku merasa tenang.
“wow… kayak asli..”, takjubku.
Dengan mimik percaya dirinya, Robert menjawab, “iya dong.. ayo lekas masuk gapura!”, perintah Robert.
Kami menembus dua gapura kembar itu. Bak kami memasuki dunia fantasi. Setelah melewati dua gapura itu, kami melihat sebuah bangunan kerajaan yang indah sekali. Berbagai ukiran, patung dan beberapa unsur-unsur khas Jawa begitu menawan.
“wihh…Jawanya nge-Jawa banget”, aku terpukau.
Disaat kami tengah berkeliling, mataku tertuju pada seorang wanita cantik tengah termenung sendirian dengan raut wajah sedih.
“siapa dia?”, batinku. Sontak ku menarik tangan Robert dan berlari kecil menghampiri wanita itu.
“weii! Mau apa kamu?!”, protes Robert.
“mau nyamperin wanita itu”, jawabku.
“hei..ingatlah ini.. nanti jagalah ucapanmu saat berbicara dengannya. Jangan mengucapkan apapun yang berhubungan dengan alur cerita ini. Nanti otomatis dunia simulasi akan terhenti seketika. Paham?!”, pesan Robert.
Aku menelan ludah mengangguk. Lantas kamu menghampiri wanita itu.
“permisi mba, mba kenapa sedih?”, tanyaku. Wanita itu tersadar dan berkata, “huh?? Siapa kalian?”, Tanya wanita itu.
“eee… mmm.. kita hanya pengelana disini. Omong-omong siapa anda? Mengapa anda terlihat sedih?”, tanyaku penasaran.
“aku adalah Nyi Roro Jonggrang. Seorang putri di kerajaan ini. Saya bersedih sebab ada seorang patih yang ingin meminang saya”, jawab Roro Jonggrang.
“hah..pu-putri?!!”, sahutku dengan nada bergetar.
“mengapa anda tidak menerima lamaran itu? Apakah anda tidak mencintai beliau?”
“bukan begitu! Aku sebenarnya ingin menerimanya. Tapi, ialah orang yang membuat ayahanda saya gugur saat memperebutkan takhta kerajaan ini. Hingga akhirnya ia menang dan menguasai kerajaan Prambanan. Ialah…. Bandung Bondowoso”, jelas Roro Jonggrang.
Mendengar itu, tubuhku rasanya seperti gemetar sampai ubun-ubun.
“aku memberinya syarat… membangun 1000 candi hanya satu malam. Tapi setelah kulihat… ia dibantu oleh para jin. Aku khawatir ia segera selesai sedangkan ini masih malam…”, keluh Roro Jonggrang. Aku tertegun mendengar penjelasan itu.
“ah iya!! Siapa namamu, nak?”, Tanya Roro Jonggrang.
“A-ku..D-Danish dan ini Robert”, jawabku.
“kalian bisakah menolongku bersama para dayang-dayangku?”,
Roro Jonggrang menunjuk para dayang-dayangnya yang tengah menumbuk dan membakar jerami diatas lesung (tung…tung…)
“ee…t-api.. jika anda merencanakan ini.. anda bisa-mmphh…”, mulutku ditutup paksa oleh Robert. Robert menepuk bahuku dan berbisik,
“sudah kubilang jangan bongkar!”, bisiknya.
“iya.. abis a-ku agak greget tadi..”, aku beralasan.
“iya, tuanku. Kami bersedia membantu supaya api ini bisa menyala besar layaknya fajar tiba”, janjiku.
Pergilah aku menumbuk jerami diatas lesung bersama Robert. Hingga api bergejolak membuat langis seakan-akan fajar telah tiba. Di tengah aku sedang sibuk menumbuk, aku melihat bangunan candi yang megah, membuatku ingin meihatnya.
“eh, Robert. Aku mau ngecek candinya bentar…”, kataku.
“jangan lama-lama!”, tegasnya.
“siap.”
Segeralah aku mendekati sumber candi itu, lalu mengintip dibalik semak-semak.
“hah.. Bandung Bondowoso?!”, aku tak menyangka.
“sisa berapa candi lagi?”, Tanya Bandung.
