Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum refleksi atas arah dan ruh pendidikan di Indonesia. Setiap 2 Mei, bangsa ini diajak kembali menengok pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional, sekaligus menggali inspirasi dari Eduard Douwes Dekker yang turut memberi warna dalam perjuangan pendidikan berbasis kesadaran dan kemerdekaan berpikir.
Sejak awal, Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, melainkan proses memanusiakan manusia. Dalam kumpulan pemikirannya yang terdokumentasi dalam Pendidikan, ia menulis:
Pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak; maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu.
Ki Hajar Dewantara
Gagasan ini menempatkan pendidikan sebagai proses pembebasan, bukan penyeragaman. Prinsip terkenalnya, “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”, menjadi fondasi dalam membangun relasi antara guru dan murid -sebuah konsep yang juga banyak dijelaskan dalam karya-karyanya serta praktik pendidikan di Perguruan Taman Siswa.
Ki Hajar juga menolak sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif dan menghadirkan Taman Siswa sebagai bentuk pendidikan yang merdeka serta berakar pada budaya bangsa. Pemikirannya tidak hanya teoritis, tetapi lahir dari pengalaman praksis dalam membangun sistem pendidikan nasional yang berdaulat.
Sementara itu, Eduard Douwes Dekker yang juga dikenal sebagai Danudirja Setiabudi memberikan perspektif kritis tentang pendidikan dan nasionalisme. Gagasan-gagasannya banyak tercermin dalam tulisan-tulisan politik dan refleksinya tentang kolonialisme, yang juga beririsan dengan semangat yang lebih dahulu digaungkan oleh Multatuli melalui karya Max Havelaar.
Dalam salah satu pandangannya yang sering dikutip, Douwes Dekker menegaskan:
Kalau tidak ada kiai dan pondok pesantren, gereget (semangat) bela bangsa (nasionalisme) rusak.
Eduard Douwes Dekker
Ia juga menekankan pentingnya kemerdekaan berpikir sebagai fondasi kemajuan bangsa:
Suatu bangsa tidak akan maju jika rakyatnya tidak berani berpikir merdeka. — Eduard Douwes Dekker
Pernyataan ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berfungsi mencetak individu cerdas, tetapi juga membangun kesadaran kritis terhadap realitas sosial. Dalam konteks Indonesia, pesantren menjadi salah satu lembaga yang menjalankan fungsi tersebut secara nyata.
Pesantren sendiri merupakan lembaga pendidikan yang telah hadir jauh sebelum sistem pendidikan modern diperkenalkan oleh kolonialisme. Ia tumbuh dari tradisi lokal dan keislaman Nusantara, menggabungkan pendidikan intelektual, spiritual, dan sosial dalam satu kesatuan. Dalam banyak kajian, seperti yang diulas oleh Zamakhsyari Dhofier dalam buku Tradisi Pesantren, pesantren disebut sebagai sistem pendidikan asli Indonesia yang memiliki akar kuat dalam sejarah dan budaya masyarakat.
Dengan tradisi keilmuan, keteladanan kiai, serta kehidupan kolektif santri, pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai perjuangan dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini sejalan dengan konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara sekaligus memperkuat pandangan Douwes Dekker tentang pentingnya menjaga semangat nasionalisme melalui pendidikan berbasis karakter.
Dalam peringatan Hardiknas hari ini, pertemuan gagasan antara Ki Hajar Dewantara dan Eduard Douwes Dekker menjadi refleksi penting. Keduanya sama-sama menempatkan pendidikan sebagai alat pembebasan: Ki Hajar melalui konsep tuntunan kodrat anak, dan Douwes Dekker melalui dorongan kesadaran kritis serta pentingnya menjaga semangat kebangsaan.
Di tengah tantangan zaman -digitalisasi, krisis karakter, hingga ketimpangan akses- nilai-nilai ini tetap relevan. Pendidikan harus tetap berpijak pada kemanusiaan, keadilan, dan semangat kebangsaan.
Hardiknas semestinya tidak berhenti pada upacara dan slogan, melainkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali pendidikan yang memerdekakan. Pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk manusia yang berkarakter, berani, dan memiliki cinta mendalam terhadap bangsanya.
Dengan demikian, memaknai Hari Pendidikan Nasional berarti melanjutkan perjuangan -menjadikan pendidikan sebagai jalan menuju kemerdekaan sejati, sebagaimana dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara dan ditegaskan oleh semangat kritis Eduard Douwes Dekker.

Comment