Bulan Syaban merupakan salah satu bulan istimewa dalam kalender Hijriah. Dalam tradisi Islam, khususnya di kalangan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, Syaban dikenal sebagai bulan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Keutamaan ini dijelaskan dalam berbagai nash syariat serta keterangan para ulama dalam kitab-kitab klasik, di antaranya Mādzā fī Sya‘bān karya Sayyid Muḥammad bin ‘Alawi al-Maliki al-Hasani.
Dalam Mādzā fī Sya‘bān, Sayyid Maliki menjelaskan bahwa bulan Syaban adalah bulan yang sering dilalaikan oleh banyak manusia karena posisinya berada di antara dua bulan besar, Rajab dan Ramadhan. Padahal, Rasulullah Saw. justru memperbanyak ibadah pada bulan ini sebagai bentuk persiapan ruhani.1
Penjelasan ini sejalan dengan hadis yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid RA, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan Syaban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah, dan aku senang apabila amalku diangkat dalam keadaan berpuasa.” (HR. an-Nasā’ī, no. 2357)
Selain puasa, Sayyid Maliki menegaskan bahwa amalan yang sangat dianjurkan pada bulan Syaban adalah memperbanyak sholawat kepada Nabi Saw. Beliau menyebutkan bahwa sebagian ulama salaf bahkan menamai bulan Syaban sebagai bulan sholawat kepada Rasulullah Saw.:
وكان بعض السلف يسمّي شهر شعبان شهر الصلاة على النبي ﷺ
“Sebagian ulama salaf menamai bulan Syaban sebagai bulan sholawat kepada Nabi Saw.”2
Anjuran memperbanyak sholawat ini sejalan dengan firman Allah Swt.:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. al-Aḥzāb: 56)
Keutamaan sholawat juga ditegaskan oleh al-‘Izz bin ‘Abdissalam dalam Qawā‘id al-Aḥkām fī Maṣāliḥ al-Anām, bahwa sholawat merupakan bentuk syukur atas nikmat terbesar berupa diutusnya Rasulullah Saw. sebagai pembawa hidayah:
الصلاة على النبي ﷺ شكرٌ لله تعالى على أعظم نعمه، إذ كان سببًا لهداية الخلق3
Sementara itu, Qadi ‘Iyad dalam asy-Syifā’ bi Ta‘rīf Ḥuqūq al-Muṣṭafā menegaskan bahwa memperbanyak sholawat merupakan bagian dari pengagungan dan bukti kecintaan kepada Rasulullah Saw.:
ﷺ:ومن توقيره ﷺ وتعظيمه كثرةُ الصلاة عليه، والدعاء له4
Pentingnya adab dalam bersholawat juga sering ditekankan para ulama. Dikisahkan bahwa Imam al-Ghazali sangat menjaga adab ketika menuliskan sholawat kepada Nabi Saw., dengan selalu menyertakan salam secara sempurna. Kisah ini disebutkan dalam pembahasan adab bersholawat oleh para ulama, sebagai pengingat bahwa sholawat bukan sekadar lafaz lisan, tetapi ibadah yang menuntut pengagungan lahir dan batin.
Oleh karena itu, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki menegaskan bahwa bulan Syaban seharusnya diisi dengan sholawat yang berkualitas: dilakukan dengan penuh kesadaran, adab, dan rasa cinta kepada Rasulullah Saw., sebagai bekal ruhani sebelum memasuki bulan suci Ramaḍhan.5
Tradisi memperbanyak sholawat ini terus hidup di tengah masyarakat Nahdliyin melalui majelis-majelis sholawat, amalan rutin, serta doa malam Nishfu Syaban. Dengan memperbanyak sholawat di bulan Syaban, umat Islam diharapkan memperoleh limpahan rahmat, diangkat derajatnya, dan kelak mendapatkan syafaat Rasulullah Saw.
Sumber Referensi:

Comment