Setiap tanggal 20 Mei, bangsa ini kembali memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Upacara dilaksanakan, pidato dibacakan, dan kata “bangkit” diulang di banyak podium. Namun di tengah gegap gempita itu, muncul pertanyaan yang terasa menohok: benarkah bangsa ini sedang bangkit, atau justru sedang sibuk membangun banyak hal sambil perlahan melupakan manusianya sendiri?
Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar peringatan berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Ia adalah penanda lahirnya kesadaran baru kaum bumiputra untuk keluar dari ketertinggalan, kebodohan, dan penjajahan. Sebab sesungguhnya, sebelum bangsa ini melawan kolonialisme dengan senjata, bangsa ini terlebih dahulu melawannya dengan pikiran dan pendidikan.
Politik Etis: Ketika Penjajahan MelahirkanKesadaran Baru
Sejarah kebangkitan nasional tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari panjangnya penderitaan rakyat pribumi pada masa kolonial Belanda. Sistem cultuurstelsel atau tanam paksa yang diterapkan sejak abad ke-19 menjadikan rakyat hanya alat produksi bagi kepentingan Eropa. Tanah rakyat dipaksa menanam komoditas ekspor, sementara kemiskinan dan kelaparan menyebar di banyak daerah.
Kondisi itu kemudian menuai kritik dari Conrad Theodor van Deventer melalui tulisannya Een Eereschuld (Hutang Kehormatan) pada 1899. Van Deventer menyebut Belanda memperoleh kemakmuran dari eksploitasi Hindia Belanda sehingga memiliki hutang moral kepada rakyat jajahan.
Dari sinilah lahir kebijakan Politik Etis yang dikenal melalui tiga program utama: edukasi, irigasi, dan transmigrasi. Walau pada praktiknya tetap sarat kepentingan kolonial, kebijakan pendidikan ternyata membawa dampak besar. Sekolah-sekolah modern mulai dibuka bagi kaum pribumi, meski masih terbatas pada kalangan tertentu.
Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, Sartono Kartodirdjo menjelaskan bahwa pendidikan Barat secara tidak langsung melahirkan kelompok elite intelektual bumiputra yang kemudian menjadi motor awal nasionalisme Indonesia. Mereka mulai membaca dunia dengan cara berbeda. Mereka mulai sadar bahwa keterbelakangan bukan takdir, tetapi akibat sistem penjajahan.
Munculnya golongan terpelajar bumiputra kemudian menjadi titik penting dalam sejarah Indonesia. Dari sekolah-sekolah itulah lahir generasi yang mulai mempertanyakan satu hal mendasar: mengapa bangsa sendiri harus menjadi tamu di tanahnya sendiri?
STOVIA, Wahidin, dan Lahirnya Budi Utomo
Salah satu pusat lahirnya kesadaran kebangsaan itu adalah STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Batavia, sekolah kedokteran untuk pribumi yang kemudian melahirkan banyak tokoh pergerakan nasional. Di tempat inilah para pelajar bumiputra mulai berdiskusi tentang nasib bangsanya, bukan hanya soal kesehatan masyarakat, tetapi juga tentang ketidakadilan kolonial.
Peran besar dalam proses ini datang dari Wahidin Soedirohoesodo. Ia dikenal aktif berkeliling Jawa untuk mengampanyekan pentingnya pendidikan bagi kaum pribumi. Wahidin menggagas studiefonds atau dana pelajar agar anak-anak bumiputra bisa mengakses pendidikan yang lebih baik.
Gagasan Wahidin kemudian mendapat sambutan hangat dari mahasiswa STOVIA, terutama Soetomo. Bersama tokoh lain seperti Goenawan Mangoenkoesoemo, Soeradji Tirtonegoro, R.T. Ario Tirtokoesoemo, dan Soewarno, mereka mulai merumuskan sebuah organisasi modern yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan.
Akhirnya pada 20 Mei 1908, lahirlah Budi Utomo. Tanggal itu kemudian dikenang sebagai tonggak Kebangkitan Nasional Indonesia. Meski pada awalnya organisasi ini lebih banyak bergerak di lingkungan priyayi Jawa dan Madura, kehadiran Budi Utomo membuka jalan lahirnya organisasi-organisasi nasional lain seperti Sarekat Islam, Indische Partij, hingga Perhimpunan Indonesia.
Dalam buku Indonesia Menggugat, Soekarno menulis bahwa penjajahan bukan hanya merampas kekayaan bangsa, tetapi juga menghancurkan rasa percaya diri rakyat terjajah. Karena itu, kebangkitan nasional sejatinya adalah kebangkitan mental dan kesadaran manusia Indonesia untuk percaya pada kekuatannya sendiri.
Pendidikan: Dari Jalan Pembebasan Menjadi Arena Perlombaan
Ironisnya, semangat pendidikan sebagai alat pembebasan perlahan mulai bergeser. Pendidikan hari ini sering dipaksa hanya menjadi alat mencetak tenaga kerja. Sekolah berlomba menghasilkan angka, tetapi lupa membentuk karakter dan kesadaran sosial.
Dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, Az-Zarnuji menjelaskan:
اَلتَّعَلُّمُ لِغَيْرِ ٱللهِ لَا يَكُونُ نَافِعًا
“Ilmu yang dipelajari bukan karena Allah tidak akan membawa manfaat.”
Pesan itu terasa relevan ketika pendidikan modern sering kehilangan orientasi moralnya. Murid dipaksa mengejar ranking, tetapi minim diajak memahami makna ilmu itu sendiri.
