Dalam tradisi pesantren, nama bukan sekadar identitas, melainkan jejak nasab, sanad, sekaligus penghormatan terhadap garis keilmuan. Karena itu, lazim bagi kalangan kiai untuk menyematkan nama ayah di belakang nama mereka. Ketika kita menyebut KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, atau KH. Abdurrahman Wahid, maka secara tidak langsung kita sedang menelusuri mata rantai keluarga dan keilmuan mereka. Demikian pula ketika nama Bisri Syansuri disebut, ia bukan hanya seorang individu, tetapi juga representasi dari Kiai Syansuri, ayahnya, sekaligus warisan tradisi keilmuan yang panjang.
Nama Kiai Bisri sendiri mengalami beragam penulisan: Bishri, Bisyri, bahkan Syamsuri atau Sansuri. Namun, berdasarkan dokumen resmi dan tulisan tangan beliau sendiri, penulisan yang dibakukan adalah Bisri Syansuri. Hal ini diperkuat oleh surat dari KH. Sahal Mahfudz yang menuliskan nama Arab beliau sebagai الشيخ بصري شنسوري. Ketegasan dalam penulisan nama ini mencerminkan pentingnya kejelasan identitas dalam tradisi keilmuan pesantren sesuatu yang tampak sederhana, tetapi memiliki makna mendalam.
Kiai Bisri lahir dengan nama Muhammad Mustajab di Tayu Wetan, Pati, Jawa Tengah, pada 28 Dzulhijjah 1304 H., bertepatan dengan 18 September 1887 M. Ia lahir dari pasangan Syansuri Abdus Shomad dan Siti Rohmah, dalam keluarga yang dikenal memiliki akar keulamaan yang kuat. Dalam catatan Abdurrahman Wahid, leluhur Kiai Bisri melahirkan ulama-ulama besar seperti KH. Kholil Lasem dan KH. Baidlowi Lasem. Dengan latar belakang seperti itu, seakan sudah menjadi takdir bahwa Mustajab kecil kelak akan tumbuh menjadi sosok ulama besar.
Nama “Bisri” mulai digunakan setelah ia menunaikan ibadah haji di Mekkah. Tradisi ini umum di kalangan santri Nusantara: perubahan nama menjadi penanda fase baru dalam kehidupan spiritual dan intelektual. Sejak saat itu, nama Bisri Syansuri menjadi identitas yang melekat hingga akhir hayatnya.
Menapaki Jalan Ilmu: Dari Desa ke Haramain
Sejak kecil, Kiai Bisri telah menunjukkan kecintaan yang besar terhadap ilmu. Ia belajar Al-Qur’an sejak usia dini, kemudian melanjutkan ke berbagai pesantren. Salah satu guru awalnya adalah Kiai Abdus Salam di Kajen, yang membimbingnya dalam ilmu nahwu, fikih, tafsir, dan hadis.
Perjalanan intelektualnya semakin luas ketika ia berguru kepada ulama-ulama besar, seperti Syaikhona Kholil Bangkalan dan kemudian KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng. Di Tebuireng, ia tidak hanya belajar ilmu agama secara mendalam, tetapi juga membentuk karakter dan jaringan intelektual yang kuat.
Di sinilah ia bertemu dan bersahabat erat dengan KH. Abdul Wahab Hasbullah. Persahabatan ini bukan sekadar hubungan personal, tetapi menjadi fondasi penting dalam perjalanan sejarah Islam Indonesia, khususnya dalam berdirinya Nahdlatul Ulama.
Setelah menimba ilmu di Tebuireng selama enam tahun, Kiai Bisri melanjutkan perjalanan ke Mekkah. Di kota suci ini, ia berguru kepada ulama-ulama besar seperti Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Syekh Mahfudz Tremas. Masa belajar di Haramain ini memperkaya wawasan keilmuannya, sekaligus mengokohkan posisinya sebagai ulama yang memiliki sanad keilmuan yang kuat dan bersambung.
Dialektika Keilmuan: Berbeda Tanpa Bermusuhan
Salah satu sisi menarik dari perjalanan hidup Kiai Bisri adalah keterbukaannya terhadap perbedaan. Bersama Kiai Wahab, ia kerap berdialog bahkan berdebat dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Ahmad Dahlan dan Abdul Mu’ti. Perdebatan tentang praktik keagamaan seperti tahlil bukanlah ajang permusuhan, melainkan ruang dialektika intelektual. Gus Dur menyebut proses ini sebagai bagian dari pematangan cara berpikir Kiai Bisri bahwa seorang ulama tidak hanya menerima ilmu, tetapi juga mampu mengolah, mengkritisi, dan bahkan mengambil posisi sendiri. Di sinilah kita melihat bahwa tradisi pesantren sejatinya sangat kaya dengan budaya diskusi dan perbedaan pendapat yang sehat.
Pesantren Denanyar: Dari Sorogan hingga Emansipasi Perempuan
Sekembalinya dari Mekkah, Kiai Bisri mendirikan Pesantren Denanyar pada tahun 1917. Awalnya sederhana, hanya beberapa santri dengan metode sorogan. Namun dalam waktu singkat, pesantren ini berkembang menjadi pusat keilmuan yang penting. Salah satu langkah paling visioner yang ia lakukan adalah mendirikan pesantren putri pada tahun 1919 bersama istrinya, Nyai Hj. Nur Khodijah. Pada masa itu, langkah ini tergolong revolusioner. Pendidikan bagi perempuan belum menjadi perhatian utama, tetapi Kiai Bisri melihatnya sebagai kebutuhan mendesak. Pesantren putri Denanyar bahkan disebut sebagai satu-satunya pada masanya. Ini menunjukkan bahwa Kiai Bisri tidak hanya berpikir dalam kerangka tradisi, tetapi juga memiliki keberanian untuk melakukan inovasi sosial.
Fiqih dan Kemaslahatan: Tegas dalam Prinsip, Lentur dalam Sikap
Sebagai ulama fiqih, Kiai Bisri dikenal sangat tegas. Ia berpegang kuat pada teks dan kaidah. Namun, ketegasan itu tidak membuatnya kaku. Dalam berbagai persoalan sosial, ia mampu melakukan kontekstualisasi hukum. Salah satu contohnya adalah dukungannya terhadap program Keluarga Berencana (KB) pada masa Soeharto. Keputusan ini menunjukkan bahwa fiqih tidak berhenti pada teks, tetapi harus hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Sikap ini menjadikan Kiai Bisri sebagai ulama yang tidak hanya alim, tetapi juga relevan dengan zamannya.
Selain sebagai ulama, Kiai Bisri juga terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Ia pernah memimpin barisan Hizbullah Sabilillah, menunjukkan bahwa pesantren tidak terpisah dari perjuangan bangsa. Dalam organisasi Nahdlatul Ulama, ia menjadi bagian dari “tri tunggal” bersama Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Hasbullah. Setelah wafatnya kedua tokoh tersebut, Kiai Bisri melanjutkan estafet kepemimpinan sebagai Rais ‘Aam PBNU. Wibawanya bahkan diakui oleh penguasa negara. Presiden Soeharto pernah sowan secara diam-diam ke Denanyar, sebuah peristiwa yang menunjukkan betapa besar pengaruh dan penghormatan terhadap beliau.
Pada Jumat, 25 April 1980, KH. Bisri Syansuri wafat dalam usia 93 tahun. Ribuan orang mengantarkan kepergiannya. Tangis kehilangan bukan hanya milik keluarga, tetapi juga umat yang merasakan kehadiran dan keteladanan beliau. Mengenang KH. Bisri Syansuri bukan sekadar mengenang masa lalu. Ia adalah cermin bagi masa kini dan masa depan. Di tengah dunia yang sering terjebak dalam polarisasi dan dangkalnya pemahaman, sosok Kiai Bisri mengajarkan bahwa:
Ilmu harus mendalam
Sikap harus tegas
Namun hati tetap lapang
Ia adalah ulama yang berdiri kokoh di atas tradisi, tetapi tidak takut menjawab tantangan zaman. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, semoga Allah Swt meninggikan derajat beliau, dan menjadikan kita bagian dari penerus nilai-nilai luhur yang beliau wariskan.
Sumber Foto: wikipedia.org

Comment