Home / Kajian / Ngaji dan Sekolah, Jalan Bersama Menuju Masa Depan Santri
Kajian

Ngaji dan Sekolah, Jalan Bersama Menuju Masa Depan Santri

Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang akrab di tengah masyarakat sebagai tempat para santri mempelajari berbagai macam ilmu, terutama ilmu keagamaan. Namun, pada zaman sekarang, lingkup pembelajaran di pondok pesantren tidak hanya berfokus pada ilmu agama saja.

Tidak sedikit pesantren yang mendirikan sekolah formal sehingga ruang pembelajaran menjadi semakin luas dan ketersediaan ilmu bagi santri semakin beragam. Keberagaman ilmu tersebut juga menjadi salah satu bentuk pelaksanaan perintah Nabi Muhammad saw. berikut:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis tersebut menjelaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi umat Islam, termasuk para santri. Dengan mengamalkan perintah tersebut di lingkungan pondok pesantren, kewajiban menuntut ilmu dapat terlaksana secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Masalahnya, dari sekian banyak ilmu yang tersedia melalui sistem pembelajaran yang terbagi menjadi madrasah (ngaji) dan sekolah formal, tidak sedikit santri yang mengalami kebingungan dalam menentukan fokus utama antara memperdalam ilmu agama atau mengembangkan ilmu umum sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah lulus dari pondok pesantren.

Ngaji: Dalil, Kelebihan, dan Kekurangannya

Pada dasarnya, kegiatan utama dalam pondok pesantren adalah mengaji. Bahkan, ilmu agama menjadi ciri khas yang melekat pada pesantren itu sendiri. Ilmu agama yang dipelajari pun sangat beragam, di antaranya fikih, nahwu, sharaf, tauhid, tafsir, hadis, dan berbagai cabang ilmu lainnya.

Pentingnya mempelajari ilmu agama ditegaskan oleh Allah Swt. dalam QS. At-Taubah ayat 122:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ …

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari setiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama…”

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Ayat tersebut menunjukkan pentingnya pendalaman ilmu agama bagi keberlangsungan kehidupan umat Islam.

Ngaji memiliki kelebihan tersendiri dalam metode pembelajarannya. Sistem belajar yang relatif sederhana memungkinkan santri lebih mudah memahami materi yang disampaikan. Selain itu, penguasaan ilmu agama dapat diperoleh secara lebih mendalam dibandingkan di sekolah formal karena ruang lingkup pembahasannya lebih luas dan terfokus.
Namun, sistem ngaji juga memiliki beberapa kekurangan.

Pada sebagian kondisi, porsi pembelajaran ilmu umum yang lebih sedikit dapat menyebabkan santri memiliki keterbatasan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan umum yang dibutuhkan dalam persaingan dunia modern. Akibatnya, sebagian santri mungkin menghadapi tantangan lebih besar ketika memasuki dunia kerja atau pendidikan tinggi yang menuntut kompetensi umum yang kuat.

Sekolah: Dalil, Kelebihan, dan Kekurangannya

Di sisi lain, sekolah menyediakan berbagai ilmu umum yang dapat menjadi bekal bagi santri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sekolah juga menyediakan pembelajaran akademik maupun nonakademik yang dapat mengembangkan kemampuan intelektual, keterampilan, dan pengalaman peserta didik.

Pentingnya mencari ilmu pengetahuan dapat dipahami dari firman Allah Swt. dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5:

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ۝١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ۝٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ۝٣ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ۝٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ۝٥

Ayat tersebut mengandung dorongan untuk membaca, belajar, dan mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari tugas manusia dalam menjalani kehidupan.

Keunggulan sistem sekolah adalah tersedianya ilmu umum sebagai bekal santri dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi serta sebagai persiapan menghadapi perkembangan dunia kerja modern yang semakin kompetitif.

Namun demikian, sekolah juga memiliki kekurangan. Dibandingkan dengan sistem ngaji atau madrasah, pembelajaran ilmu agama di sekolah umumnya tidak sedalam yang diajarkan di pesantren. Akibatnya, santri yang ingin unggul dalam ilmu agama sekaligus ilmu umum harus memiliki semangat belajar yang tinggi serta kemampuan mengatur waktu dengan baik agar keduanya dapat berjalan seimbang.

Kesimpulan

Permasalahan ini sebenarnya bukan tentang menentukan sistem pembelajaran mana yang paling baik bagi santri dalam mencari ilmu di pondok pesantren. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana seorang santri mampu menyelaraskan keduanya sesuai kebutuhan dan cita-cita masa depannya tanpa meninggalkan salah satunya.

Baik sistem madrasah (ngaji) maupun sekolah memiliki peran penting yang saling melengkapi dalam proses pembelajaran santri. Ngaji memberikan fondasi keagamaan yang kuat, sedangkan sekolah menyediakan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi perkembangan zaman.

Oleh karena itu, santri perlu berpikir kritis dan bijaksana dalam menentukan arah masa depannya. Baik ilmu agama maupun ilmu umum sama-sama memiliki manfaat besar dan dapat menjadi bekal berharga untuk menjalani kehidupan setelah lulus dari pondok pesantren.

Penulis: Fatih Fadilah

Editor: Tim Jurnalistik An-Nawawi

*Artikel ini merupakan Juara 1 lomba artikel yang diselenggarakan oleh Asrama Khotib Sambas dalam rangkaian kegiatan Khotib Sambas Stars.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *