Home / Narasi Santri / Puisi / Hingga Langit Mengiyakan
Ada ribuan suara yang menggema,
Menembus lapisan bumantara.
Melampaui batas logika dan bicara,
Ia adalah do'a.

Tak butuh teriak untuk didengar,
Sebab dalam sunyi, getarannya paling pijar.
Tak butuh alasan untuk dikabulkan,
Hanya ketulusan yang diletakkan dalam penantian.

Setiap kata yang diulang adalah benih,
Yang disiram dengan air mata yg jernih.
Mungkin belum tampak hijaunya hari ini,
Tapi di bawah tanah, ia sedang menyiapkan untuk bersemi.

Ada nikmat dalam kehilangan,
Yang menjauhkan kita dari mara bahaya yang tak terlukiskan.
Ada nikmat dalam penantian,
Yang mengajari hati tentang arti sebuah kesabaran.

Mengapa masih diulang?
Bukan karena ia lupa.
Tapi karena ia ingin aku terus dihadapan-Nya.
Dialog sunyi di jam yang sama,
Menenun asa kepada sang pencipta.
Bait-bait akan selalu kulangitkan,
Hingga Langit mengiyakan.

Penulis: Mira Fuadia Syofa

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *