Ibadah qurban merupakan salah satu ritual keagamaan paling penting bagi umat Muslim di seluruh dunia, yang dirayakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah pada Hari Raya Iduladha. Secara harfiah, kata qurban berasal dari bahasa Arab qarabah yang berarti “dekat” atau “mendekatkan diri”. Penyembelihan hewan kurban ini termasuk ibadah yang sangat dianjurkan bagi mereka yang mampu (memiliki harta se-nishab menurut mazhab Hanafi) pada hari raya Iduladha hingga hari tasyrik selesai.
Namun, tahukah kalian bagaimana sejarah awal mula disyariatkannya ibadah yang penuh makna ini?Yang menjadi perjalanan sejarah qurban membentang dari generasi manusia pertama hingga disempurnakan dalam syariat Islam.
Qurban Pertama di Bumi: Kisah Habil dan Qabil
Sejarah qurban sebenarnya sudah dimulai sejak masa manusia pertama, yaitu Nabi Adam a.s. Dikisahkan dalam Al-Qur’an, dua putra Nabi Adam, yaitu Habil dan Qabil, diperintahkan untuk mempersembahkan qurban sebagai jalan keluar atas perselisihan mereka terkait perjodohan.
Habil, yang merupakan seorang peternak, menyerahkan qurban terbaiknya berupa seekor domba yang gemuk dan sehat. Beliau memberikannya dengan penuh rasa ikhlas dan ketakwaan.
Qabil, yang merupakan seorang petani, justru menyerahkan hasil panennya yang buruk dan berkualitas rendah, disertai rasa iri dan terpaksa.
Allah Swt. menerima qurban dari Habil karena ketakwaannya dan menolak qurban dari Qabil. Peristiwa ini diabadikan dalam QS. Al-Ma’idah ayat 27.
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ
“Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka berita tentang dua putra Adam dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, kemudian diterima dari salah satunya (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu.” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.”
Pelajaran pertama dari sejarah ini adalah bahwa qurban bukan soal materi, melainkan keikhlasan hati.
Ujian Cinta dan Ketataan: Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Sejarah qurban yang menjadi dasar utama syariat perayaan Iduladha yang kita kenal sekarang bertumpu pada kisah Nabi Ibrahim a.s. dan putranya, Nabi Ismail a.s.
Setelah menanti kehadiran seorang putra selama puluhan tahun, Nabi Ibrahim diuji dengan ujian yang sangat berat. Lewat mimpi yang merupakan wahyu, Allah Swt. memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail, yang saat itu baru beranjak remaja.
Mendengar perintah tersebut, baik Nabi Ibrahim maupun Nabi Ismail tidak membantah.
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Saffat: 102).
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka bagaimanakah pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
Ketika Nabi Ibrahim sudah membaringkan Ismail dan siap meletakkan pisau di leher putranya, Allah Swt. melihat ketulusan, kepasrahan, dan ketakwaan luar biasa dari keduanya. Seketika itu juga, Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba (dzibhin ‘azhim) yang besar dari surga. Peristiwa heroik inilah yang menjadi asal-usul ibadah penyembelihan hewan qurban setiap tahunnya.
Penyempurnaan Syariat di Masa Nabi Muhammad Saw.
Tradisi yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim a.s., kemudian diteruskan dan disempurnakan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam syariat Islam. Nabi Muhammad Saw. memberikan teladan bahwa ibadah qurban bukan sekadar ritual tumpahan darah hewan, melainkan memiliki dimensi sosial yang kuat. Daging qurban tidak boleh dihabiskan sendiri, melainkan harus dibagi-bagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat, sebagai simbol solidaritas dan kepedulian sosial.
Pada akhirnya, ibadah qurban bukan sekadar rutinitas tahunan menyembelih hewan ternak lalu membagikan dagingnya. Sejarah panjang yang membentang dari keikhlasan Habil, keteguhan cinta Nabi Ibrahim, hingga keteladan sosial Nabi Muhammad Saw., mengajarkan kita satu hal: qurban adalah cerminan dari kualitas iman kita. Setiap kali kita berqurban, kita sedang merawat sejarah ketaatan mutlak kepada Sang Pencipta sekaligus mengulurkan tangan kemanusiaan kepada sesama.
Semoga esensi penyembelihan ini mampu membersihkan hati kita dari ego pribadi dan mendekatkan diri kita pada derajat takwa yang sesungguhnya.
Sumber Referensi:
- Alhafizd Kurniawan, “Sejarah Ibadah Kurban dalam Islam.” https://www.nu.or.id/syariah/sejarah-ibadah-kurban-dalam-islam-lNggx
- Terjemah Ibnu Katsir. Kisah Para Nabi (Qashash al-Anbiya). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
- M. Quraish Shihab, (2002). Terjemah Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.

Comment