Tanggal 20 Agustus 2025 M. menjadi hari Rabu terakhir di bulan Shafar 1447 H. atau dikenal dengan istilah Rebo Wekasan. Sebagian orang meyakini bahwa hari tersebut merupakan waktu turunnya bala bencana. Menurut sebagian Ulama` Min Ahlil Kasyfi menyebut Rebo Wekasan itu waktu kali pertama turunnya tiga ratus ribu macam bencana ke bumi.
Hal itu didasarkan pandangan para wali Allah yang kasyaf sebagaimana termaktub dalam kitab Kanzun Najah was-Surur fi Fadhail Al-Azminah wash-Syuhur.
Penafsiran serupa juga termaktub dalam kitab Faydhul Qadir. Di dalam kitab itu, dikutip hadits Rasulullah SAW yang menyebut Rabu terakhir setiap bulan merupakan hari sial terus menerus.
Meskipun demikian, hadits itu bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim,
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ
“Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Shafar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa.”1
Selaras, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Miftachul Akhyar juga menyampaikan bahwa hari nahas terus-menerus yang dimaksud adalah bagi mereka yang meyakininya. Sementara orang-orang yang beriman meyakini bahwa setiap waktu, hari, bulan, tahun ada manfaat dan ada mafsadah, ada guna dan ada madharatnya.
Hari bisa bermanfaat bagi seseorang, tetapi juga bisa juga nahas bagi orang lain. Artinya hadits ini jangan dianggap sebagai suatu pedoman, bahwa setiap Rabu akhir bulan adalah hari nahas yang harus kita hindari. Karena ternyata pada hari itu, ada yang beruntung, ada juga yang buntung. Tinggal kita berikhtiar meyakini, bahwa semua itu adalah anugerah Allah. Kata Kiai Miftach.2
Sementara itu, Ustadz Tris Wijaya, menyatakan bahwa Rebo Wekasan adalah cerminan sosial budaya yang berkaitan dengan agama, sosial, dan budaya. Di dalam masyarakat Islam Jawa, umpamanya, pada hari itu dilakukan ritual sembahyang, doa bersama, silaturahmi, hingga bersedekah.
Dari rangkaian kegiatan itu semua mengarah pada satu makna yang berfungsi sebagai tolak bala (menangkal marabahaya). Jelasnya dalam artikel Tentang Tradisi Rebo Wekasan.
Lalu secara teologis, lanjut Tris, praktik semacam itu merupakan bentuk sublimasi ajaran Islam tentang pentingnya memohon dan berterima kasih.
Dalam konteks Rebo Wekasan ini, termasuk (ritual keagamaan) adalah upaya permohonan selamat dari berbagai macam jenis bahaya yang diyakini akan datang. Sambungnya.
Rabu hari untung Sementara itu, Ustadz Abdul Wahab Ahmad menjelaskan bahwa keyakinan Rabu terakhir sebagai hari bala justru membuka pintu bala itu sendiri. Pasalnya, Allah swt menyesuaikan rahmat atas seorang hamba sesuai dengan prasangkanya. Disebutkan dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan secara muttafaq alaih berikut.
Aku (Allah) sesuai persangkaan hambaku tentang diriku. Tulis Ustadz Wahab mengutip hadits tersebut dalam artikelnya di NU Online berjudul Rebo Wekasan Hari Untung Bukan Buntung.
Lebih dari itu, justru hari Rabu diyakini sebagai hari berkah karena ada riwayat bahwa Allah Swt menciptakan cahaya pada hari tersebut. Selain itu, ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa doa-doa Nabi Muhammad ﷺ dikabulkan pada hari Rabu, sehingga Sahabat Jabir bin Abdullah memanjatkan doa pada hari Rabu antara waktu Zuhur dan Ashar, karena waktu tersebut diyakini mustajab
Tidak hanya itu, ada tokoh sufi yang juga mengatakan, bahwa apapun yang dimulai pada hari Rabu akan sempurna. Hal itu disampaikan Imam al-Hafidz as-Sakhawi as-Syafi’i dalam Al-Maqashid al-Hasanah. Karenanya, banyak kiai yang kerap memulai pengajian di hari Rabu guna mengambil keberkahannya.
Adapun amaliyahnya sebagai berikut:3
Shalat sunnah dengan cara:
- Shalat sunnah empat raka’at dengan dua salam.
- Setiap raka’at membaca:
- Surat Al-Fāātihah satu kali
- Surat Al-Kautsar 17 kali
- Surat Al-Ikhlāās lima kali
- Surat Al-Falaq satu kali
- Surat An-Nāās satu kali
- Setelah shalat membaca doa:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . اللَّهُمَّ يَاشَدِيدَ الْقُوَى اِكْفِنِي , يَا شَدِيدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيرُ يَا مَنْ ذَلَّلْتَ بِعِزَّتِكَ جَمِيْعَ خَلْقِكَ اِكْفِنِي شَر َّ جَمِيعِ خَلْقِكَ يَامُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَامُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَامَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ . اللَّهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ اِكْفِنِي شَرَّ هَذَ الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَادَافِعَ الْبَلِيَّاتِ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَحَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ . وَصَلى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ ، آمِينَ يَارَبِّ الْعَالَمِينَ
Adapun rajahnya seperti dibawah ini:


Comment