“sisa satu lago, Tuan.”, jawab salah satu jin. Disaat itu juga suara ayam berkokok bergiliran. Mereka kira fajar telah tiba. Para jin juga merasa demikian.
“maaf tuan, fajar telah tiba. Kami tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini. Candi masih ada 999 buah, Tuan.”, lapor jin itu.
“Akhh…dasar…”, Bandung menepuk jidatnya. Para jin pun kabur meninggalkan Bandung Bondowoso.
“Ah mendingan gua kabur aja daripada ketahuan..”, kataku.
Aku berlari pontang-panting segera kembali. Sesampainya aku disana, mereka telah selesai membakar jerami itu.
“hah…hah…”, napasku tersengal.
“tuanku… heh.. tuan Bandung.. belum sempat meneruskan candinya.”, jelasku dengan suara terbata-bata.
“akhirnya…”, respon Roro Jonggrang dengan nada serius.
“kalian berdua boleh ikut denganku. Tapi, tetaplah diam dibalik semak-semak. Jangan menghalangi permasalahan ini.”
“baik!”, jawabku dan Robert serempak. Kami bertiga berjalan menuju kerajaan Bandung Bondowoso.
Sesampinya disana…
“terimakasih, karena kalian sudah menolongku. Tetapi kali ini kalian tetaplah ditempat”, pesan Roro Jonggrang.
Alhasil… kami berdua harus mengintip di balik semak-semak.
“Roro Jonggrang!”, sambut Bandung dengan nada serius.
“bagaimana, apakah anda telah memenuhi syarat saya??”, Tanya Roro Jonggrang tak kalah serius.
“hanya 999 buah..”, jawab Bandung. Ia menghela nafas dan berkata, “maafkan hamba kanjeng Roro Jonggrang. Hamba belum bisa memenuhi syaratku. Tapi, bolehkah kau memberiku kesempatan lagi”, harap Bandung seraya bertekuk lutut dan meraih tangan Roro Jonggrang.
“tidak..!”, jawab Roro Jonggrang melepaskan tangan Bandung dan berjaga jarak mengeluarkan tatapan tak senang.
“syarat tetaplah syarat. Itu berarti kau gagal memenuhi syarat saya.”, protes Roro Jonggrang.
Tatapan dingin dan serius Bandung Bondowoso membuatku menelan ludah, merinding. Meski tatapan datar itu menghiasi wajahnya, tapi di lubuk hatinya menyimpan amarah dan tekanan batin. Dengan wajah tersenyum sinis, ia tertawa puas seraya berkata,
“hahahaha!!! Kalau begitu, kau saja yang akan menjadi candi ke-1000!!!”, ucapnya sambal mengulurkan tangannya.
Mata Roro Jonggrang terbelalak, begitu juga denganku. Lantas, Bandung memenggal tubuh Roro Jonggrang sehingga ia tak dapat bergerak.
“heh?! Kau mau kemana tetaplah ditempat!!” pinta Robert sambil menarik paksa tanganku.
“sshh… lepaskan saya!! Apa yang kamu lakukan?!”, seru Roro Jonggrang dengan napas tersengal.
“heh,, selamat tinggal, Roro…”, (CTASSSS)
Bandung melontarkan serangan pada Roro Jonggrang yang membuat Roro menjadi….. candi ke-1000.
“HAH?! Ke-kenapa??!”, aku tak menyangka. Belum sempat ku melanjutkan kalimatku, tiba-tiba dunia simulasi berhenti. Dan aku kembali berada di kamar.
“Woi! Robert!! Baru lihat sekilas udah berhenti aja!!”, protesku.
“sebenarnya dunia simulasi ini dibatasi waktu. Kita telah melewati batas waktu”, jelas Robert.
“yah… gara-gara kita numbuk jerami sih!”, ucapku tertawa geli. Kami tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya.
“tapi.., kasian juga si Roro Jonggrang”, ucapku.
Yah, tadi itu menyenangkan, meski hanya dunia simulasi, hari ini begitu keren. Aku jadi tahu asal muasal Candi Prambanan membuatku bangga menjadi anak Indonesia.
Penulis: Annisa Eka Widyawati (Kelas VIII H)

Comment