Pada tanggal 14 Februari 2026 di luar sana, mungkin dunia sedang riuh dengan warna merah muda. Banyak orang menyebut hari ini sebagai Valentine’s Day atau hari kasih sayang. Linimasa media sosial penuh dengan ucapan cinta, cokelat, dan bunga.
Namun, bagi kami di lingkungan pesantren, khususnya di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, tanggal 14 Februari memiliki makna yang jauh lebih agung daripada sekadar tukar kado. Hari ini adalah hari di mana kami mengenang kelahiran “Matahari” bagi umat Islam Indonesia.
Tepat pada tanggal ini, 155 tahun yang lalu (14 Februari 1871 M), lahirlah seorang bayi laki-laki di Gedang, Jombang, yang kelak mengguncang dunia dengan keilmuan dan perjuangannya. Beliau adalah Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.
Mendefinisikan Ulang “Kasih Sayang”
Lahir pada Selasa Kliwon, 14 Februari 1871 (24 Dzulqa’dah 1287 H), Mbah Hasyim seolah ditakdirkan lahir di tanggal yang identik dengan kasih sayang untuk mengajarkan kita makna cinta yang sesungguhnya.
Bagi santri, “Kasih Sayang” ala Mbah Hasyim bukanlah romantisme semu. Cinta beliau adalah Rahmah Li al-Ummah (kasih sayang untuk umat).
- Cinta pada Ilmu: Beliau mengembara dari satu pesantren ke pesantren lain hingga ke Mekkah demi menghilangkan kebodohan umat.
- Cinta pada Bangsa: Beliau mengeluarkan Resolusi Jihad karena tidak rela tanah air yang dicintainya kembali dijajah.
Jadi, ketika dunia merayakan cinta, kami pun merayakannya. Bedanya, kami merayakan cinta kepada Sang Guru, cinta kepada pewaris Nabi, dan cinta kepada pendiri Nahdlatul Ulama.
Kado untuk Sang Muassis di Tahun 2026
Peringatan kelahiran beliau hari ini terasa sangat istimewa. Kita baru saja melewati satu abad perjalanan NU (1926-2026) dan menyaksikan bagaimana pemerintah akhirnya mengakui guru beliau (Syaikhona Kholil) dan cucu beliau (Gus Dur) sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2025 lalu.
Maka, di hari ulang tahun beliau ini, kado terbaik apa yang bisa kita berikan?Rasanya, setangkai bunga mawar tidak akan cukup. Cokelat pun tak ada artinya. Kado terindah yang bisa kita persembahkan untuk Hadratussyaikh di hari ini adalah Al-Fatihah dan komitmen untuk meneruskan perjuangannya.
Sebagai santri zaman now, mencintai Mbah Hasyim berarti:
- Menjaga tradisi keilmuan pesantren agar tidak tergerus zaman.
- Merawat persatuan bangsa di tengah maraknya adu domba.
- Menjadi pribadi yang santun namun tegas dalam prinsip, sebagaimana karakter beliau.
Penutup
Hari ini, 14 Februari, biarkan orang lain sibuk dengan cokelatnya. Izinkan kami, para santri, sibuk dengan do’a kami.
Sugeng Ambal Warsa, Mbah Hasyim. Terima kasih telah lahir ke dunia ini dan menjadi pelita bagi Nusantara. Dari Purworejo, kami kirimkan rindu dan do’a, semoga kami diakui sebagai santrimu kelak di akhirat.
Lahul Fatihah…
Sumber Referensi:
- Biografi Resmi: Khuluq, Lathiful. (2000). Fajar Kebangunan Ulama: Biografi K.H. Hasyim Asy’ari. Yogyakarta: LKiS. (Sumber primer yang mencatat tanggal lahir beliau pada 14 Februari 1871).
- Ensiklopedia NU: Entri Sejarah Hidup KH Hasyim Asy’ari (Lahir: Gedang, Jombang, 14 Februari 1871).
- NU Online: “Biografi KH. Hasyim Asy’ari: Ulama Pendiri NU dan Pahlawan Nasional”.
- Buku Sejarah: Misrawi, Zuhairi. (2010). Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan. Kompas.
Sumber Foto: ikpni.or.id

Comment