Home / Artikel / Bahtsul Masail An-Nawawi Berjan: Menyulam Tradisi dalam Denyut Zaman
Artikel

Bahtsul Masail An-Nawawi Berjan: Menyulam Tradisi dalam Denyut Zaman

Di era sekarang, banyak orang mungkin bertanya-tanya apakah tradisi pesantren masih relevan. Namun, Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo membuktikan bahwa tradisi itu justru semakin hidup.

Tradisi keilmuan pesantren selalu punya daya tarik tersendiri. Ia bukan sekadar rutinitas belajar, melainkan sebuah warisan yang terus dijaga agar tetap relevan dengan kehidupan. Salah satu bentuk tradisi itu adalah Bahtsul Masail, forum musyawarah khas pesantren yang hidup di berbagai lembaga, termasuk di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo.

Ruang Diskusi yang Melatih Kritis

Di An-Nawawi Berjan, Bahtsul Masail diadakan oleh Majelis Musyawarah Madrasah An-Nawawi (M3AN). Pesertanya adalah santri putra tingkat senior mulai dari 4 Madin, kelas 1, 2 Robithoh, hingga 3 Ulya. Pada jenjang ini, santri memang dipersiapkan bukan hanya untuk memahami teks keagamaan, tetapi juga untuk mampu mengolahnya secara kritis dan kontekstual.

Forum ini menjadi media latihan penting. Santri belajar menyampaikan pendapat, menimbang perbedaan pandangan ulama, serta membiasakan diri menggunakan dalil dari kitab-kitab turats klasik. Dengan begitu, mereka tidak hanya menghafal teks, tetapi juga membangun sikap ilmiah yang terbuka dan reflektif.

Persoalan yang Dekat dengan Kehidupan Sehari Hari

Dalam pelaksanaan terakhir, masalah yang diangkat adalah penggunaan air limbah. Isu ini sederhana, tetapi relevan dengan kehidupan sehari-hari. Air yang sudah bercampur dengan berbagai unsur sehingga hilang sifat asli seperti warna, bau, dan rasa, menjadi pertanyaan fiqh: apakah masih bisa digunakan untuk bersuci?

BEKAL YANG DIBAWA, DUNIA YANG BELUM DIKENAL

Diskusi berlangsung hangat. Para santri merujuk pada kitab-kitab klasik seperti Al-Majmu’ karya Imam Nawawi, I’anatut Thalibin, Fathul Mu’in, hingga Nihayatul Muhtaj. Perdebatan bukan sekadar soal boleh atau tidak, melainkan bagaimana memahami teks fiqh agar tetap selaras dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

Dari Forum ke Naskah Ilmiah

Salah satu keistimewaan tradisi Bahtsul Masail di An-Nawawi Berjan adalah kelanjutannya. Forum ini tidak berhenti pada perdebatan semata. Hasil diskusi sementara akan dirumuskan oleh Tim Lajnah Bahtsul Masail (LBM) untuk disaring kembali. Tujuannya agar kesimpulan benar-benar kuat, valid, dan sesuai dengan kaidah fiqh.

Lebih jauh lagi, hasil Bahtsul Masail dikumpulkan dalam bentuk buku. Kumpulan keputusan itu menjadi dokumentasi berharga, rujukan akademik bagi santri, sekaligus panduan praktis bagi masyarakat. Dengan cara ini, pesantren menunjukkan perannya sebagai pusat pengetahuan yang hidup dan berdaya guna.

Tradisi yang Tetap Relevan

Ada satu kaidah ushul fiqih yang menyebutkan:

الْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيدِ الْأَصْلَحِ

al-muḥāfaẓah ʿalā al-qadīm aṣ-ṣāliḥ wa al-akhdhū bi-l-jadīd al-aṣlaḥ.

Ribuan Jamaah dan Sang Cicit Hadiri Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

“Berpijak dalam kebagian lama dan bijak dalam merespon kekinian.”

Bahtsul Masail di An-Nawawi Berjan membuktikan bahwa pesantren tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menyesuaikannya dengan tantangan zaman. Kitab-kitab klasik tidak dipandang sebagai teks kaku, melainkan sebagai sumber hikmah yang bisa menjawab persoalan modern.

Dari ruang musyawarah sederhana, lahir solusi yang bernilai ilmiah sekaligus spiritual. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa Islam adalah agama yang selalu hadir memberi jawaban, menebarkan kedamaian, dan menuntun umat dalam setiap zaman.

Pengurus Majelis Musyawarah Madrasah An-Nawawi (M3AN)

M3AN An-Nawawi Gelar Seminar Ke-Rois-an dan Simulasi Bahtsul Masail

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *