Lubuk Linggau — Pengabdian di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) tidak selalu dimulai dari ruang kelas atau mimbar dakwah. Bagi Ridho Sholahudin dan Muhammad Riski Assaifi, pengabdian justru diawali dengan perjalanan panjang meninggalkan tanah kelahiran menuju Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.
Keduanya merupakan peserta program Dai Penggerak 3T yang diutus oleh NU Online Institute untuk menjalankan tugas pengabdian sejak akhir Agustus 2026. Berangkat dari lingkungan pesantren di Jawa, Ridho dan Riski menempuh perjalanan darat menuju wilayah penugasan dengan membawa bekal ilmu, semangat belajar, serta tekad untuk mengabdi di tengah masyarakat.
Bagi Ridho, perjalanan tersebut menjadi pengalaman yang berbeda dari perjalanan sebelumnya. Santri Pondok Pesantren Darussalam Kalibakung, Tegal, itu untuk pertama kalinya meninggalkan Pulau Jawa dalam perjalanan jarak jauh.
Untuk saya pribadi, ini pengalaman pertama kali saya keluar dari zona nyaman, yakni Jawa. Selama ini dari kecil sampai sekarang saya hanya pergi atau berkeliling masih di Pulau Jawa, ujar Ridho kepada NU Online, Sabtu 19 September 2026.
Perjalanan Panjang Menuju Medan Pengabdian
Perjalanan menuju Sumatra dilakukan menggunakan bus dan dilanjutkan dengan penyeberangan melalui Selat Sunda. Perjalanan yang pada awalnya diperkirakan berlangsung sekitar satu hari satu malam harus ditempuh lebih lama karena sejumlah kendala di perjalanan.
Kemacetan serta antrean pengisian bahan bakar menjadi salah satu faktor yang membuat perjalanan berlangsung lebih panjang. Ridho menyebut, rombongan bahkan sempat menghadapi antrean pengisian bahan bakar selama sekitar lima jam.
Berdasarkan pengalaman Ridho, perjalanan tersebut akhirnya berlangsung sekitar dua hari dua malam. Sementara dalam catatan perjalanan Riski, rombongan menempuh perjalanan hingga tiga hari dua malam.
Bagi Riski, perjalanan tersebut bukan sekadar proses berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Berbagai situasi yang ditemui selama perjalanan menjadi bagian dari proses mempersiapkan diri sebelum memasuki medan pengabdian.
Perjalanan darat tidak pernah sekadar tentang perpindahan dari satu titik ke titik lain, ia adalah kawah candradimuka atau tempat penggemblengan diri pribadi, mental, atau pendidikan bagi seorang santri perantauan, ungkap Riski.
Rombongan bahkan sempat tertahan cukup lama di Bandar Lampung. Sekitar enam jam digunakan untuk mengantre pengisian solar di salah satu SPBU.
Bagi kedua dai tersebut, keterlambatan perjalanan, rasa lelah, serta ketidakpastian selama perjalanan menjadi pengalaman awal sebelum mereka berhadapan langsung dengan kondisi masyarakat dan pesantren tempat menjalankan tugas.
Disambut Hangat di Pesantren
Setelah perjalanan panjang, Ridho dan Riski akhirnya tiba di lokasi pengabdian. Kedatangan keduanya disambut oleh pengasuh pondok pesantren, KH Ahmadi Syam.
Penyambutan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan taaruf atau perkenalan bersama lingkungan pesantren. Puluhan santri turut menyambut kedatangan keduanya melalui lantunan rebana dari Pondok Pesantren Raudlatul Ulum.
Bagi Ridho, sambutan tersebut menjadi energi tersendiri setelah menempuh perjalanan panjang. Namun, perjumpaan awal dengan lingkungan pesantren juga memperlihatkan bahwa perjalanan pengabdian yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Pesantren tempat keduanya bertugas berada cukup jauh dari permukiman masyarakat. Lembaga pendidikan tersebut juga masih tergolong baru, yakni sekitar dua tahun berdiri, sehingga sejumlah fasilitas masih dalam tahap pengembangan.
Dari papan nama pesantren, perjalanan menuju lokasi masih harus dilanjutkan sekitar dua kilometer. Sebagian akses jalan berupa jalan berbatu dan terdapat beberapa bagian yang mengalami kerusakan. Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran medan yang akan dihadapi selama menjalankan pengabdian.
Keterbatasan Air Menjadi Tantangan Awal
Selain akses menuju pesantren, ketersediaan air bersih menjadi salah satu persoalan yang langsung ditemui keduanya. Kondisi tersebut berkaitan dengan musim kemarau yang berlangsung di wilayah tersebut dan berdampak terhadap sumber air.
Bagi lingkungan pesantren yang dihuni para santri, air merupakan kebutuhan mendasar untuk menunjang berbagai aktivitas sehari-hari. Karena itu, persoalan ketersediaan air menjadi salah satu tantangan yang perlu dihadapi bersama selama masa pengabdian.
Kondisi tersebut membuat tugas Ridho dan Riski tidak berhenti pada aktivitas mengajar atau menyampaikan dakwah. Kehadiran mereka juga menjadi bagian dari proses membangun lingkungan pendidikan dan berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar.
Perjalanan panjang dari Tegal menuju Lubuk Linggau akhirnya menjadi bagian pertama dari rangkaian pengabdian keduanya. Jarak yang jauh, perjalanan yang melelahkan, keterbatasan fasilitas, hingga kondisi lingkungan pesantren menjadi pengalaman awal dalam menjalankan amanah sebagai Dai Penggerak 3T.
Program Dai Penggerak 3T sendiri merupakan bagian dari ikhtiar NU dalam menghadirkan dai di berbagai wilayah Indonesia, khususnya daerah yang membutuhkan penguatan pendidikan dan dakwah. NU Online mencatat program tersebut sebagai salah satu bentuk khidmat jamiyah Nahdlatul Ulama dalam menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah hingga ke berbagai wilayah Nusantara.
Bagi Ridho dan Riski, perjalanan menuju Lubuk Linggau bukan sekadar perjalanan menuju tempat tugas. Perjalanan tersebut menjadi pintu awal untuk belajar memahami kondisi masyarakat, beradaptasi dengan keterbatasan, sekaligus menjalankan amanah pengabdian di tengah lingkungan pesantren.

Comment