Home / Artikel / Lailatut Ta’aruf Pondok Pesantren An-Nawawi Mlilir Purworejo Tanamkan Nilai Adab, Kekeluargaan dan Semangat Menuntut Ilmu
An-Nawawi Mlilir Artikel

Lailatut Ta’aruf Pondok Pesantren An-Nawawi Mlilir Purworejo Tanamkan Nilai Adab, Kekeluargaan dan Semangat Menuntut Ilmu

Pondok Pesantren An-Nawawi Mlilir Purworejo menggelar kegiatan Lailatut Ta’aruf sebagai rangkaian penyambutan santri baru Tahun Ajaran 2026/2027. Kegiatan yang berlangsung di Aula Pondok Pesantren Putri pada Rabu (29/7/2026) tersebut diikuti oleh seluruh santri putra dan putri serta disiarkan secara langsung melalui kanal TikTok resmi Pondok Pesantren An-Nawawi Mlilir Purworejo.

Kegiatan Lailatut Ta’aruf di Pondok Pesantren An-Nawawi Mlilir Purworejo menjadi langkah awal bagi santri baru untuk mengenal kehidupan di lingkungan pesantren. Selain sebagai ajang perkenalan, kegiatan tersebut juga menjadi momentum menanamkan nilai kedisiplinan, saling menghargai, dan sopan santun sebagai bekal selama menuntut ilmu.

Kepala SMK Unggulan An-Nawawi Purworejo, Achmad Abdul Fatah, mengajak para santri untuk membangun karakter sejak hari pertama berada di pondok pesantren. Menurutnya, kehidupan di pesantren menjadi tempat yang tepat untuk menanamkan nilai kedisiplinan, rasa hormat, dan sopan santun sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari.

Di pondok pesantren kita akan belajar bersama-sama menjaga kedisiplinan, menghormati yang lebih tua, dan menjaga sopan santun kepada para pengelola serta teman-teman kita, ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Pembina Pondok Pesantren An-Nawawi Mlilir Purworejo, Hj. Ashfa Khoirun Nisa’, menyampaikan bahwa kehidupan di pondok bukan sekadar berpindah tempat tinggal, melainkan proses pembelajaran untuk membentuk karakter dan kemandirian santri.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Pondok pesantren bukan hanya pindah tempat tidur, tetapi mondok adalah latihan hidup, tutur Hj. Ashfa Khoirun Nisa’.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa kehidupan di pondok pesantren memberikan banyak pelajaran yang tidak hanya diperoleh di ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi dan kehidupan sehari-hari.

Kenapa harus mondok? Karena kita belajar banyak hal di pondok pesantren, belajar memahami karakter yang berbeda, belajar sopan santun kepada yang lebih tua, dan menyayangi yang lebih muda, tuturnya.

Selain membangun karakter, para santri juga dibekali pentingnya menjaga adab dalam menjalin hubungan dengan sesama. Pembina Pondok Pesantren An-Nawawi Mlilir Purworejo, Salik Iqtafa, menjelaskan bahwa adab merupakan fondasi utama dalam membangun pertemanan. Menurutnya, hal tersebut telah dijelaskan dalam Kitab Taisirul Kholaq.

Di Kitab Taisīrul Kholāq, Adabul Mu’asyarah itu disebutkan. Salah satu adab bersosial disebutkan yang pertama, Thalāqatul Wajhi, yaitu wajahnya berseri-seri, ungkap Salik Iqtafa.

Beliau kemudian menjelaskan adab berikutnya, yaitu līnul jānibi, yang dimaknai sebagai sikap lemah lembut ketika berinteraksi dengan orang lain.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Yang kedua līnul jānibi, atau lemese lambung (lemah lembut). Ketika kita bersosial itu serileks mungkin, senyaman mungkin, karena biasanya kalau tidak rileks mempunyai gestur yang tidak mengenakan bagi sekitar. Jadi diusahakan ketika bersosialisasi rileks, lanjutnya.

Selain itu, Salik Iqtafa juga mengingatkan pentingnya menghargai lawan bicara dengan mendengarkan pembicaraan hingga selesai sebelum menyampaikan pendapat.

Yang ketiga Ishghā’u Ilā Ḥadītsil ‘Asyīri, dan dengarkanlah omongan teman. Jadi sebelum kalian memulai pembahasan yang baru ataupun berbeda pembahasan, tolong selesaikan, tolong dengarkan pembahasan teman kalian tersebut terlebih dahulu, baru kemudian kalian membahas hal yang lain, pungkasnya.

Sementara itu, Pembina Pondok Pesantren An-Nawawi Mlilir Purworejo, Kiai Muhammad Maulana Alwi, mengajak seluruh santri menjadikan momen Lailatut Ta’aruf sebagai sarana untuk saling mengenal, saling memahami, dan menumbuhkan rasa kekeluargaan di lingkungan pondok pesantren.

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Tentu untuk saling mengetahui, hingga bisa saling mengenal dan akhirnya bisa saling mengerti, memahami bahwa semua yang ada di sini ini ibarat ada di satu rumah, jadi mulai kepala pondok, kepala sekolah, pengelola dibagian apapun, maupun siswa siswi, santri putra putri, disini semua adalah saudara atau keluarga, ada di satu rumah yang sering kita sebut keluarga An-Nawawi Mlilir atau Kanamli, Kanamli kalau dibahasa arab itu Naml itu semut jadi seperti semut, semut itu kalo ketemu saling menyapa, kalau ada yg kerepotan saling membantu. tutur Kiai Muhammad Maulana Alwi.

Mengakhiri rangkaian kegiatan Lailatut Ta’aruf, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Mlilir Purworejo, Kiai Achmad Chalwani, menyampaikan pesan kepada seluruh santri agar senantiasa bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Beliau menjelaskan bahwa kehidupan di pondok pesantren merupakan kesempatan terbaik untuk memperdalam ilmu agama sekaligus membentuk akhlak melalui berbagai aktivitas dan riyadhoh yang dijalankan sehari-hari.

Selanjutnya, beliau mengutip hadis Rasulullah saw.:

مَنْ يُرِدِ اللّٰهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memberinya pemahaman yang mendalam tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kiai Achmad Chalwani mengajak seluruh santri untuk mensyukuri kesempatan yang telah Allah Swt. berikan sehingga dapat menempuh pendidikan di pondok pesantren dan memperdalam ilmu agama.

Maka kamu harus bersyukur kepada Allah, ke pesantren, untuk ngaji, memperdalam agama. Kamu oleh Allah ditakdirkan jadi orang yang baik, harus bersyukur. Pesan Kiai Chalwani

Rangkaian kegiatan Lailatut Ta’aruf ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Mlilir Purworejo, Kiai Achmad Chalwani.

Kegiatan Lailatut Ta’aruf diharapkan menjadi langkah awal bagi para santri baru untuk beradaptasi dengan kehidupan di pondok pesantren sekaligus menumbuhkan karakter yang disiplin, menjunjung tinggi sikap saling menghargai, menjaga sopan santun, serta memiliki semangat yang kuat dalam menuntut ilmu dan mengamalkan nilai-nilai keislaman.

by : Pena Hidayah, S.Pd.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *