Home / Berita / Santri An-Nawawi Berjan Perkuat Pemikiran Kritis Lewat Seminar Penataran Keroisan
Artikel Berita

Santri An-Nawawi Berjan Perkuat Pemikiran Kritis Lewat Seminar Penataran Keroisan

Purworejo, annawawiberjan.id – (7/8/2025) — Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat tradisi keilmuan di kalangan santri dengan menggelar Seminar Penataran Keroisan pada kamis malam di aula pondok pesantren putra.

Acara yang diinisiasi oleh Majelis Musyawarah Madrasah An-Nawawi (M3AN) ini diikuti oleh santri dari berbagai jenjang, mulai dari kelas IX MTs hingga kelas XII MA, serta santri Diniyyah dari kelas I Madin hingga kelas III MDR.

Seminar ini menghadirkan narasumber utama Kiai Ahmad Muntaha A.M., seorang tokoh yang dikenal luas dengan pemikiran tajam dalam bidang musyawarah dan Bahtsul Masa’il. Beliau menempuh pendidikan di sejumlah pesantren ternama, seperti Pondok Pesantren Imadut Thulabah Nepak Magelang, Nurul Hidayah Purworejo, hingga Lirboyo Kediri. Pendidikan formalnya di UIN Sunan Ampel Surabaya turut memperkaya wawasannya dalam kajian keislaman dan sosial-keagamaan. Saat ini, Kiai Ahmad Muntaha menjabat sebagai Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PWNU Jawa Tengah sekaligus Redaktur Keislaman NU Online.

Acara yang dipandu oleh Rohmadi Bayu Pramono ini mengangkat tema “Berdiskusi sebagai Upaya Santri Menjaga Kesehatan Berpikir dalam Menghadapi Tantangan Zaman.” Melalui tema tersebut, seminar bertujuan menanamkan budaya berpikir kritis di kalangan santri sekaligus menegaskan pentingnya musyawarah sebagai sarana menjaga kejernihan nalar di tengah derasnya arus informasi dan tantangan global.

Dalam paparannya, Kiai Ahmad Muntaha menegaskan bahwa santri masa kini tidak hanya dituntut menguasai kitab, tetapi juga harus mampu menjadi jembatan antara teks dan konteks. Karena itu, forum seperti Penataran Keroisan dianggap penting untuk membekali santri dengan metodologi, wawasan fiqh, serta adab dalam berdebat sebelum terjun dalam forum Bahtsul Masa’il.

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tapi kerangka berpikir ilmiah santri harus tetap teguh. Dari situlah kita bisa memilah mana yang maslahat dan mana yang mudarat. Tegasnya.

Antusiasme santri dalam mengikuti seminar ini terlihat dari semangat berdiskusi dan berdialog yang mereka tunjukkan sepanjang kegiatan. Hal ini mencerminkan tekad kuat untuk terus belajar, berpikir kritis, dan menghadapi tantangan zaman dengan bekal tradisi keilmuan pesantren.

Majelis Musyawarah Madrasah An-Nawawi (M3AN) berharap kegiatan ini menjadi titik tolak dalam menghidupkan budaya diskusi ilmiah di pesantren serta melahirkan kader ulama muda yang cerdas, kritis, dan bijaksana. Seminar ini tidak hanya berfungsi sebagai pembekalan materi, melainkan juga bagian dari proses kaderisasi ilmuwan pesantren masa depan yang siap membawa solusi bagi umat di tengah dinamika zaman.

Pengurus Majelis Musyawarah Madrasah An-Nawawi (M3AN)

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *