Home / Kajian / Mengarsipkan Pengorbanan: Membaca Ulang Kisah Iduladha Dari Kacamata Kemanusiaan
Kajian

Mengarsipkan Pengorbanan: Membaca Ulang Kisah Iduladha Dari Kacamata Kemanusiaan

Membagi waktu antara riuhnya jadwal kuliah, tenggat waktu tugas kampus, dan rutinitas ngaji kitab di bilik Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan sering kali membuat saya merenung. Di tengah dunia modern yang bergerak serba cepat—di mana segala hal diukur dari seberapa viral sebuah konten atau seberapa tinggi IPK—kita perlahan kehilangan ruang untuk benar-benar memaknai sebuah kata yang sangat berat: pengorbanan.

Menjelang Iduladha, ruang renung itu kembali terbuka. Jika kita membedah sejarah Iduladha, bukan sekadar sebagai ritual keagamaan tahunan, melainkan sebagai sebuah peristiwa kemanusiaan (human interest story), kita akan menemukan salah satu kisah psikologis paling menggugah yang pernah diarsipkan oleh peradaban manusia.

Mimpi yang Mengguncang Jiwa Seorang Ayah

Kisah ini berpusat pada sosok Nabi Ibrahim a.s. Mari kita letakkan sejenak gelar kenabian beliau dan melihatnya dari sisi yang paling manusiawi sebagai seorang ayah.

Bayangkan menjadi Ibrahim. Beliau menanti kehadiran seorang anak hingga usianya senja. Ketika doa panjangnya akhirnya dijawab dengan lahirnya Ismail—anak yang cerdas, santun, dan sangat dicintainya—ujian terbesar itu datang. Bukan melalui musuh dari luar, melainkan lewat wahyu di dalam tidurnya: Ia diperintahkan untuk menyembelih putra semata wayangnya.

Secara logika manusia dan nalar komunikasi yang kita pelajari hari ini, ini adalah absurditas. Bagaimana mungkin Dzat Yang Maha Pengasih meminta seorang ayah menghabisi nyawa darah dagingnya sendiri? Di sinilah letak gejolak batin yang luar biasa. Ibrahim dihadapkan pada persimpangan paling brutal: memilih cinta duniawi terbesarnya (Ismail) atau kepatuhan mutlak kepada Sang Pencipta.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Dialog Paling Mengharukan dalam Sejarah

Yang membuat peristiwa ini begitu indah dan humanis adalah cara Ibrahim mengomunikasikan hal tersebut kepada anaknya. Beliau tidak datang dengan otoritas seorang ayah yang otoriter dan berkata, “Aku harus menyembelihmu karena ini perintah Tuhan.”

Ibrahim memilih jalan dialog yang sangat demokratis dan penuh kelembutan. Dalam Al-Qur’an (QS. As-Saffat ayat 102), terekam sebuah komunikasi antarpribadi yang luar biasa: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”

Dan jawaban Ismail adalah puncak dari segala keindahan adab seorang anak: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Tidak ada pemberontakan. Tidak ada ketakutan yang membuat Ismail lari. Yang ada hanyalah keikhlasan yang melampaui batas nalar manusia. Sang anak justru menenangkan ayahnya. Di titik inilah, pisau yang diletakkan di leher Ismail digantikan dengan seekor domba oleh Allah Swt.

Menyembelih “Ismail” di Era Digital

Sebagai mahasiswa sekaligus santri, peristiwa historis ini memaksa kita untuk melakukan autokritik. Allah tidak sedang haus darah. Allah tidak membutuhkan daging atau darah kurban kita (QS. Al-Hajj ayat 37). Peristiwa penyembelihan itu adalah metafora abadi.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Ismail adalah simbol dari segala hal yang paling kita cintai di dunia ini hingga berpotensi membutakan mata hati kita dari Tuhan.

Pertanyaannya: Siapakah “Ismail” kita hari ini? Bisa jadi “Ismail” kita adalah ego dan kesombongan akademis kita di kampus. Bisa jadi “Ismail” kita adalah ambisi mengejar followers, validasi digital, dan popularitas di media sosial yang sering kali membuat kita lupa waktu. Atau bisa jadi, “Ismail” kita adalah harta benda—laptop, gawai, dan gaya hidup—yang membuat kita berat untuk berbagi dengan sesama.

Khatimah: Qurban Berarti Mendekat

Secara etimologi, kata qurban berasal dari bahasa Arab qariba–yaqrabu–qurbanan yang berarti “dekat” atau “mendekat”.

Menyembelih hewan kurban hakikatnya adalah proses menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita—sifat rakus, egois, dan menang sendiri—agar kita bisa kembali menjadi manusia yang utuh dan lebih dekat dengan Sang Pencipta serta sesama manusia.

Dari sudut pandang komunikasi dan sejarah, Iduladha adalah arsip peristiwa yang terus hidup. Ia mengajarkan kita bahwa cinta sejati selalu menuntut pengorbanan, dan kemerdekaan sejati seorang manusia hanya bisa dicapai ketika ia berhasil menundukkan egonya sendiri.

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Selamat menyambut Iduladha. Mari menepi sejenak, menata hati, dan bertanya pada diri sendiri: Sudah siapkah kita menyembelih ego kita hari ini?

Comment

  1. jetwing blue says:

    [1664]Jetwing Blue অফিসিয়াল লগইন | সেরা অনলাইন স্লট গেমস এবং অ্যাপ,jetwing blue-এ যুক্ত হয়ে সেরা অনলাইন স্লট গেমস উপভোগ করুন। বিকাশ দিয়ে দ্রুত ক্যাসিনো ডিপোজিট এবং অ্যাপ ডাউনলোড করে আজই খেলা শুরু করুন। visit: jetwing blue

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *