Purworejo, annawawiberjan.id – Sabtu (15/2/2025) Haul adalah peringatan atas wafatnya seseorang yang biasanya diadakan selama setahun sekali dengan tujuan utamanya yaitu untuk mendoakan ahli kubur agar semua amal beserta ibadah yang dilakukannya dapat diterima oleh Allah SWT. Biasanya, para keluarga yang masih kerabat dekat dengan seseorang yang telah wafat tersebut akan mengadakan acara haul pada hari serta tanggal yang telah disepakati bersama oleh keluarganya, dan pada saat mereka mempunyai waktu senggang serta bisa berkumpul bersama.
Haul yang diadakan di pesantren-pesantren akan diperingati untuk para pendiri serta tokoh-tokoh yang telah berjasa terhadap perkembangan pesantren serta syi’ar Islam yang diadakan bersamaan dengan acara tahunan pesantren, semisal khataman kitab akhir tahun, pertemuan wali santri, ataupun dzikir akbar tahunan.[1]
Acara Haul KH. Zarkasyi ke-112, KH. Shiddieq ke-77, KH. Nawawi ke-44, Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo dilaksanakan setiap tanggal 16 Sya’ban di setiap tahunnya dan pada tahun ini bertepatan dengan hari sabtu tanggal 15 Februari 2025. Sebagai awal dari rangkaian acara haul, Pondok Pesantren An-Nawawi mengadakan Khitanan Massal pada tanggal 13 Februari 2025, acara ini diikuti oleh 20 anak dari masyarakat sekitar yang bertempat di Klinik Pratama An-Nawawi, rangkaian acaranya dimulai dari sambutan kepala Pondok Pesantren An-Nawawi Bp. M. Ato Ibnu Ribah, S.H., kemudian dilanjut dari Kepala Klinik Pratama An-Nawawi Bp. dr. Ahmad Irfan, dan diakhiri oleh Keluarga Pengasuh yang disampaikan oleh Bp. KH. R. M. Maulana Alwi sekaligus pemotongan tumpeng dan doa

Kemudian puncak acara Haul Pondok Pesantren An-Nawawi berlangsung pada tanggal 15 Februari 2025, bertempat di gedung pendidikan An-Nawawi dan dihadiri oleh Ikhwan Thoriqoh dan Jama’ah umum yang berjumlah ribuan orang. Acara ini dimulai dengan Khataman Kuwajikan yang dipimpin oleh Dzuriyyah Pengasuh, Bp. Ky. Nanang Fakhrrurozi, kemudian dilanjut Mujahadah Tahlil yang dipimpin oleh Bp. KH. Nasrul Arif Pengasuh PP. API ASRI Tegalrejo, Magelang, lalu dilanjut sambutan Ikhwan Thoriqoh Bp. KH. Ahmad Abdul Wahab Ma’ruf Nursalim, S.H.I. Pengasuh PP. Nahdlotut Tholibin Tanjungsari, Rembang, beliau menyampaikan beberapa hal diantaranya doa kesehatan dan keselamatan terhadap Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi, beliau juga menyampaikan ada 3 tahap Ikhwan Thoriqoh untuk mencapai ma’rifat billah yaitu Ta’alum, Taqolub dan Tahaquq. selanjutnya sambutan Dzuriyyah yang disampaikan oleh Bp. KH. Achmad I’zzuddin, Lc., M.S.I., Ketua Yayasan Syubbanul Wathon Tegalrejo, Magelang, Beliau Mewakili Dzuriyyah pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi menyampaikan terimakasih Jazākumullāh Achsanal Jaza’ atas kehadiran Jama’ah dan mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan dan kesalahan., dan yang terakhir sambutan dari Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, KH. Achmad Chalwani, Beliau Menyampaikan sejarah awal mula berdirinya Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo yang diawali dengan pembangunan mushola di dusun gintungan oleh KH. Zarkasyi daerah tersebut dinamai Dusun Berjan, kata Berjan singkatan dari Sumber Kabejan. Kemudian beliau menyampaikan Dalam sebuah Hadits, Nabi bersabda:
لَا تَجْتَمِعُ أُمَّتِي عَلَى الضَّلَالَةِ
Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan
Yang dimaksud umat dalam hadits tersebut adalah ulamāi ummati, kesepakatannya ulama umatnya nabi. Jadi, yang dijamin kebenarannya adalah konsensus (ijma’, kesepakatan) ulama Islam, bukan kesepakatan umat Islam. Beliau juga menyampaikan pentingnya selektif dalam memilih pondok pesantren, beliau menegaskan pilihlah pondok pesantren yang berhaluan ahlu sunnah wal jama’ah, selain itu beliau juga menyampaikan pentingnya untuk mengikuti dan yakin terhadap Thoriqoh.

