Lengkung senyum itu pernah saling bertemu.
Namun, batas dingin suatu tatapan seolah merenggut waktu.
Layaknya anatiya,
Dinding kaca semakin meninggi tak kasat mata.
Aksa terasa, padahal atma di depan netra.
Dulu, seuntai percakapan selalu tercipta.
Menitipkan sapaan pada cerita sederhana.
Namun, sekarang seolah amnesia.
Temaram rasa hati,
Betapa getirnya sunyi ini.
Hanya tersisa sapaan yang mati.
Semua tak lagi berarti.
Cakrawala seolah mengerti.
Aku bagaikan debu yang tak berarti.
Tak apa,
Nyala renjana takkan pernah sirna.
Kala sandyakala,
Berpapasan dalam diam,
dan menitipkan salam kepada sang malam.
Penulis: Mira Fuadia Syofa

Comment