Terkias sudah duka Ibu Pertiwi:
Nestapa, memandang perilaku para putera bangsa.
Kepakan Sang Garuda turut berhenti.
Kecewa bahwa keberagaman telah sirna.
Para saka bangsa seolah lupa
akan tugas membelai Alam Pusaka.
Jagat budaya kini berangsur tiada,
laksana baskara di ufuk senja.
Tuturan darah kian semakin langka,
tergeser oleh aksen negeri nan jauh di sana.
Sehingga Pusaka Negara kini tinggal cerita.
Simponi tradisi perlahan sirna dalam diri.
Jagat budaya kian terkikis dari sanubari.
Menyisakan secukup fiksi dalam mimpi:
indah, namun tak dapat dimiliki.
Dimanakah aneka budaya yang pernah ada?
Dimanakah masa terindah yang dilalui darinya?
Kini, hanya serangkai buah bibir belaka
yang terlontar dari kedua penopang jiwa,
tanpa adanya bukti bahwa ia sangatlah nyata.
Penulis: Fatih Fadilah

Comment