Setiap bulan Agustus, Indonesia seperti memiliki ritual yang sama, seperti halnya bendera merah putih dikibarkan, lagu perjuangan diperdengarkan, dan kampung-kampung berubah menjadi arena perlombaan. Anak-anak berlari dengan karung, orang dewasa menarik tambang, kerupuk digantung setinggi kepala, sementara sebatang pinang dilumuri oli dan dipanjat beramai-ramai. Ya, moment itu pasti akan membuat Kita tertawa. Kita bersorak. Kita berebut hadiah.
Tetapi pernahkah kita bertanya: demikian “mengapa permainan-permainan itu yang kemudian menjadi bagian dari cara bangsa ini merayakan kemerdekaan?”
Jawabannya ternyata tidak sesederhana “itu hanya tradisi turun-temurun” . Sebagian permainan memiliki jejak sejarah yang panjang. Bahkan ada yang lahir dari situasi kolonial, kemiskinan, krisis pangan, dan kehidupan rakyat yang jauh dari kata merdeka.
Namun justru di situlah menariknya sejarah Indonesia. Sebuah permainan yang dahulu menjadi tontonan kolonial dapat direbut maknanya oleh rakyat dan diubah menjadi pesta kemerdekaan.
Panjat Pinang: Dari Tontonan Kolonial Menjadi Gotong Royong
Panjat pinang mungkin merupakan contoh paling jelas.
Dalam buku Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal, sejarawan Fandy Hutari mencatat bahwa sekitar 1930-an panjat pinang dikenal dalam lingkungan kolonial sebagai de klimmast. Permainan ini digelar dalam berbagai hajatan orang Belanda. Hadiah seperti gula, tepung, roti, keju, pakaian, hingga bahan makanan lain diletakkan di puncak tiang yang dilumuri minyak atau gemuk.
Pesertanya lazimnya orang pribumi, sedangkan orang Belanda menonton dari bawah.
Pada titik ini, panjat pinang menyimpan ironi yang cukup pahit.
Yang satu berada di atas. Yang lain bersusah payah untuk mendapat makanan. Yang satu menonton. Yang lain dipertontonkan.
Akan tetapi sejarah tidak berhenti di sana.
Setelah Indonesia merdeka, permainan itu tidak serta-merta dibuang. Ia justru mengalami perubahan makna. Tiang licin yang dahulu menjadi arena tontonan berubah menjadi medan perjuangan. Hadiah di atas tidak lagi menjadi simbol kemewahan yang dipertontonkan penjajah, tetapi menjadi tujuan yang harus dicapai bersama.
Orang yang berada di bawah menopang yang di atas. Yang hampir jatuh ditahan. Yang sampai puncak bukan hanya membawa hadiah untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seluruh kelompok.
Di sinilah kolonialisme kehilangan satu hal yang sering dianggap paling penting: hak untuk menentukan makna.
Bangsa Indonesia mengambil kembali permainan itu dan memberinya arti baru: gotong royong.
Balap Karung: Ketika Benda Kemiskinan Menjadi Permainan
Balap karung juga memiliki cerita yang tidak kalah menarik.
Ada narasi populer yang mengaitkannya dengan kehidupan rakyat miskin pada masa kolonial. Karung goni menjadi benda yang dekat dengan kehidupan masyarakat bawah dan dalam kondisi tertentu digunakan sebagai pakaian karena keterbatasan ekonomi di era penjajahan Jepang. Benda yang pernah lekat dengan keterbatasan rakyat kemudian menjadi bagian dari kegembiraan setelah kemerdekaan.
Dulu karung adalah tanda kekurangan. Hari ini ia menjadi alasan untuk tertawa bersama.
Makan Kerupuk: Mengingat Saat Nasi Saja Sudah Cukup
Lomba makan kerupuk memiliki jejak yang relatif lebih jelas.
Sejarawan kuliner Fadly Rahman menjelaskan bahwa pada masa krisis 1930-an hingga 1940-an, kerupuk merupakan makanan yang dekat dengan masyarakat bawah. Ketika kondisi ekonomi dan pangan sulit, nasi dan kerupuk dapat menjadi makanan sederhana untuk bertahan hidup. Ketika situasi politik mulai lebih stabil pada 1950-an, berbagai perlombaan mulai muncul dalam perayaan kemerdekaan, termasuk makan kerupuk.
Maka kerupuk yang digantung di depan wajah anak-anak hari ini sebenarnya menyimpan memori tentang masa ketika rakyat tidak memiliki banyak pilihan makanan.
Lomba itu kemudian menjadi semacam ingatan yang dibuat menyenangkan.
Kita tertawa karena peserta kesulitan menggigit kerupuk tanpa tangan. Tetapi di balik tawa itu ada cerita tentang generasi yang pernah hidup dalam kekurangan.
Kemerdekaan, dengan demikian, tidak hanya dirayakan dengan pidato tentang perjuangan.
Ia juga dirayakan dengan mengingat bagaimana rakyat bertahan hidup.
Mengapa Banyak Lomba Baru Ramai Setelah 1950-an?
Ada satu hal menarik dari sejarah ini. Berbagai perlombaan kemerdekaan yang sekarang dianggap sebagai tradisi lama justru berkembang luas setelah situasi Indonesia mulai lebih stabil pada 1950-an.
Ini masuk akal.
Pada 1945, kemerdekaan baru diproklamasikan. Setelah itu Indonesia masih harus menghadapi revolusi, agresi militer Belanda, konflik politik, dan berbagai persoalan mempertahankan negara. Rakyat belum memiliki banyak kesempatan untuk berpesta.
Ketika situasi mulai lebih kondusif, kemerdekaan kemudian dirayakan bukan hanya melalui upacara resmi, tetapi melalui pesta rakyat.
Sejarawan Fadly Rahman bahkan menyebut bahwa Soekarno mendukung berbagai hiburan rakyat dalam perayaan kemerdekaan. Perlombaan menjadi bagian dari cara masyarakat merasakan kemerdekaan dalam bentuk yang sederhana dan dekat dengan kehidupan mereka.
Jadi, 17 Agustus pada akhirnya tidak hanya menjadi milik gedung pemerintahan.
Ia turun ke jalan.
Masuk ke gang-gang.
Masuk ke halaman rumah.
Dan menjadi milik semua orang.
Dari Sejarah Menjadi Filosofi
Kalau diperhatikan, hampir semua permainan tersebut memiliki pola yang menarik.
Panjat pinang membutuhkan kerja sama.
Tarik tambang membutuhkan kekuatan kolektif.
Makan kerupuk membutuhkan ketekunan.
Bahkan permainan yang tampaknya paling sederhana pun menyimpan pesan bahwa kemerdekaan tidak pernah dicapai sendirian.
Dalam kajian tentang permainan rakyat, hal semacam ini dapat dibaca sebagai bentuk play atau permainan yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan nilai sosial. Permainan mempertemukan orang dalam aturan yang sama. Ada kalah dan menang, tetapi keduanya tetap pulang sebagai bagian dari komunitas.
Karena itu, menarik jika kita membaca tradisi Agustusan melalui gagasan Johan Huizinga dalam Homo Ludens. Huizinga melihat permainan sebagai bagian penting dari kebudayaan manusia. Manusia bukan hanya homo sapiens yang berpikir, tetapi juga manusia yang bermain dan membangun kebudayaan melalui permainan.
Dalam konteks Indonesia, permainan 17 Agustus kemudian menjadi semacam teater kecil tentang kehidupan bangsa.
Ada yang jatuh.
Ada yang kalah.
Ada yang tertawa.
Ada yang menang.
Tetapi semuanya berlangsung dalam satu ruang yang sama. Tradisi Tidak Harus Membuat Kita Berhenti di Masa Lalu
Mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi apakah panjat pinang memiliki masa lalu kolonial atau apakah balap karung benar-benar berasal dari Romusha.
Pertanyaan yang lebih penting adalah “Apa yang kita lakukan terhadap warisan itu hari ini?” .
Sebuah tradisi tidak selalu harus dipertahankan dalam makna lamanya. Masyarakat dapat mengambil, mengubah, bahkan membalikkan makna sebuah kebudayaan.
Panjat pinang pernah menjadi hiburan dalam masyarakat kolonial. Hari ini ia menjadi salah satu simbol gotong royong dalam perayaan kemerdekaan. Sejarahnya tidak perlu dihapus agar kita bisa menikmatinya.
Justru dengan mengetahui sejarahnya, kita dapat tertawa dengan kesadaran yang lebih dalam.
Sebab mungkin itulah salah satu kemampuan bangsa yang pernah dijajah, yakni dengan mengubah luka menjadi ingatan, mengubah ingatan menjadi kebudayaan, dan mengubah kebudayaan menjadi cara untuk merayakan kebebasan.
Maka ketika malam 17 Agustus nanti suara sorak terdengar dari lapangan kampung, jangan hanya melihatnya sebagai anak-anak yang sedang bermain.
Lihatlah panjat pinang sebagai cerita tentang kerja bersama.
Lihatlah kerupuk sebagai ingatan tentang rakyat yang pernah bertahan dalam kekurangan.
Referensi:
Fandy Hutari, Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal
Gilar Gandana dkk., Permainan Kerupukan (2022),
Johan Huizinga, Homo Ludens
Fadly Rahman, Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia

Comment
[6459]gbaje login করুন | বিকাশ পেমেন্টে সেরা স্লট গেম সাইট,gbaje login করুন এবং বিকাশ দিয়ে অনলাইন ক্যাসিনো গেম উপভোগ করুন। সহজে gbaje app download করে আকর্ষণীয় অনলাইন ক্যাসিনো বোনাস নিয়ম জেনে নিন। visit: gbaje