Kritik serupa pernah disampaikan Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed. Ia menyebut pendidikan modern sering berubah menjadi banking education, yakni murid hanya dianggap tempat penyimpanan informasi tanpa diajak berpikir kritis. Sekolah akhirnya hanya melahirkan manusia patuh, bukan manusia merdeka.
Sementara Ki Hajar Dewantara dalam Bagian Pertama Pendidikan mengingatkan bahwa pendidikan harus menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Namun hari ini, sekolah justru sering melahirkan kecemasan sejak usia dini.
Pemuda Hari Ini: Ramai di Media Sosial, Sunyi dalam Gagasan
Jika dahulu pemuda menjadi motor kebangkitan bangsa, hari ini generasi muda justru hidup di tengah banjir distraksi. Media sosial membuat segala sesuatu bergerak cepat, tetapi tidak selalu melahirkan kedalaman berpikir. Banyak yang sibuk mengejar pengakuan digital, tetapi lupa membaca sejarah bangsanya sendiri.
Soekarno dalam Di Bawah Bendera Revolusi pernah menyebut pemuda sebagai “api sejarah”. Namun api itu perlahan berubah menjadi cahaya layar telepon genggam. Pemuda lebih mudah mengenal tren global daripada memahami persoalan bangsanya sendiri.
Fenomena itu juga tampak pada banyak organisasi pemuda dan organisasi mahasiswa hari ini. Ketika momen-momen heroik dan peringatan sejarah datang -seperti Hari Kebangkitan Nasional, Hari Pahlawan, atau Sumpah Pemuda- sebagian justru berhenti pada sebatas desain pamflet, unggahan “selamat hari”, dan narasi seremonial di media sosial. Timeline dipenuhi poster ucapan, tetapi ruang diskusi tentang gagasan kebangsaan semakin sunyi. Kata “perjuangan” ramai dijadikan caption, tetapi minim diwujudkan dalam gerakan nyata.
Padahal para pendahulu bangsa tidak memperjuangkan negeri ini dengan estetika unggahan semata. Mereka mempertaruhkan tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi mempertahankan martabat bangsa. Para tokoh pergerakan seperti Soetomo, Wahidin Soedirohoesodo, hingga para pemuda era pergerakan nasional tidak lahir dari budaya pencitraan, melainkan dari tradisi membaca, berdiskusi, dan keberanian memikirkan nasib bangsanya.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin , Al-Ghazali menulis:
اَلْعِلْمُ بِلَا عَمَلٍ جُنُونٌ، وَالْعَمَلُ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَكُونُ
“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, sedangkan amal tanpa ilmu tidak akan sempurna.”
Kalimat itu terasa menampar realitas hari ini. Banyak yang pandai membuat narasi perjuangan, tetapi minim implementasi. Banyak yang fasih berbicara nasionalisme, tetapi enggan terjun menyelesaikan persoalan masyarakat di sekitarnya.
Ali Syariati dalam buku Tugas Cendekiawan Muslim juga mengingatkan bahwa generasi muda yang kehilangan kesadaran sejarah akan mudah dijadikan alat kekuasaan. Ketika organisasi hanya sibuk menjaga eksistensi media sosial tanpa membangun tradisi intelektual dan gerakan sosial, maka yang lahir hanyalah keramaian sesaat, bukan kebangkitan.
Karena sejatinya, penghormatan terbaik kepada para pahlawan bukan sekadar mengunggah ucapan selamat hari perjuangan, melainkan melanjutkan cita-cita mereka: mencerdaskan bangsa, merawat persatuan, dan tetap berpihak kepada rakyat kecil.
Negara dan Skala Prioritas yang Bergeser
Kebangkitan nasional dahulu lahir dari kesadaran pentingnya ilmu pengetahuan. Namun hari ini, pendidikan sering kalah prioritas dibanding proyek-proyek pencitraan. Gedung dibangun megah, tetapi perpustakaan semakin sepi. Seminar digelar besar-besaran, tetapi budaya membaca terus melemah.
Nurcholish Madjid dalam Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan pernah menulis bahwa kemajuan bangsa hanya mungkin lahir dari tradisi ilmu yang sehat. Bangsa yang meninggalkan pengetahuan akan mudah jatuh pada fanatisme dan kemunduran.
Sementara Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia menulis kalimat yang terus hidup hingga hari ini: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah.”
Kebangkitan yang Sesungguhnya
Hari Kebangkitan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Kebangkitan bukan sekadar memasang baliho dan slogan, melainkan keberanian mengembalikan pendidikan kepada tujuan mulianya: memanusiakan manusia.
Dalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa,
Runtuhnya suatu peradaban sering dimulai ketika manusia kehilangan kualitas ilmu dan moralnya. Maka jika bangsa ini benar-benar ingin bangkit, yang terlebih dahulu harus dibangunkan adalah kesadaran berpikir generasi mudanya.
Karena mungkin masalah terbesar negeri ini bukan kekurangan orang pintar, melainkan terlalu banyak manusia yang kehilangan arah tentang untuk apa ilmu itu digunakan.
Sumber Referensi:
- Al-Ghazali. Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn.
- Ali Shariati. Tugas Cendekiawan Muslim.
- Ibn Khaldun. Muqaddimah.
- Ki Hajar Dewantara. Bagian Pertama Pendidikan.
- Nurcholish Madjid. Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan.
- Paulo Freire. Pedagogy of the Oppressed.
- Pramoedya Ananta Toer. Bumi Manusia.
- Sartono Kartodirdjo. Sejarah Nasional Indonesia.
- Soekarno. Di Bawah Bendera Revolusi.
- Soekarno. Indonesia Menggugat.
- Al-Zarnuji. Ta‘līm al-Muta‘allim Ṭarīq al-Ta‘allum.

Comment