Setiap tanggal 25 Juli, keluarga besar Nahdlatul Ulama, dunia pesantren, dan bangsa Indonesia mengenang salah satu ulama terbesar yang pernah dimiliki negeri ini, Hadratussyaikh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng. Beliau wafat pada 25 Juli 1947 atau bertepatan dengan 07 Ramadhan 1366 H. Beliau meninggalkan warisan ilmu, akhlak, dan semangat perjuangan yang hingga kini masih menjadi cahaya bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.
Bagi dunia pesantren, memperingati hari wafat (haul) seorang ulama bukanlah sekadar mengenang sejarah. Lebih dari itu, momentum ini menjadi ajang muhasabah, memperbarui semangat menuntut ilmu, menghidupkan adab kepada guru, serta melanjutkan perjuangan yang telah dirintis para ulama terdahulu.
Sang Mahaguru Nusantara
Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari lahir pada 14 Februari 1871 di Jombang, Jawa Timur. Sejak muda beliau menimba ilmu di berbagai pesantren, kemudian memperdalam keilmuan di Makkah kepada para ulama besar dunia Islam. Setelah kembali ke tanah air, beliau mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng yang kemudian melahirkan ribuan ulama, cendekiawan, dan pejuang bangsa.
Pada tahun 1926, bersama para ulama Nusantara, beliau mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai benteng Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus wadah menjaga tradisi keilmuan Islam yang moderat, santun, dan berakar kuat pada Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’, serta qiyas.
Tidak hanya dikenal sebagai ahli hadis dan pendidik, beliau juga merupakan pejuang kemerdekaan. Melalui Resolusi Jihad pada tahun 1945, Hadratussyaikh menggerakkan para santri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan beliau membuktikan bahwa mencintai tanah air merupakan bagian dari tanggung jawab seorang muslim.
Wafat di Tengah Duka Bangsa
Pada bulan Ramadhan tahun 1366 H, Indonesia sedang menghadapi Agresi Militer Belanda. Berita gugurnya para pejuang santri yang mempertahankan tanah air sangat mengguncang hati Hadratussyaikh. Tidak lama kemudian, pada 25 Juli 1947, beliau berpulang ke rahmatullah.
Kepergian beliau menjadi duka mendalam bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Namun, sebagaimana para ulama pewaris nabi, wafatnya jasad tidak pernah mematikan cahaya ilmu yang telah beliau tanamkan. Hingga hari ini, jutaan santri di berbagai pesantren masih mempelajari kitab-kitab, adab, dan nilai perjuangan yang diwariskannya.
Ilmu Adalah Warisan Terbaik
Salah satu pesan terbesar Hadratussyaikh adalah pentingnya memuliakan ilmu dan guru. Dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, beliau menjelaskan bahwa keberhasilan menuntut ilmu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh keikhlasan, kesungguhan, dan adab. Pesan tersebut selaras dengan sabda Rasulullah SAW.
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682)
Allah SWT juga berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
Ayat dan hadis tersebut menjadi pengingat bahwa jalan ilmu adalah jalan kemuliaan. Itulah jalan yang ditempuh Hadratussyaikh sepanjang hidupnya.
Di tengah derasnya arus digital dan perubahan zaman, keteladanan K.H. Hasyim Asy’ari justru semakin relevan. Beliau mengajarkan bahwa santri harus mampu menjaga keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ada beberapa nilai yang patut diwarisi oleh generasi hari ini:
- Menuntut ilmu dengan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah SWT.
- Menghormati guru dan menjaga adab dalam setiap proses belajar.
- Mencintai agama sekaligus menjaga persatuan bangsa.
- Mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan umat, bukan sekadar mengejar popularitas.
- Terus belajar sepanjang hayat, karena kemajuan zaman harus dijawab dengan ilmu yang benar dan akhlak yang kokoh.
Melanjutkan Perjuangan, Bukan Sekadar Mengenang
Peringatan wafat Hadratussyaikh bukanlah perayaan kesedihan, melainkan momentum untuk bertanya kepada diri sendiri, sudah sejauh mana kita melanjutkan perjuangan beliau?
Apakah kita telah sungguh-sungguh belajar? Apakah kita menjaga adab kepada guru? Apakah ilmu yang kita miliki telah memberi manfaat bagi orang lain
Bagi keluarga besar Pondok Pesantren, jawaban atas pertanyaan tersebut diwujudkan melalui semangat mengaji, mengabdi, berakhlak mulia, dan menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang telah diwariskan para ulama.
Sebab sesungguhnya, ulama tidak pernah benar-benar pergi. Mereka tetap hidup melalui ilmu yang diamalkan, santri yang mendakwahkan kebaikan, serta generasi yang meneruskan perjuangan dengan penuh keikhlasan.
Mari jadikan 25 Juli bukan hanya hari mengenang Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, tetapi juga hari memperbarui tekad untuk menjadi santri yang berilmu, beradab, dan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Referensi
- NU Online. 7 Ramadhan, Mengenang Wafatnya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.
- NU Online Jawa Tengah. Mengenang Wafatnya Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari.
- NU Online Jawa Barat. Wafat pada 7 Ramadhan, Berikut Profil Singkat dan Karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.
- Al-Qur’an Surah Al-Mujadilah ayat 11.
- HR. Abu Dawud No. 3641 dan HR. At-Tirmidzi No. 2682 tentang ulama sebagai pewaris para nabi.
- Foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Hasyim_Asy%27ari

Comment