Home / Kajian / 14 Februari Bukan Valentine’s Day, tetapi Hadratus Syaikh’s Day
Kajian

14 Februari Bukan Valentine’s Day, tetapi Hadratus Syaikh’s Day

Setiap 14 Februari, dunia modern menampilkan wajah romantisme yang meriah. Valentine dirayakan dengan bunga, cokelat, kartu ucapan, dan berbagai ekspresi cinta yang dibingkai secara komersial. Di Indonesia, arus budaya ini ikut mengalir deras melalui media sosial dan gaya hidup generasi muda.

Namun bagi warga Nahdlatul Ulama, tanggal ini tidak boleh dibaca secara dangkal. Ia harus dipahami secara historis dan ideologis. Sebab di balik popularitasnya, 14 Februari memiliki akar sejarah non-Islam. Dan lebih dari itu, bagi Nahdliyin, tanggal ini adalah hari lahir Hadratussyaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari—pendiri Nahdlatul Ulama.

Jejak Sejarah Valentine, Dari Pembangkangan terhadap Kaisar hingga Tradisi Gereja

Valentine merujuk pada Santo Valentinus, tokoh Gereja abad ke-3 Masehi yang hidup pada masa Kaisar Romawi, Claudius II. Pada masa itu, Kekaisaran Romawi sedang dilanda peperangan. Claudius II meyakini bahwa pria lajang lebih kuat dan fokus sebagai tentara dibanding pria yang telah berkeluarga. Karena itu, ia melarang pernikahan bagi para pemuda. Valentinus menentang kebijakan tersebut. Ia tetap menikahkan pasangan muda secara sembunyi-sembunyi sebagai bentuk kesetiaan pada ajaran Gereja tentang sakramen pernikahan.

Tindakan ini dianggap sebagai pembangkangan terhadap negara. Ia ditangkap, dipenjara, dan akhirnya dihukum mati pada 14 Februari sekitar tahun 269 M.Tradisi Gereja kemudian menetapkan tanggal tersebut sebagai hari peringatan Santo Valentinus. Seiring waktu, ia berkelindan dengan festival Romawi kuno Lupercalia yang dirayakan pertengahan Februari sebagai ritual kesuburan. Dari sinilah tradisi tersebut berkembang menjadi perayaan romantisme di Eropa hingga akhirnya mendunia.

Sebagaimana dijelaskan dalam artikel NU Online: “Valentine’s Day berasal dari tradisi Gereja Katolik yang merujuk pada nama seorang martir Kristen bernama Santo Valentinus. Dalam catatan sejarah, terdapat beberapa tokoh bernama Valentinus yang dihukum mati pada 14 Februari pada abad ketiga Masehi di masa Kekaisaran Romawi. Tradisi ini kemudian berkembang di Eropa sebagai perayaan kasih sayang.”

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Sejarah ini menunjukkan bahwa Valentine bukan tradisi yang lahir dari khazanah Islam, melainkan dari sejarah gerejawi dan Romawi kuno.

Menjaga Marwah Aswaja Serta Sikap Ideologis Warga Nahdliyin

Bagi warga Nahdliyin, sikap terhadap fenomena seperti Valentine bukan sekadar soal boleh atau tidak, tetapi soal menjaga marwah akidah dan identitas.

Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِن قَبْلُ

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah sesat sebelumnya.” (QS. Al-Ma’idah: 77)

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Ayat ini menjadi fondasi. Islam memerintahkan umatnya untuk tidak mengikuti tradisi suatu kaum apabila hal tersebut berkaitan dengan identitas dan keyakinan yang menyimpang. Substansinya bukan kebencian, melainkan penjagaan prinsip.

Prinsip ini dipertegas oleh sabda Nabi Saw.:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)

Hadis ini menjadi penjelas (bayan) atas ayat tersebut. Penyerupaan dalam hal yang menjadi ciri khas atau simbol keagamaan tertentu dapat mengikis identitas keislaman. Ulama menjelaskan bahwa tasyabbuh yang menyentuh syiar agama lain termasuk perkara yang harus dihindari.

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Dalam konteks jam’iyah, Nahdlatul Ulama sejak awal berdirinya menegaskan komitmen menjaga manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dan mempertahankan tradisi Islam Nusantara dari arus ideologi maupun budaya yang berpotensi menggerus akidah.

Maka sikap warga Nahdliyin bukan sekadar “tidak ikut-ikutan”, tetapi sebuah kesadaran ideologis, yakni kita memiliki tradisi sendiri, memiliki hari-hari besar sendiri, memiliki figur-figur teladan sendiri. Tidak perlu mencari identitas di luar, ketika khazanah Islam kita begitu kaya.

Pesan moralnya tegas: jadilah generasi yang bangga menjadi Nahdliyin. Jangan sampai romantisme sesaat mengalahkan prinsip yang diwariskan para ulama.

Menjadikan 14 Februari sebagai Momentum Menghormati Hadratus Syaikh

Tanggal 14 Februari memang sering diarahkan pada perayaan Valentine yang sarat simbol dan budaya populer. Namun bagi warga Nahdlatul Ulama, tanggal tersebut justru memiliki makna ideologis: hari kelahiran Hasyim Asy’ari, Hadratus Syaikh yang meletakkan fondasi perjuangan Ahlussunnah wal Jama’ah di Nusantara. Jika publik diajak merayakan cinta dalam makna simbolik, maka kader NU seharusnya menghidupkan cinta yang lebih substansial—cinta kepada agama, ulama, dan tanah air sebagaimana dicontohkan beliau.

Perjuangan Hadratus Syaikh bukan sekadar catatan sejarah, melainkan warisan sikap dan karakter. Dari pesantren hingga keputusan besar seperti Resolusi Jihad, beliau menunjukkan bahwa ilmu harus melahirkan keberanian moral. Dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, beliau menegaskan pentingnya adab dan kesungguhan dalam menuntut ilmu sebagai jalan kemuliaan. Substansinya jelas: kekuatan umat tidak dibangun oleh seremoni, tetapi oleh kedalaman ilmu, keteguhan akidah, dan kemuliaan akhlak.

Karena itu, 14 Februari selayaknya menjadi “gong” kesadaran bagi kader Nahdliyin. Daripada larut dalam perayaan yang tidak berakar pada tradisi perjuangan kita, lebih bermakna menjadikannya momentum takzim dan refleksi atas warisan Hadratus Syaikh. Menghormati hari lahir beliau berarti memperbarui komitmen untuk menjaga marwah ulama, merawat sanad keilmuan, dan melanjutkan perjuangan Islam yang kokoh dalam prinsip serta santun dalam gerakan.

Sumber Foto: tebuireng.online

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *