Home / Santri Menulis / Di Balik Sikat Kamar Mandi, Aku Menemukan Makna Riyadhoh
Artikel Cerpen Santri Menulis

Di Balik Sikat Kamar Mandi, Aku Menemukan Makna Riyadhoh

Sepoi angin malam menembus kulit menggelitik tulangku. Namun, tidak memadamkan api kesemangatanku untuk piket membersihkan kamar mandi, karena ini adalah hal baru untukku. Ya, sudah sekitar 2 minggu aku nyantri di An-Nawawi dan mendapat tugas piket membersihkan kamar mandi bersama teman-teman sekamar mungkin akan menjadi hal yang menyenangkan.

“Koe nyikat sing sebelah kono bae,” komando Mas Abe, pengampu kamarku.

“Siap, Mas.”

“Cuma nyikat saja si easy,” batinku. 15 menit berlalu dan aku masih menyikat dinding-dinding kamar mandi SANIMAS dengan diiringi rasa punggung yang mulai bengkek. “Ujarku simpel jebul kesel,” tangan yang tadi gesit menyikat sana-sini sekarang mulai kendor.

Sambil terus menyikat, aku masih belum percaya aku bisa sampai di sini. Sambil mengingat-ingat bagaimana orang tuaku meninggalkan diriku di sini. “Nang pondok sing priatin, aja boros-boros!” pesan Ibuku sebelum pulang ke rumah. “Nggeh, Ma,” jawabku sambil tersenyum. Kejadian tersebut membuatku flashback acara ta’aruf yang lalu, ketika Mas Na bercerita bahwa beliau mondok karena dipaksa orang tuanya dan menceritakan bagaimana saat beliau diantar oleh keluarganya. “Keren si beliau, mondoknya dipaksa tapi bisa bertahan sampai selesai,” batinku.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

“Nek wis nko pindah sing sebelah njaba ya!” teriak Mas Abe dari kamar mandi sebelah.

“Nggeh, Mas,” celetukku sambil menggerutu di dalam hati. “Aduh, tambah kesel kie lah.”

Setelah selesai di bagianku aku pindah ke bagian luar kamar mandi yang ditunjuk Mas Abe. “Hahh… yuh lah sitik maning,” hiburku memberi semangat kepada diri sendiri dalam hati.

Tanganku benar-benar kehabisan tenaga. Aku masih heran melihat teman-teman yang lain masih menyikat sudut-sudut kamar mandi tanpa terlihat rasa lelah, bahkan sambil tersenyum. “Kok isa? Ora kesel pa ya?” Seketika aku teringat dawuh Mbah Yai tentang riyadhoh di acara ta’aruf. Aku belum sepenuhnya paham tentang riyadhoh, mungkin mereka mengamalkan dawuh riyadhoh tersebut. Mbah Yai bercerita saat mondok dulu beliau ber-riyadhoh puasa Daud, bahkan beliau rela berjalan sejauh 3 km dari pondok ke sawah untuk matun dan beliau meniatkan hal tersebut untuk riyadhoh. “Jika santri-santri dulu sebegitu semangatnya dalam proses mencari ilmu, bahkan dengan fasilitas yang terbilang masih seadanya, lalu kenapa santri sekarang yang fasilitasnya terbilang sudah cukup untuk mendukung proses belajar masih mengeluh dengan keadaan,” pikirku dalam hati.

“Wis rampung kabeh?” tanya Mas Abe pada anak-anak kamar.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

“Sampun, Mas.”

“Ya wis, siki alat-alate ditatani bareng-bareng, trus balik ke kamar, macit-macit,” ajak Mas Abe pada yang lain.

“Okee… Mas,” jawab anak-anak kamar serentak, mungkin tidak sabar ingin macit-macit, hehe.

Hangatnya kebersamaan mengalahkan dingin malam yang masuk melewati celah-celah ventilasi kamar. Canda dan tawa seakan menghempaskan rasa lelah kami, namun di tengah-tengah hangatnya canda dan tawa aku masih bertanya-tanya tentang apa makna riyadhoh. Aku memberanikan diri bertanya pada Mas Abe.

“Mas, riyadhoh itu apa sih? Yang dijelaskan oleh Mbah Yai kulo dereng patia paham.”

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Mas Abe tersenyum mendengar pertanyaan kecilku.

“Riyadhoh itu proses tazkiyatun nafs atau proses membersihkan hati. Jadi, ilmu itu hanya bisa masuk ke orang yang hatinya bersih. Jika belajar tanpa dibarengi tazkiyatun nafs, ilmu itu hanya singgah di otak, tidak singgah di hati. Salah satu bentuk riyadhoh yang sering disampaikan oleh Mbah Yai itu jama’ah, karena الْجَمَاعَةُ أُمُّ الرِّيَاضَةِ (al-jamā‘atu ummu ar-riyāḍah). Jama’ah itu induknya riyadhoh.”

Panjang lebar kali tinggi Mas Abe menjelaskan apa itu riyadhoh, namun aku masih juga belum mengerti.

“Tesih dereng paham kulo, Mas, hehe.”

Mas Abe tersenyum sambil mengusap rambutku.

“Mulane ngesuk ngajine sing sue yaa.”

“Nggeh, Mas.”

Malam itu terasa hangat bagiku dan semoga aku bisa memahami makna riyadhoh.

“Ya Allah, Paringono kesehatan lan qobulaken hajatipun guru-guru kulo, Paringono rezeki ingkang lancar kagem tiang sepah kulo anggenipun mbiyayani kulo wonten pondok, Paringono kulo kiat anggenipun tholabul ngilmi wonten Pondok Pesantren An-Nawawi,” doa dalam batinku sebelum tidur.

Oleh: Ahmad Faaza Abdul Karim
Ikatan Santri Kebumen
II MDR B

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *