Magelang — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Butuh Kelompok 11 Institut Agama Islam (IAI) An-Nawawi Purworejo mengembangkan rocket stove modifikasi sebagai alternatif pengelolaan sampah residu kering di Dusun Seketi, Desa Butuh, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.
Alat tersebut dikembangkan untuk mendukung sistem pemilahan sampah yang telah dilakukan masyarakat. Rocket stovedigunakan untuk menangani sampah residu kering yang sudah dipilah dan tidak memiliki nilai jual atau tidak dapat didaur ulang.
Pengembangan alat dilakukan setelah mahasiswa menemukan adanya keterbatasan fasilitas pengolahan sampah di Dusun Seketi. Sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali sebelumnya masih dibakar secara terbuka atau menumpuk sebelum mendapatkan penanganan.
Remaja Dusun Seketi, Azkaulia, mengatakan keterbatasan fasilitas menjadi salah satu kendala dalam menangani sampah residu di wilayah tersebut.
Fasilitas pembakaran di wilayah kami masih terbatas. Kapasitasnya juga tidak terlalu besar sehingga sampah dari warga terkadang menumpuk karena tidak dapat langsung ditangani dalam satu proses, ujar Azkaulia.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN Kelompok 11 melakukan modifikasi terhadap konsep rocket stove. Proses pengembangan meliputi perancangan, persiapan bahan, pembuatan tungku, modifikasi ruang pembakaran, uji coba, serta evaluasi penggunaan alat.
Ketua KKN Desa Butuh, Hanif Fauzan, mengatakan pengembangan alat tersebut dilakukan sebagai salah satu alternatif untuk menangani sampah residu yang tidak dapat didaur ulang.
Kami melihat masih ada kendala dalam pengelolaan sampah di Dusun Seketi, terutama sampah kering yang sudah tidak bisa dijual atau didaur ulang. Karena fasilitas pengolahan yang tersedia masih terbatas, kami mencoba membuat rocket stove yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, kata Hanif.
Pembuatan rocket stove modifikasi berlangsung selama tiga hari, mulai 20 hingga 22 Agustus 2026. Mahasiswa menyiapkan bahan dan melakukan perakitan bersama tukang bangunan. Dalam proses tersebut dilakukan penyesuaian pada ruang pembakaran dan jalur sirkulasi udara sesuai rancangan yang dibuat.
Setelah proses perakitan selesai, alat diuji dan mulai digunakan pada 22 Agustus 2026. Mahasiswa juga memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai penggunaan alat dan jenis sampah yang dapat dimasukkan ke dalam tungku.
Rocket stove tersebut diperuntukkan bagi sampah residu kering yang telah dipilah, seperti ranting dan daun kering. Sampah yang masih memiliki nilai jual atau dapat didaur ulang tetap dipisahkan dan tidak dimasukkan ke dalam tungku.
Konsep rocket stove memanfaatkan aliran udara dan ruang pembakaran untuk mendukung proses pembakaran. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa melakukan modifikasi pada bagian tungku agar sesuai dengan kebutuhan penggunaan di Dusun Seketi.
Namun, penggunaan alat tetap bergantung pada jenis dan kondisi sampah yang akan ditangani. Pemilahan tetap menjadi tahapan utama agar sampah yang masih dapat dimanfaatkan atau didaur ulang tidak ikut dibakar.
Kepala Dusun Seketi, Tatak Agusari, mengatakan keberadaan alat tersebut memberikan alternatif bagi masyarakat dalam menangani sampah residu yang sulit dimanfaatkan kembali.
Menurut saya, alat ini cukup membantu untuk sampah kering yang sudah tidak bisa dijual atau digunakan lagi. Sebelumnya sampah biasanya dibakar secara terbuka. Dengan adanya rocket stove, warga memiliki alternatif tempat untuk menangani sampah residu. Harapannya alat ini dapat digunakan dan dirawat bersama, ujar Tatak.
Dalam praktik penggunaannya, mahasiswa KKN juga mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah. Sampah yang masih dapat dimanfaatkan tetap diarahkan untuk dikelola melalui sistem pemilahan, sedangkan rocket stove digunakan hanya untuk residu yang sesuai dengan peruntukannya.
Hanif mengatakan keberlanjutan penggunaan dan perawatan alat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan setelah program KKN selesai.
Harapannya, alat ini dapat digunakan untuk membantu menangani sampah residu yang sesuai dan dirawat bersama oleh masyarakat setelah kegiatan KKN selesai, ujarnya.
Pengembangan rocket stove modifikasi tersebut menjadi salah satu program KKN Kelompok 11 Desa Butuh dalam bidang pengelolaan lingkungan. Program ini menggabungkan kegiatan pemilahan sampah dengan penyediaan alternatif penanganan terhadap residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali.

Comment