Kemudian puncak acara Haul diisi dengan Mau’idhoh Hasanahyang disampaikan oleh Bp. KH. Dzikron Abdullah Pengasuh PP. Addainuriyah 2 Semarang & Rois Mustafad Idaroh Aliyah Jatman. Beliau menyampaikan beberapa cerita terkait KH. Zarkasyi diantaranya Mbah Zarkasyi itu termasuk ulama keramat, salah satu ceritanya yaitu ketika suatu hari di ladang, beliau mbah Mail melihat celeng (Babi) 3 ekor. Beliau Mbah Mail mengajak berbicara dengan babi tersebut
“Assalamu’alaikum… Koe ojo ganggu aku yo, aku arep tahlil nggo mbah zarkasyi, nk iso koe do melu”. (kamu jangan ganggu saya ya, saya mau mujahadah tahlil untuk mbah Zarkasyi, kalau bisa kamu juga ikut).
Setelah beberapa saat, akhirnya 3 ekor celeng itu langsung pergi.
Beliau juga berpesan bahwa murid harus ikut gurunya didalam segala urusan. Ngalor yo ngalor, ngidul yo ngidul, (utara ya ke utara, selatan ya ke selatan). Hal ini bisa kita maknai bahwa apapun yang disampaikan oleh guru kita harus kita jalankan dan ikuti. Hal ini diperjelas beliau dengan menceritakan KH. Zarkasyi dulu saat masih nyantri pada mbah Sholeh Darat dan seangkatan dengan Mbah Hasyim Asy’ari serta kakeknya KH. Dzikron Abdullah di Semarang. Pada saat itu mbah Zarkasyi diaturi boto, tapi mbah kulo diaturi mejo nggo mulang (mbah Zarkasyi diberi batu bata akan tetapi kakek saya diberi meja untuk mengajar) Ungkap beliau. Dari cerita ini bisa kita pahami bahwa KH. Sholeh Darat sudah memberi pesan kepada mbah Zarkasyi bahwa nantinya akan menjadi pendiri pesantren yang saat ini kita kenal sebagai Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo dengan isyarat batu bata tersebut.
Dilanjutkan Mau’idhoh Hasanahyang kedua disampaikan oleh Bp. Dr. KH. Zulfa Musthofa, Wakil Ketua Umum PBNU. Beliau menyampaikan pentingnya seorang mursyid terhadap muridnya dalam sebulah maqolah:
مَنْزِلَةُ الْمُرْشِدِ الْكَامِلِ مُكَمِّلٌ فِي الْأَدْيَانِ بِالْمَنْزِلَةِ طَبِيبِي فِي الْأَضْحَى يَنْظُرُ كُلَّ حَالَةٍ حَلَه
Artinya: “Posisi seorang mursid yang sempurna adalah seperti posisi seorang dokter dalam menyembuhkan penyakit, yaitu menyembuhkan penyakit spiritual umat.”
Beliau menjelaskan bahwa seorang mursyid dalam memberikan amalan terhadap muridnya itu sesuai dengan tingkatannya, maka terkadang ada seorang mursyid yang hanya memberikan amalan thoriqoh kepada muridnya hanya dengan lafadz لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ saja.
Kemudian acara Haul diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Asy-Syaikh As-Sayyid Doktor Ammar Azmi Ar-Rafati Al-Jailani Al-Hasani Al Husaini, Imam Agung Masjidil Aqsha Palestina & Pengurus Mustafad Idaroh Aliyah Jatman.

[1] https://jateng.nu.or.id/opini/makna-nyekar-dan-tradisi-haul-LXXlJ

Comments
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks!
Thank you for your sharing. I am worried that I lack creative ideas. It is your article that makes me full of hope. Thank you. But, I have a question, can you help me?