Hari Buku Sedunia
Membaca bukan kebiasaan yang sejak awal dekat dengan saya. Dulu, buku hanya sekadar ada -tidak dihindari, tapi juga tidak benar-benar dicari. Saya tahu membaca itu penting, tetapi belum pernah merasa benar-benar membutuhkannya.
Perlahan, itu berubah ketika saya mengenal seseorang yang sangat menyukai buku. Cara dia melihat bacaan terasa berbeda. Ia tidak hanya membaca, tetapi juga memahami dan menemukan makna di dalamnya. Dari situ, saya mulai menyadari bahwa buku bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan cara untuk melihat sesuatu dengan sudut pandang yang baru.
Akhirnya, saya mulai membaca. Awalnya sederhana, hanya karena rasa ingin tahu -apa yang membuat seseorang bisa begitu dekat dengan buku. Dari rasa penasaran itu, saya mulai membuka halaman demi halaman, meskipun saat itu belum sepenuhnya berasal dari keinginan diri sendiri.
Namun seiring waktu, sesuatu mulai berubah. Membaca tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang dilakukan karena alasan tertentu. Saya mulai menikmati prosesnya. Ada hal-hal baru yang saya temukan, bukan hanya dari isi buku, tetapi juga dari cara saya memahami diri sendiri. Beberapa tulisan terasa dekat, bahkan seperti menjelaskan hal-hal yang sebelumnya sulit saya pahami.
Dari situ saya mulai sadar, membaca bukan soal seberapa banyak buku yang selesai dibaca. Yang lebih penting adalah apa yang kita pahami dan rasakan setelahnya. Satu buku bisa berarti banyak, jika benar-benar kita hayati.
Hari Buku Sedunia menjadi pengingat bahwa membaca bukan hanya tentang kebiasaan, tetapi juga tentang proses. Di tengah kebiasaan serba cepat sekarang, kita sering membaca sekilas tanpa benar-benar memahami. Padahal, membaca yang baik justru membutuhkan waktu -untuk berhenti sejenak, berpikir, dan meresapi.
Pengalaman saya mungkin sederhana. Berawal dari ketertarikan pada seseorang, lalu perlahan berubah menjadi ketertarikan pada buku itu sendiri. Dari situ saya belajar bahwa awal dari sebuah kebiasaan tidak harus selalu sempurna. Yang penting adalah bagaimana kita melanjutkannya dan menemukan makna di dalamnya.
Pada akhirnya, membaca membawa saya pada satu hal, yakni memahami bahwa buku bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dipahami. Dari proses itu, kita tidak hanya mengenal banyak hal, tetapi juga mengenal diri kita sendiri.
Di Hari Buku Sedunia ini, semoga kita tidak hanya semakin banyak membaca, tetapi juga semakin mampu memahami apa yang kita baca. Semoga setiap halaman yang kita buka dapat memberi makna, menambah cara pandang, dan membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Selamat Hari Buku Sedunia. Semoga dari setiap halaman yang kita baca, selalu ada satu hal yang tinggal, bukan hanya di ingatan, tetapi juga dalam cara kita melihat hidup.
Penulis: Muhammad Syafi’i
Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

Comment