Saya masih ingat betul fase itu.
Fase di mana hari-hari terasa panjang, tapi bukan karena waktu berjalan lambat, melainkan karena hati yang mulai lelah. Hidup di pesantren, yang dulu saya jalani dengan penuh semangat, perlahan berubah menjadi rutinitas yang terasa berat.
Bangun sebelum subuh, mengaji, sekolah, kembali mengaji, lalu mengulang semuanya keesokan hari. Tidak ada yang salah dengan itu. Semua memang sudah menjadi bagian dari kehidupan santri. Tapi entah kenapa, saat itu saya mulai merasa kosong.
Saya tetap menjalani semuanya. Dari luar, mungkin terlihat baik-baik saja. Tapi di dalam, saya mulai goyah. Ada momen di mana saya duduk sendiri, dan bertanya dalam hati,
“Sampai kapan saya bisa seperti ini?”
Bahkan, untuk pertama kalinya, saya mulai merasa ingin berhenti.
Bukan karena saya tidak mampu, tapi karena saya tidak lagi yakin apakah saya bisa bertahan. Saya tidak menceritakan itu ke siapa pun. Saya simpan sendiri, seperti kebanyakan orang yang memilih diam saat lelah. Sampai akhirnya, suatu hari, seorang yang lebih tua dari saya memanggil.
Tidak ada suasana khusus. Tidak ada pembicaraan panjang. Bahkan beliau tidak banyak bertanya. Tapi entah bagaimana, rasanya seperti beliau tahu apa yang sedang saya rasakan. Beliau hanya menatap saya sejenak, lalu berkata pelan,
“Kamu itu jangan cuma kuat di awal. Banyak orang bisa memulai, tapi sedikit yang benar-benar bertahan.”
Saya terdiam.
Kalimat itu sederhana. Sangat sederhana, bahkan terasa seperti nasihat yang biasa saja. Saya mengangguk, lalu pergi. Saat itu, saya belum benar-benar mengerti. Tapi setelah hari itu, semuanya mulai berbeda.
Kalimat itu seperti tinggal di kepala saya. Muncul lagi dan lagi, terutama di saat-saat saya mulai lelah. Saat saya ingin berhenti, saat saya merasa tidak kuat, saat saya mulai kehilangan arah.
Dan perlahan, tanpa saya sadari, saya mulai melihat diri saya dengan lebih jujur.
Ternyata selama ini saya memang seperti itu.
Saya mudah bersemangat di awal, tapi sering kehilangan tenaga di tengah jalan. Saya ingin hasil yang baik, tapi tidak cukup kuat untuk menjaga prosesnya. Saya ingin berubah, tapi tidak terbiasa bertahan.
Di titik itu, saya mulai mencoba sesuatu yang sangat sederhana yaitu tidak menyerah hari ini.
Bukan tentang berubah drastis. Bukan tentang langsung menjadi lebih baik. Tapi hanya tentang tetap menjalani satu hari lagi, meski dengan langkah yang pelan.
Tetap bangun, meski berat.
Tetap mengaji, meski mengantuk.
Tetap belajar, meski tidak mood.
Dan di situlah, saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda.
Saya mulai paham bahwa bertahan itu bukan sesuatu yang besar dan terlihat hebat. Justru seringkali, ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana -dalam keputusan kecil untuk tidak berhenti.
Di tengah proses itu, saya teringat satu ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga serta bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
(QS. Ali ‘Imran: 200)
Ayat itu terasa sangat dekat. Seolah-olah bukan sekadar perintah, tapi juga pengingat bahwa dalam hidup ini, kita memang akan diminta untuk terus bersabar. Bukan hanya sekali, tapi berulang kali. Bukan hanya di awal, tapi sepanjang perjalanan.
Lalu saya teringat ayat lain:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ
“Maka tetaplah engkau (Muhammad) pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan…” (QS. Hud: 112)
Kata “فَاسْتَقِمْ” berarti “tetaplah istiqamah” yang dulu sering saya dengar, tiba-tiba terasa berbeda.
Ternyata istiqamah itu bukan tentang selalu kuat. Bukan tentang tidak pernah lelah. Tapi tentang tetap berjalan, meski sedang lelah.
Tentang tetap berada di jalan yang sama, meski tidak selalu mudah. Hari-hari di pesantren tidak berubah. Rutinitasnya tetap sama. Tapi cara saya menjalaninya perlahan berubah. Sekarang, saya tidak lagi terlalu sibuk memikirkan kapan semua ini akan selesai.
Saya lebih fokus pada bagaimana saya menjalaninya hari ini. Saya tidak lagi terlalu menuntut diri untuk selalu semangat. Saya hanya berusaha untuk tidak berhenti. Karena saya mulai sadar, mungkin yang Allah lihat bukan seberapa cepat saya sampai, tapi seberapa kuat saya bertahan. Dan dari seorang yang lebih tua di pesantren, dari satu kalimat yang awalnya terasa biasa, saya belajar sesuatu yang tidak pernah benar-benar saya pahami sebelumnya,
Bahwa dalam hidup, yang paling sulit bukan memulai,
tapi tetap bertahan sampai akhir.
Penulis: Muhammad Syafi’i
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment