Home / Refleksi / Antara Ngaji dan Mimpi: Perjalanan yang Mulai Saya Pahami
Himpunan Daerah HISANDA Narasi Santri Refleksi

Antara Ngaji dan Mimpi: Perjalanan yang Mulai Saya Pahami

Menjadi santri mengajarkan saya satu hal yang dulu tidak pernah benar-benar saya pahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana yang kita susun dengan begitu rapi.

Dulu, saya memiliki satu cita-cita yang begitu jelas yakni menjadi seorang polisi. Mimpi itu bukan sekadar angan-angan. Ia hidup dalam diri saya, tumbuh bersama semangat, dan sering kali saya bayangkan dalam diam, yaitu membanggakan orang tua, berdiri tegak dengan seragam, dan menjadi seseorang yang berguna bagi banyak orang.

Namun hari ini, di tengah perjalanan saya di pondok, mimpi itu terasa berbeda. Bukan hilang, bukan juga saya lupakan… tapi ia menjadi samar. Seakan-akan tertutup oleh proses yang sedang saya jalani.

Hari-hari di pondok tidak selalu mudah. Bangun sebelum subuh, menjalani rutinitas yang padat, menghafal, memahami, dan terus belajar dalam keterbatasan. Di sela-sela itu, ada rasa rindu yang tidak selalu bisa diungkapkan. Ada lelah yang tidak selalu terlihat. Dan ada pertanyaan yang sering muncul diam-diam:

“Saya ini sebenarnya sedang menuju ke mana?”

Asrama Khotib Sambas Semarakkan Penghujung Semester dengan ASKHOS STARS

Di titik itulah saya mulai merenung. Bahwa mungkin, selama ini saya terlalu fokus pada hasil, sampai lupa memahami proses.
Saya teringat sebuah maqalah ulama:

مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ

“Barang siapa bersabar, maka ia akan beruntung.”

Kalimat itu sederhana, tapi terasa sangat dalam. Seakan menjadi jawaban atas kegelisahan yang selama ini saya simpan sendiri. Bahwa tidak semua hal harus segera jelas, tidak semua jalan harus langsung terlihat ujungnya.

Pondok perlahan mengajarkan saya tentang sabar yang sebenarnya. Bukan sekadar menunggu, tapi tetap berjalan meski tidak tahu pasti ke mana arah akhirnya.

S2 Tak Lagi Jalan Panjang, IAI An-Nawawi Buka Skema Lulus Setahun Tanpa Tesis

Saya juga mulai memahami bahwa mimpi tidak selalu berarti harus dikejar dengan cara yang sama seperti dulu. Kadang, Allah mengubah jalannya, menguatkan diri kita terlebih dahulu, sebelum benar-benar memberikan apa yang kita inginkan.

Seperti yang dikatakan oleh Imam Syafi’i:

مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً
تَجَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُولَ حَيَاتِهِ

“Barang siapa tidak merasakan pahitnya belajar walau sesaat, maka ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.”

Dari sini saya mulai mengerti, bahwa apa yang saya jalani hari ini -meski terasa berat dan kadang membingungkan- sebenarnya adalah bagian dari proses yang sedang membentuk saya.

Memaknai Hardiknas dari Jejak Ki Hajar Dewantara hingga Semangat Pesantren ala Douwes Dekker

Mungkin saya belum menjadi apa yang dulu saya cita-citakan. Mungkin jalannya tidak lagi sejelas dulu. Tapi saya percaya, tidak ada langkah yang sia-sia.

Setiap ayat yang saya pelajari, setiap rasa lelah yang saya tahan, setiap do’a yang saya panjatkan di sepertiga malam, semuanya sedang menata masa depan saya, dengan cara yang mungkin belum sepenuhnya saya pahami hari ini.

Kini saya tidak lagi terlalu sibuk mempertanyakan kenapa mimpi itu terasa menjauh. Saya hanya berusaha menjaga langkah, memperbaiki diri, dan tetap berjalan.

Karena saya mulai percaya…
bahwa antara ngaji dan mimpi, saya tidak sedang kehilangan arah, saya hanya sedang diproses untuk menjadi seseorang yang lebih siap ketika waktunya tiba.

Penulis: Muhammad Syafi’i

Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Related Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *